(Panjimas.com) – Bulan Rajab tak bisa dipisahkan dengan Isra Mikraj. Peristiwa Isra Mikraj terjadi setelah beliau menempuh waktu sebelas tahun perjalanan dakwah di tengah-tengah masyarakat. Pada tiga tahun pertama kenabian, Rasul saw. membina para sahabat agar memiliki kepribadian islami dan keimanan yang kokoh; agar mampu memikul beban dakwah; juga sanggup mengorbankan apapun untuk menyerukan Islam dan menjadikan Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupan umat manusia.

Tahun-tahun berikutnya, Rasul saw. bersama para sahabat berinteraksi di tengah-tengah masyarakat dengan membawa risalah agung ini, Islam. Pertama: Beliau melakukan pergolakan pemikiran dengan menyerang akidah dan pemikiran rusak seraya menjelaskan kerusakan dan keburukannya. Kemudian beliau menjelaskan akidah Islam yang lurus dan jernih sekaligus manusiawi. Beliau mendorong umat agar hanya mengambil akidah dan pemikiran Islam itu sebagai solusi bagi semua permasalahan kehidupan mereka.

Kedua: Beliau melakukan perjuangan politik dengan menentang segala bentuk penjajahan, kezaliman para penguasa, serta kekufuran sistem mereka. Beliau menyingkap kejahatan, makar dan tipudaya busuk mereka. Beliau menjelaskan kepada umat hakikat para penguasa yang justru mengekploitasi umat demi keuntungan pribadi.

Namun demikian, sebagai konsekuensinya, Rasul saw dan para sahabat dipersekusi. Mereka disiksa, dijemur di bawah terik matahari, dilempari batu dan kotoran ternak. Di antara mereka bahkan ada yang meninggal karena siksaan. Beliau dicap sebagai dukun, orang gila, atau tukang sihir. Risalah Islam pun dicap sebagai syair masa lalu dan jiplakan dari perkataan seorang Nasrani.

Namun demikian, berbagai penderitaan dan siksaan itu dijalani oleh Rasul saw. dan para sahabat dengan penuh kesabaran sebagaimana yang Allah perintahkan:

فَاصْبِرْكَمَاصَبَرَأُولُوالْعَزْمِمِنَالرُّسُلِوَلاَتَسْتَعْجِلْلَهُمْ

“Bersabarlah kamu seperti para rasul yang mempunyai keteguhan hati dan janganlah tergesa-gesa atas mereka”. (QS al-Ahqaf [46]: 35).

Rasul saw dan para sahabat terus melanjutkan perjuangan dengan penuh kesabaran dan keyakinan, bahwa suatu saat pertolongan Allah pasti datang. Beliau tetap istiqamah. Beliau tidak kepincut untuk bersikap pragmatis meskipun penderitaan dan siksaan terus mendera. Bahkan beliau menolak berbagai tawaran Quraisy yang sangat menggiurkan.

Begitu lepas dari pemboikotan, paman Rasul saw, Abu Thalib, meninggal. Dua atau tiga bulan kemudian istri beliau, Khadijah, yang selama ini menjadi penunjang semangat dan dana bagi dakwah beliau, juga wafat. Beliau pun sangat berduka. Di tengah-tengah kedukaan ini, siksaan dan perilaku buruk kaum Quraisy terhadap beliau dan para sahabat justru bertambah ganas.

Setelah itu Rasul saw diperintah oleh Allah SWT untuk menawarkan diri kepada kabilah-kabilah Arab lain. Hal itu beliau awali dengan pergi ke Bani Tsaqif di Thaif. Beliau mendapat jawaban yang buruk. Beliau diusir dan dilempari batu oleh orang awam dan anak-anak Thaif akibat hasutan pemuka mereka. Beliau pun berdarah-darah.

Sepulang dari Thaif, Rasul saw melanjutkan upaya mencari nushrah (pertolongan) dengan mendatangi kabilah-kabilah Arab, yaitu Bani Amir bin Shashaah, Bani Hanifah, Bani Muharib bin Khashafah, Bani Fazarah, Bani Ghassan, Bani Murrah, Bani Sulaim, Bani Abs, Bani Nadhar, Bani al-Baka, Bani Kindah, Bani Kalb, Bani al-Harits bin Kaab, Bani Udzrah, Bani Hadhramah, Bani Syaiban dan Bani Hamdan. Sayang, semuanya menolak seruan beliau.

Semua itu menjadikan Rasul saw merasa sangat sempit. seolah tidak ada harapan keislaman dari Quraisy. Sikap Quraisy malah semakin bengis dan ganas. Kabilah selain Quraisy pun menolak seruan beliau. Mereka hanya menonton apa yang dilakukan Quraisy kepada beliau dan para sahabat.

Dalam kondisi inilah Allah SWT menghendaki untuk meng-Isra Mikraj-kan beliau dalam rangka menunjukkan kepada beliau tanda-tanda kekuasaan-Nya:

سُبْحَانَالَّذِيأَسْرَىبِعَبْدِهِلَيْلاًمِنَالْمَسْجِدِالْحَرَامِإِلَىالْمَسْجِدِاْلأَقْصَىالَّذِيبَارَكْنَاحَوْلَهُلِنُرِيَهُمِنْءَايَاتِنَاإِنَّههُوَالسَّمِيعُالْبَصِيرُ

“Mahasuci Allah Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepada dia sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS al-Isra [17]:1).

Peristiwa Isra Mikraj ini menjadi berita gembira yang membesarkan hati Rasul saw dan kaum Muslim. Di dalamnya, selain diturunkan kewajiban shalat lima waktu, juga sarat dengan isyarat Allah SWT, bahwa tidak lama lagi pertolongan (nushrah)-Nya akan datang. Faktanya, tidak lama setelah itu enam orang penduduk Yatsrib masuk Islam. Mereka lalu mendakwahkan Islam di Madinah. Setahun berikutnya, sejumlah 12 orang Madinah datang dan melaksanakan Baiat Aqabah I. Mereka kembali disertai Mushab bin Umair untuk bersama-sama mereka mendakwahkan Islam di Madinah.

Setahun berikutnya, sebanyak 75 orang dari mereka, sebagai wakil penduduk Madinah, datang berhaji dan melaksanakan Baiat Aqabah II, baiat penyerahan kekuasaan kepada Rasul saw. Tiga bulan kemudian beliau hijrah ke Madinah. Segera setelah itu berdirilah Daulah Islam. Negara Islam ini—yang pasca wafat Nabi saw disebut dengan Khilafah—kemudian terus meluas. Tidak lama kemudian Khilafah—yang dipimpin oleh Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelah mereka—menjadi negara adidaya, yang menebarkan rahmat dan menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia selama tidak kurang dari 13 abad lamanya.

Umat Islam saat ini telah lama mengalami berbagai macam kesulitan, kemunduran dan keterpurukan. Mereka juga diekpsloitasi dan dizalimi. Mereka selalu ditekan dan dijajah. Mereka dituduh sebagai teroris, sumber kerusakan, tidak beradab, barbar, anti kemajuan, dan sebagainya. Para aktivis dakwahnya banyak yang dipersekusi. Mereka diawasi, disiksa secara fisik, dipersempit kehidupannya, dipotong sumber penghidupannya, dipenjarakan, diasingkan, dan lain-lain. Kondisi ini tidak berbeda dengan kondisi Rasul saw. dan para sahabat pada masa lalu.

 

Menghadapi semua itu, tidak lain kita harus meneladani Rasul saw dan para sahabat. yakni tetap sabar dan istiqamah di jalan dakwah. Sikap itulah yang akan mengundang datangnya pertolongan Allah SWT.

Oleh karena itu, kita harus terus menyerukan Islam kepada masyarakat. Kita harus tetap mendorong mereka menerapkan syarah Islam secara kâffah untuk mengatur kehidupan. Kita harus tetap berpegang teguh dengan ide dan metode Islam. Kita tidak boleh menoleh ke idea, metode,  solusi dan sistem selain Islam. Kita harus membuang semua yang tidak berasal dari Islam seperti sekularisme, demokrasi, HAM, liberalisme, sosialisme, dll.

Kita tidak boleh bersikap pragmatis. Pasalnya, Rasul saw pun tidak pernah bersikap pragmatis, baik dengan alasan strategi, kemaslahatan atau alasan apapun. Beliau tetap istiqamah berpegang pada fikrah (ide) dan tharîqah (metode) Islam.

Karena itu kita pun harus tetap istiqamah dan berpegang teguh hanya dengan Islam. Hendaklah kita selalu ingat akan peringatan Allah SWT:

فَلْيَحْذَرِالَّذِينَيُخَالِفُونَعَنْأَمْرِهِأَنْتُصِيبَهُمْفِتْنَةٌأَوْيُصِيبَهُمْعَذَابٌأَلِيمٌ

Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah (ketentuan) Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. [RN]

 

Penulis, Yani Alya

Ibu rumah tangga tinggal di Cikarang, Bekasi