Oleh: Bang Sem, Budayawan Betawi

(Panjimas.com)
— Lelaki itu sungguh berwajah paderi. Usianya tak terpaut jauh dengan usia saya. Setelah sangat lama tak sua – lebih dua dasawarsa, dua tahun terakhir, tiga kali saya jumpa dan berbincang.

Pertama di acara gelaran Gerbang Betawi, Keriyaan Betawi yang berlangsung di bekas Makodim Jakarta Timur – Jatinegara. Lantas jumpa lagi di kampus Universitas AsySyafi’iyah – Jatiwaringin, dalam acara Hajatan Betawi. Ketiga saya jumpa di Balikota DKI Jakarta, dalam pertemuan Gubernur DKI Jakarta dengan alim ulama se DKI Jakarta, Saudi Arabia dan Afrika.

KH Syaifuddin Amsir, yang dikabarkan wafat, Kamis (19/7/18). Lelaki tawaddu’ dan (tentu) humble, ciri orang berilmu. Tak pernah mau menonjolkan diri.

Di dekade 80-an, saya sering berbincang dengan beliau, sebagaimana saya berbincang dengan Almarhumah Tutty Alawiyah, KH Masdar Mas’udi, KH Ichwan Sam, Allahyarham H. Mansour Fakih, Allahyarham Iqbal Abdur Rouf Saimima, H. Afif Hamka dan kolega lainnya dari iain Syarief Hidayatullah.

Kami berbincang beragam pemikiran Islam dari sudut pandang yang berbeda. Antara lain, ihwal pemikiran Al Ghazali, Thûsi, Al Hallaj, Syeikh Nawawi al Bantani, sampai pemikiran Muhammad Abduh, Jamal ad Din al Afghani, dan lainnya. Sekali sekala saya ganggu dengan pemikiran lain dari Nietsze, Kierkgaard, dan lainnya.

Saya ikuti karya-karya besar ulama ahli Fikih dari Betawi yang kemudian menjabar sebagai Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), ini. Pandangannya tentang Indonesia sangat menarik, karena di dalam keindonesiaan mengalir ruh keislaman dan kebangsaan yang utuh. Tak terpisah dan tak terpilah.

Saya selalu merasa bertambah ilmu tentang Islam acap berjumpa dengannya. Di paruh pertama dekade 90-an, ketika masih memimpin operasional (antara lain meliputi program – produksi – teknik dan pemberitaan) Televisi Pendidikan Indonesia, beberapa kali saya ajak beliau mengisi mata acara Kuliah Subuh – program kuliah subuh pertama di pertelevisian Indonesia. Beberapa kali itu juga, beliau merekomendir beberapa nama yang layak dan patut di layar televisi. Beliau lebih suka menekuni dakwah dalam format lain, melalui mujahadah dan Majelis Taklim.

KH Saifuddin Amsir, ‘anak’ Kebon Manggis – Matraman – yang lebih beken disebut ‘anak Berlan’ sosok yang tekun, istiqamah dan konsekuen memusatkan perhatian pada pendidikan. Khasnya pendidikan ‘anak Betawi.’)

Beliau sendiri tekun menuntut ilmu. Serapan ilmunya dari ulama asal Betawi terdahulu, seperti KH Abdullah Syafi’i, KH Syafi’i Hadzami, dan ulama lainnya mendalam, sekaligus luas.

Dari referensi sumber Nahdlatul Ulama, disebut pula, beliau juga berguru kepada Habib Abdullah bin Husein Syami Al-Attas, dan Guru Hasan Murtoha. Karenanya, beliau sangat mendalami beragam ilmu agama Islam yang membuatnya terus mumpuni di bidangnya.

Produktivitasnya mengagumkan. Dari pemikiran, keikhlasan hati, dan jemarinya lahir berbagai buku penting, seperti Tafsir Jawahir al-Qur’an, Majmu’ al Furū’ wa al-Masāil, dan al-Qur’ān, I’jazan wa Khawāshan, wa Falsafatan.

Kajiannya tentang pemikiran falsafah Imam al Ghazali, sangat mendalam. Boleh jadi karena rasa hormat dan kagumnya pada ulama yang banyak mengulas ihwal hati dalam konteks hubungan pemahaman tentang khuluqiyah dan rububiyah, terkait eksistensi manusia, dalam makna hakikinya sebagai insan.

Ketika jumpa di bekas Gedung Makodim Jakarta Timur, dia mengungkapkan syukur melihat para intelektual dan profesional Betawi berpadu harmoni mewujudkan wadah untuk berkhidmat kepada Betawi.