SOLO, (Panjimas.com) — Dalam Harlah ke-54 PII Wati di Surakarta 4-5 Agutus lalu, Lembaga Otonom Bidang Perempuan Pelajar Islam Indonesia “PII Wati”, mengusung gerakan Muslimah Transformatif. Tepat pada 31 Juli 2018 PII Wati genap berusia 54 tahun, refleksi historis diperingati secara sederhana dan penuh hikmat di Laweyan, Surakarta, (4-5 Agustus 2018) lalu.

Dalam kesempatan ini PII Wati mengusung gerakan “Muslimah Transformatif Sebagai Pelopor Pergerakan Umat”. Koordinator Daerah (Korda) PII Wati Solo didaulat menjadi tuan rumah Harlah PII Wati ke 54.

Ketua Koordinator Wilayah (Korwil) PII Wati Jawa Tengah, Kamilatun Nisa saat ditemui Wartamuslimin.com usai acara mengungkapkan jika tema perayaan Harlah merupakan turunan dari tema inti di PII Wati pusat yakni ‘Dari Fitrah Ke Kiprah’. Dalam pandangannya fitrah perempuan pada dasarnya ialah sebagai anak, istri dan ibu. Namun bagi seorang kader PII Wati dia sangat berharap jika kelak para muslimah, khususnya kader PII Wati bisa aktif berperan dalam kehidupan masyarakatnya.

“Jadi sebagai muslimah bagaimana kita bisa memanfaatkan fitrah untuk bisa berkiprah, sehingga kelak kader PII Wati itu kiprahnya sesuai dengan fitrahnya sebagai perempuan yang tidak bisa lepas dari perannya dalam membina anak-anak, mempersiapkan perempuan, kan katanya mempersiapkan perempuan itu seperti mempersiapkan peradaban” pungkassnya.

Lebih lanjut Mila menjelaskan jika di era sekarang peran muslimah di ruang publik harus mampu menjawab kebutuhan umat. Selain sebagai muslimah yang taat menjalankan syariat Islam mereka pun dituntut memiliki soft skill yang menunjang kebutuhan umat, misalnya kemampuan menjahit, memasak atau keterampilan lain seperti penguasaan bahasa asing. Mila yang kini menjadi seorang guru bahasa Inggris di sebuah SD di kawasan Tembalang, Semarang menekankan sangat penting bagi seorang muslimah untuk bisa menjawab stigma masyarakat dengan memiliki skil keahlian yang membuat keberadaannya diakui di masyarakat.

“Sebagai kegiatan spesial kita adakan Queen Of PII Wati dengan salah satu persyaratannya membuat esai, sehingga kader- kader PII Wati bisa memiliki kemampuan kritis dalam menganalisis permasalahan sosial yang terjadi di lingkungannya, selain itu mereka juga disyaratkan memilki bakat yang akan menjadi bekal sehingga mampu menunjang kehidupan mereka di masa depan apa lagi di PII Wati itu ada jenjang kursus- kursus minimal mereka bisa mengajarkan ilmunya ke teman- temannya di PII Wati” imbuhnya.

Korda Solo memilih Masjid Laweyan sebagai tempat Refleksi Harlah PII Wati. Kegiatan-kegiatan lain selain malam refleksi Harlah dilanjutkan dengan pemilihan The Queen Of PII Wati 2018, dan lomba khusus anak TPA.

Ridhoatin Khoiriyah yang terpilih sebagai The Queen Of PII Wati 2018 mengaku bersyukur karena bisa dinobatkan menjadi juaranya. Sebagai kader PII Wati yang baru bergabung pada November 2017 dia sangat antusias dengan ragam kegiatan yang diadakan oleh PII khususnya PII Wati. Gadis asal Korda Rembang ini semakin menunjukkan prestasinya semenjak bergabung dengan PII Wati di antaranya mengikuti kejuaraan penulisan esai tingkat SMA di Kota Rembang.

“Alhamdulilah setelah masuk PII saya semakin banyak memiliki pengalaman, belum lama ini ikut kegiatan Kemah Pendidikan dan Apel Kebangsaan Di Jakarta, selain itu saya mendapat dukungan dari bapak dan ibu yang dulunya alumni HMI” tandas Atin.

Atin mengaku jika dirinya menulis esai tentang “PII Wati Sebagai Pertahanan Syariat Islam”. Pasalnya, Ia merasa miris jika masih banyak perempuan-perempuan muslimah di luar sana, khususnya teman-teman sebayanya yang belum berpakaian sesuai syariat dengan menutup auratnya. Melalui gagasannya dia mengajak kader PII Wati untuk bersama- sama mempelopori penegakan syariat Islam.

“Harapan saya sebagai kader PII Wati agar kita semua memiliki peran dakwah sosial di masyarakat di berbagai bidang yang sesuai dengan bakat dan minat kita” ujar pemilik bakat mendongeng cerita Islami asal kota Rembang ini.[IZ]