YOGYAKARTA (Panjimas.com) – Kaum Nabi Luth Alaihis Salam, adalah penyuka sesama jenis. Mereka kemudian ditimpakan azab yang besar oleh Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an,

فَلَمَّا جَاءَ أَمرُنَا جَعَلنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمطَرنَا عَلَيهَا حِجَارَة مِّن سِجِّيل مَّنضُود

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82).

Gempa bumi dahsyat sehingga membalikkan negeri kaum Luth dan hujan batu dari tanah yang terbakar, merupakan azab yang pedih yang Allah timpakan kepada para pelaku kemunkaran di masa itu.

Kisah yang diabadikan di dalam Al-Qur’an itu seharusnya menjadi pelajaran bagi kaum Muslimin saat ini.

Namun realita di negeri, justru sebaliknya. Gempa Bumi tektonik kuat yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah terjadi pada 27 Mei 2006, kurang lebih pukul 05:55:03WIB selama 57 detik. Gempa Bumi tersebut berkekuatan 5,9 pada skala Richter dan mengakibatkan lebih dari 6000 orang tewas.

Peristiwa tersebut, seyogyanya diambil pelajaran, sebagaimana sikap Umat bin Khattab ketika terjadi gempa di Madinah,

أيها الناس ، ما هذا ؟ ما أسرع ما أحدثتم

Wahai manusia, apa yang kalian lakukan? Betapa cepatnya maksiat yang kalian lakukan.

Namun bagi para waria, bukannya bertaubat dan kembali ke jalan yang benar, momen bencana tersebut justru menjadikan mereka mempertahankan eksistensinya. Bahkan, dibungkus dengan mendirikan sebuah Pesantren Waria, Al-Fatah.

“Dulu waktu ada gempa tahun 2006 itu kita mengadakan doa bersama, karena waria Jogja ini ada enam orang yang meninggal karena gempa. Waktu utu saya yang bertugas mengundang teman-teman, karena saya sebagai ketua komunitas. Kemudian Bu Maryani yang mencari kiainya,” kisah Shinta saat ditemui Panjimas.com, di Pesantren Waria, yang terletak kampung Celengan, Kotagede Jum’at (5/2/2016).

Shinta berdalih, bahwa itu merupakan momen kebangkitan spiritual para waria. Mereka kemudian menggelar kajian rutin.

“Selesai acara itu, karena ini sebagai kebangkitan spiritual para waria, kita ingin bisa beribadah, akhirnya dilanjutkan dengan pengajian rutin yang difasilitasi oleh Pak Kiai Hamroli yang memimpin doa bersama itu,” lanjutnya.

Kemudian Kyai Hamroli menginisiasi pendirian pesantren, dan berdirilah Pesantren Al-Fatah pada tahun 2008. Kala itu pesantren ini berlokasi di Notoyudan, Gedong Tengen, yakni di rumah kontrakan salah satu waria bernama Maryani.

Lalu singkatnya, pada 2014, Maryani meninggal dan pesantren pindah ke kampung Celengan, Kotagede,dan menempati rumah Shinta Ratri. (Baca: LGBT Merajalela, Pesantren Waria akan Susun Kitab Fiqih Waria)

Sampai saat ini, pesantren waria tersebut masih berdiri. Dahsyatnya lagi, mereka pun berencana menyusun kitab fiqih waria. [AW/ib]