Ustadz Muhammad Hibatullah, mujahid dakwah, imam masjid dan guru Al-Qur’an di Ciputat Tangerang Selatan, mengalami kecelakaan hebat hingga tak sadarkan diri selama 7 hari. Dihantam truk tronton, lulusan Pesantren Al-Qur’an Syihabuddin Makmun Labuan Banten ini mengalami luka parah: rahangnya bergeser harus dioperasi; bibir atasnya sobek hingga hidung; tulang pinggulnya retak; pelipis dan jari tangannya sobek. Ayo bantu pengobatan supaya lekas sembuh dan bisa beraktivitas dakwah lagi.

SERANG BANTEN, Infaq Dakwah Center (IDC) – Sudah sepekan Muhammad Hibatullah (32) tergolek lemah di ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dradjat Prawiranegara Serang Banten. Sempat koma, aktivis dakwah yang akrab disapa Ustadz Ibat ini tak sadarkan diri akibat kecelakaan hebat pada Jum’at (6/10/2017).

Musibah dialami Ustadz Ibad saat pulang ke rumahnya di Kampung Mayat Serang Banten, untuk mengurus pengobatan sang adik yang tengah sakit paru-paru. Ibat memang dikenal sangat perhatian dan dekat dengan keluarga, terutama terhadap sang adik kesayangannya yang memiliki prestasi yang bagus di pesantren. Ia pernah menjuarai lomba tahfizhul Qur’an tingkat anak-anak di Ciputat, Tangerang Selatan.

Usai menjenguk sang adik, dalam perjalanan kembali ke Masjid Al-Istiqomah Ciputat, motor yang dikendarai Ibat dihantam truk tronton. Ia mengalami luka parah: bibir atasnya sobek hingga hidung; rahangnya mengalami pergeseran dan harus dioperasi; tulang pinggulnya retak; pelipis dan jari tangannya sobek. Hingga berita ini ditulis, Ustadz Ibat masih menjalani perawatan intensif.

Ustadz Ibat adalah guru agama dan salah satu imam Masjid Al-Istiqomah WR Supratman Ciputat, Tangerang Selatan Banten. Di mata para pengurus masjid, Ustadz Ibat adalah mujahid dakwah yang shalih. Dengan kefasihannya membaca Al-Qur’an dan ilmu agama yang ditimba di pesantren, Ustadz Ibad mendedikasikan ilmunya dengan menjadi guru Al-Qur’an di madrasah.

Ustadz Arif Hidayatullah, imam rawatib Masjid Al-Istiqomah mengakui bacaan Al-Qur’an Ibat cukup bagus. Akhlak selama berinteraksi di masjid juga sangat baik. “Karena di lulusan pesantren Salaf, akhlaknya baik dan polos,” imbuhnya.

Spirit cinta masjid sudah mendarah daging dalam diri Ustadz Ibad. Untuk kemakmuran masjid, pekerjaan apapun dilakukan dengan suka cita.

“Beliau memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an yang cukup bagus. Akhlaknya baik, santun dan sangat layak tinggal di masjid. Beliau di sini membantu DKM, menjadi muadzin, imam cadangan rawatib, dan mengajar anak-anak. Selain itu juga membantu kegiatan lainnya di masjid, dan bersih-bersih masjid,” papar Agus Hermanto, Pengurus DKM Al-Istiqomah kepada Relawan IDC, Jum’at (13/10/2017).

Karenanya ia mengajak kaum Muslimin untuk membantu pengobatan Ustadz Ibat. “Jadi kami sudah berusaha menggalang dana untuk membantu beliau. Sekaligus pada kesempatan ini, kami mengharapkan kepada para donatur untuk sama-sama berbagi membantu meringankan beban beliau dan keluarganya,” imbaunya.

Senada itu, Ustadz Abdullah Robbani, penulis best seller buku “Perang Akhir Zaman” yang juga jamaah rawatib Masjid Al-Istiqomah, mengapresiasi upaya IDC yang segera terjun langsung membantu Hibatullah.

“Alhamdulillah dengan secepatnya tiba-tiba salah satu ikhwan dari IDC menghubungi saya, padahal kita tidak saling mengenal, tapi imanlah yang mempertemukan kita. Dalam waktu dekat bahkan hari ini mereka datang langsung ke RSUD serang untuk menjenguk dengan menggunakan ambulance. Subhanallah, masih ada hamba Allah yang tergerak hatinya untuk menangani masalah-masalah kaum Muslimin,” tuturnya.

Ustadz Abdullah Robbani mengajak kaum Muslimin membantu saudaranya yang tengah dilanda musibah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan: “Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa membantu seorang hamba selama hamba tersebut senantiasa membantu saudaranya…” (HR Muslim).

“Semoga hadits yang mulia ini menjadi penggugah iman kita, apalagi kita hidup di akhir zaman di mana fitnah banyak sekali bertebaran, sehingga kita harus memiliki amalan yang nantinya berguna untuk menolong diri kita sendiri. Kita berharap amalan kita menolong saudara kita yang sedang susah seperti Ustadz Hibatullah ini, menjadi amal yang bisa kita andalkan untuk menghadapi kesulitan di hari kiamat,” jelasnya.

TIDAK PUNYA KARTU BPJS

Heni, kakak perempuan Hibatullah, tak henti-hentinya menyeka air mata yang menetes, saat menemani sang adik tercinta di ruang ICU RSUD Serang Banten. Ia begitu terpukul atas musibah yang menimpa sang adik. Meski demikian, ia berusaha tegar sambil berikhtiar agar Ibat diberikan kesembuhan oleh Allah Ta’ala.

“Harapannya ya pastinya ingin sembuh total, supaya cepat sadar, jangan lama-lama di rumah sakit. Dia mah sopan sama orang tua, ikut bertanggung jawab juga sama adik-adiknya. Dia anak shalih, inginnya dia sembuh total, itu saja,” kata Heni kepada Relawan IDC.

Ustadz Hibatullah adalah anak keempat dari delapan bersaudara, berasal dari keluarga yang sederhana. Kedua orang tuanya, Heri (62) dan Liyah (59) hanyalah seorang petani. Dengan penghasilan yang pas-pasan, biaya pengobatan Ibad menjadi beban berat di pihak keluarga, apalagi ia belum memiliki fasilitas BPJS.

SOLIDARITAS KELUARGA MUJAHID

Ujian berat yang menimpa Ustadz Muhammad Hibatullah adalah beban kita juga, karena persaudaraan setiap Muslim ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya otomatis terganggu karena merasakan kesakitan juga.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam” (Muttafaq ‘Alaih).

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَومَ القِيَامَةِ و مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيهِ في الدُنيَا و الأَخِرَةٍ و مَن سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ الله في الدُنيَا و الأَخِرَةٍ و الله في عَونِ العَبْدِ ما كان العَبْدُ في عَونِ أَخِيهِ

“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa membantu seorang hamba selama hamba tersebut senantiasa membantu saudaranya…” (HR Muslim).

Donasi untuk membantu pengobatan Ustadz Hibatullah bisa disalurkan melalui program Solidaritas Keluarga Mujahidin ke Rekening IDC:

  1. Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  2. Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605 a.n: Infaq Dakwah Center.
  3. Bank Mandiri Syar’iah (BSM), No.Rek: 7050.888.422 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  4. Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  5. Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  6. Bank CIMB Niaga, No.Rek: 675.0100.407.006 a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
  7. Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497 a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC).

CATATAN:

  • Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 6.000 (enam ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.006.000,- Rp 506.000,- Rp 206.000,- Rp 106.000,- 56.000,- dan seterusnya.
  • Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: www.infaqdakwahcenter.com.
  • Bila biaya pengobatan sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.
  • Video: https://youtu.be/H5bZq1Furx4
  • Info: 08122.700020.