Usianya baru menginjak 11 tahun, tapi ujian hidup yang dipikul Fatkhur Kurniawan sungguh berat. Digerogoti tumor ganas, tubuhnya kurus kerontang. Sedangkan pundak kirinya terus membesar hingga seukuran bola basket, lebih besar daripada ukuran punggungnya. Daging tumor terus tumbuh meski sudah menjalani kemoterapi 37 kali, padahal batas maksimal kemoterapi hanya 26 kali.
Kondisi ekonomi keluarga sangat memprihatinkan. Sang ayah yang buruh serabutan tak bisa mencari nafkah lagi karena harus mengurus dan menjaga Fatkhur setiap hari. Sedangkan sang ibu bekerja sebagai buruh di rumah tetangga dengan upah 16 ribu rupiah perhari.

PURWOREJO, Infaq Dakwah Center (IDC) – Usianya baru menginjak 11 tahun, tapi ujian dan beban hidup yang dipikul Fatkhur Kurniawan sungguh berat tak terkira. Orang dewasa saja belum tentu sanggup memikul ujian seberat ini.

Bocah malang ini tak bisa menikmati masa-masa ceria, belajar dan bermain seperti teman-teman sebayanya di bangku kelas 4 SD. Tumor ganas yang menyerang otot di pundaknya, memaksa Fatkhur tergolek menahan sakit sepanjang hari di pembaringan.

Akibat puluhan kali chemotherapy (kemoterapi) yang dijalani, bibir dan mulut Fatkhur pecah-pecah. Tubuhnya kurus kerontang nyaris tinggal kulit yang melekat di tulang, sementara daging di pundak kirinya terus membesar hingga seukuran bola basket, lebih besar daripada ukuran punggungnya. Di tengah benjolan tumor itu terdapat luka bernanah yang hanya ditutup perban supaya tidak bau atau dihinggapi lalat.

Alhamdulillah, di tengah musibah itu Fatkhur terhibur oleh ayah dan ibu yang setia menemani, menghibur, menguatkan dan membantu aktivitasnya. Saat Fatkhur menangis merintih menahan sakit, ayah dan ibunya terus mengelus pundak anaknya sembari memberikan pesan sabar dan doa.

Saat Relawan IDC membesuk dan menyampaikan santunan pengobatan di rumahnya, Dukuhdungus Grabag Purworejo, Fatkhur hanya bisa duduk  di kasur dan sesekali rebahan.

BOCAH TUMOR PERINDU SHALAT JAMAAH DI MASJID

Awalnya, Fatkhur terjatuh dari sepeda saat bermain bersama temannya, dengan posisi dada sebelah kanan atas terbentur stang sepeda. Meski memar, ia tak menghiraukan rasa sakitnya. Sejak insiden itu, muncullah benjolan kecil seukuran kelereng. Karena tak menaruh curiga apapun, Slamet Widodo tak memeriksakan benjolan anaknya ke dokter atau puskesmas terdekat. Hingga sebulan kemudian benjolan itu terus bertambah besar menjadi sekepal tangan orang dewasa.

Karena benjolan Fatkhur terus membesar, Slamet pun melarikan Fatkhur ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tjitrowardojo Purworejo pada bulan Juni 2017. Dari hasil ronsen, barulah diketahui bahwa Fatkhur menderita tumor otot ganas dan segera dioperasidioperasi. Setelah dioperasi, ia pun dirujuk ke RS Sardjito Yogyakarta untuk menjalani kemoterapii.

Naasnya, pasca operasi benjolan tumor di pundak Fatkhur bukan kempis, justru tumbuh membesar semakin cepat hingga sebesar bola basket.

“Waktu saya bawa ke RSUD Purworejo, Fatkhur diberi rujukan untuk dibawa ke RS Sardjito Yogya. Karena tidak ada biaya, dari pak Lurah dan tim Puskesmas membantu membawa Fatkhur ke RS Sardjito,” kata Slamet pada Relawan IDC, Rabu (11/7/2018).

Di mata keluarga dan teman-temannya, Fatkhur adalah anak yang tangguh. Ia bukan anak yang cengeng dan manja, meski sakit yang dirasakannya terus meradang setiap saat. Bahkan saat bulan Ramadhan, dengan kondisi sakit yang hebat, Fatkhur merengek minta ikut shalat tarawih berjamaah di masjid kampungnya. Slamet Widodo, sang ayah  pun membopongnya ke masjid untuk shalat tarawih berjamaah.

AYAH DHUAFA TAK BISA BEKERJA LAGI DEMI MENJAGA FATKHUR

Kondisi keluarga Fatkhur sangatlah memprihatinkan. Ia bersama keluarga dan pamannya tinggal menumpang di rumah kakeknya. Masya Allah… tiga keluarga besar tinggal dalam satu rumah sederhana yang berdinding anyaman bambu. Bau tak sedap kotoran ternak itik di belakang rumah semakin melengkapi keprihatinan Fatkhur.

Maklum, Fakhur terlahir dari keluarga super dhuafa. Sang ayah, Slamet Widodo hanyalah seorang buruh serabutan yang penghasilannya minim serta tidak menentu. Setahun terakhir, Slamet tidak bisa lagi mencari nafkah karena harus merawat, menjaga dan bolak-balik ke rumah sakit mengantar Fatkhur.

Sedangkan Khosyati, sang ibu, bekerja sebagai buruh di rumah tetangga yang berjualan susu kedelai dengan upah 16 ribu rupiah perhari. Setiap jam 12 malam, ia harus bangun dan mulai bekerja membuat susu kedelai hingga jam 5 pagi. Otomatis penghasilan sang ibu 16 ribu rupiah perhari inilah satu-satunya tumpuan ekonomi keluarga untuk biaya hidup dan pendidikan adik-adik Fatkhur.

“Istri saya hanya buruh, membuat susu kedelai. Berangkat jam setengah dua belas malam, pulang jam lima pagi diupah 16 ribu. Kalau nggak berangkat ya ndak digaji,” tutur Slamet.

Sebagai kepala rumah tangga, Slamet hanya pasrah menghadapi ujian hidup. Di tengah kesulitan ekonomi, ia terus berikhtiar tanpa mengenal putus asa, memburu kesembuhan buah hatinya dari tumor ganas. Hingga berita ini ditulis, Slamet sudah 37 kali bolak-balik ke Yogyakarta mengantar Fathur kemoterapi di rumah sakit Sardjito.

INFAQ DARURAT PEDULI KASIH SESAMA MUSLIM

Fatkhur Kurniawan ingin sehat pulih seperti sedia kala, menuntut ilmu, dan belajar di sekolah untuk merajut masa depan.

Ujian berat yang diderita ananda Fatkhur adalah beban kita juga, karena persaudaraan setiap Muslim ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya otomatis terganggu karena merasakan kesakitan juga.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam” (Muttafaq ‘Alaih).

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَومَ القِيَامَةِ و مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيهِ في الدُنيَا و الأَخِرَةٍ و مَن سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ الله في الدُنيَا و الأَخِرَةٍ و الله في عَونِ العَبْدِ ما كان العَبْدُ في عَونِ أَخِيهِ

“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa membantu seorang hamba selama hamba tersebut senantiasa membantu saudaranya…” (HR Muslim).

Bunga-bunga peduli kasih kaum Muslimin sangat dibutuhkan untuk membantu berbagai keperluan pengobatan ananda Fatkhur. Bantuan donasi bisa disalurkan melalui program INFAQ DARURAT ke Rekening IDC:

  1. Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  2. Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605 a.n: Infaq Dakwah Center.
  3. Bank Mandiri Syari’ah (BSM), No.Rek: 7050.888.422 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  4. Bank Bukopin Syariah, No.Rek: 880.218.4108 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  5. Bank BTN Syariah, No.Rek: 712.307.1539 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  6. Bank Mega Syariah, No.Rek: 1000.154.176 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  7. Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  8. Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  9. Bank CIMB Niaga, No.Rek: 80011.6699.300 a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
  10. Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497 a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC).

CATATAN:

  • Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 3.000 (tiga ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.003.000,- Rp 503.000,- Rp 203.000,- Rp 103.000,- 53.000,- dan seterusnya.
  • Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: www.infaqDakwahCenter.com.
  • Bila biaya pengobatan sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.
  • Video: https://youtu.be/tDQL7q57hd4
  • Info: 08122.700020.