(Panjimas.com) – Setelah menyusui bayi yatim itu selama dua tahun, Halimah harus memulangkannya ke pangkuan sang ibunda, Aminah, di Makkah. Berat hati ia melakukannya, sebab wanita Bani Sa’ad ini terlanjur sangat sayang padanya. Namun bagaimana lagi, ia tak berhak mengambil sang bayi, ia harus melepasnya.

Aminah sangat berbahagia menyaksikan keadaan putranya. Tampak sekali kalau bayi mungilnya diasuh dengan amat baik oleh Halimah selama dua tahun ini. Bersih dan sehat, bahkan tumbuh laksana anak berumur 4 tahun.

Menyaksikan kebahagiaan Aminah, Halimah berbicara sangat lembut kepadanya. Ia menawarkan dengan harapan yang sangat agar izinkan untuk melanjutkan pengasuhan bayi itu. Ternyata, melihat bukti tanggungjawab Halimah sebagai ibu susu, Aminah menerma penawarannya. Halimah pun kembali ke pedalaman dengan membawa anak susuannya lagi. Diasuhnya bayi itu hingga berumur menjelang 5 tahun.

Sampai pada suatu hari, terjadilah peristiwa mengerikan menimpa si balita. Dua lelaki asing berpakaian putih datang tanpa undangan mengambil anak itu lalu membedah dadanya hingga terbuka. Diambilnya hati di dalamnya, dicuci, lalu dikembalikan lagi seperti semula. Dan ajaibnya, dada balita itu kembali utuh seperti sediakala. Bahkan kemudian ia bercerita kepada Harits, ayah asuhnya.

Setelah kejadian itu, Halimah mendapati kembali hal lain yang menimbulkan kekhawatiran baru. Didengarnya beberapa orang membincangkan si balita, seolah ada sesuatu yang diinginkan darinya. Karenanya, Halimah segera mengembalikan anak susuannya kepada ibu kandungnya, demi keselamatan si kecil yang sangat ia cinta. Ia kembali ke kampungnya di pedalaman Bani Sa’ad setelah menyerahkan Muhammad kecil kepada Aminah di Makkah.

Sejak itu, hubungan Harits-Halimah dengan Muhammad sempat terputus hingga beliau berumur 25 tahun. Kemudian, pascabelum lama anak susuannya menikah dengan Khadijah, Halimah berkunjung ke Makkah menemuinya. Ia menceritakan kondisi kampung Bani Sa’ad yang dilanda kekeringan dan paceklik. Mendengarnya, Muhammad berbicara dengan Khadijah dan bersepakat memberi 40 ekor kambing untuk ibu susunya.

Singkat kisah, ketika berumur 40 tahun, Allah swt menurunkan wahyu kepada Muhammad saw. Allah swt memilih beliau sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menyampaikan risalah kepada seluruh manusia sedunia sepanjang masa. Mendengar kabar kenabian ini, Halimah masuk Islam bersama suami dan anak-anaknya.

Para ahli sejarah menyampaikan bahwa Halimah As-Sa’diyah diberi usia cukup panjang setelah keislamannya. Namun tak ada keterangan pasti pada umur berapa ia wafat. Hanya, disampaikan bahwa ibu susu Rasulullah saw wafat di Madinah, dan dimakamkan di Baqi’. [IB]