PANJIMAS.COM – Namanya Anas bin Malik Al-Anshari -Radhiyallahu ‘anhu Ia seorang Anshar dari Bani Najjar. Dilahirkan pada 612 M atau tahun ke-10 sebelum hijrahnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ayahnya bernama Malik bin Nadhar dan ibunya Ummu Sulaim. Lahir dari orang tua Muslim, sejak kecil ia telah dididik dengan nilai-nilai Islam.

Ketika Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu berumur 10 tahun, Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah dari Makkah dan menetap di Yatsrib. Mengetahui hal itu, Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘anha mengajak putranya menghadap beliau.

“Ini Anas, anak yang pandai. Nanti ia akan menjadi pembantu engkau,” ucap Ummu Sulaim memerkenalkan putranya.

Permintaan Ummu Sulaim diterima, Anas yang dalam masa transisi dari anak-anak menuju remaja menjadi pembantu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan tetap melanjutkan peran tersebut hingga kelak Sang Nabi wafat.

Selama membersamai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu yang cerdas ini berusaha memanfaatkan peluang secara optimal. Ia senantiasa menimba ilmu dari beliau sampai wafatnya, yakni saat dirinya berumur 20 tahun. Ia amat rajin bermulazamah (menimba ilmu secara privat dan berhadapan langsung) kepada Sang Nabi. Kedekatan inilah yang membuatnya menduduki peringkat ketiga shahabat periwayat hadits terbanyak, yaitu 2.286 hadits.

Anas bin Malik benar-benar seorang pembelajar. Selain kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia juga menimba banyak ilmu kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, Mu’adz, Usaid Al-Hudair, Abi Thalhah, ibunya sendiri Ummu Sulaim, bibinya Ummu Haram, pamannya Ubadah bin Shamit, Abu Dzar, Malik bin Sha’sha’ah, Abu Hurairah, Fatimah, dan shahabat-shahabat lainnya Radhiyalahu ‘anhum.

Penguasaannya akan ilmu membuat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu mampu mendidik banyak murid yang kemudian menjadi orang-orang yang berperan penting dalam perjuangan Islam. Mereka antara lain, Hasan, Ibnu Sirin, asy-Sya’bi, Abu Kilabah, Makhul, Umar bin Abdul Aziz, Tsabit al-Banani, Bakar bin Abdillah al-Mazani, az-Zuhri, Qatadah, Ibnu al-Munkadir, Ishak bin Abdillah bin Abi Thalhah, Abdul Aziz bin Syu’aib, Syu’aib bin al-Habhab, Amru bin Amir al-Kufi, Sulaiman at-Taimi, Hamid at-Thawil, Yahya bin Sa’id al-Anshari, Katsir bin Salim, Isa bin Thahman dan Umar bin Syakir.

Selain bergelut di dunia keilmuan, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu juga mengabdikan diri di kemiliteran, bahkan sejak usianya masih belia. Saat pecahnya Perang Badar dirinya baru beranjak remaja. Sebagai pembantu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lelaki yang beliau gelari Abu Hamzah ini turun ke medan jihad mendampingi Sang Nabi.

Selama hidup, tercatat sebanyak delapan kali ia terjun ke medan jihad. Ia juga salah seorang yang berbai’at dalam peristiwa Bai’aturridwan.

Satu keistimewaan yang dimiliki Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu adalah, ia memeroleh doa khusus dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Waktu itu, selain memohon agar Nabi menerima Anas sebagai pembantu, ibunya juga minta kepada beliau untuk mendoakan putra yang sangat disayanginya. Dan beliau pun berdoa,

“Ya Allah, perbanyaklah anak dan hartanya, serta masukkanlah ia ke dalam surga.” (Dalam riwayat lain, “Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, panjangkanlah umurnya dan ampunilah dosanya.”).

Benarlah Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan doa utusanNya. Di samping kedalaman dan keluasan ilmu, Anas bin Malik juga dikaruniai harta yang sangat melimpah dan keturunan yang sangat banyak. Tanaman kurma dan anggurnya berbuah dua kali dalam setahun. Semasa dirinya masih hidup,  anak turunnya sebanyak seratus orang (dalam riwayat lain seratus enam orang). Dan menurut riwayat dari salah seorang anak perempuannya, Aminah Radhiyallahu ‘anha, anak-anaknya yang meninggal saja mencapai 120 anak, belum cucu-cucunya. Itu semasa Hajjaj berkuasa di Basrah.

Di usia senjanya, Anas bin malik Radhiyallahu ‘anhu mengalami sakit. Saat itu ditawarkan kepadanya untuk didatangkan seorang tabib. Namun ia menolak dengan berucap, ”Seorang tabib hanya akan menyakitiku.” Ia memohon agar ditalqinkan saja. Kalimat thayyibah menjadi bacaan yang diulang-ulangnya di saat-saat terakhir, sampai berpisahnya ruh dengan jasadnya. Saat itu di dekatnya ada tongkat kecil yang dulu pernah dimiliki Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Tongkat itu kemudian dikuburkan bersamanya. Dahulu di saat Sang Nabi masih hidup, ia pernah memohon syafaat kepada beliau, dan beliau menjanjikan akan diberikannya di hari kiamat kelak.

Sejarawan berbeda pendapat tentang  tahun wafat Anas bin Malik. Ada yang berkata pada 90 H, 91 H, 92 H, dan 93 H. Pendapat terakhirlah yang paling masyhur menurut jumhur ulama. Imam Ahmad Rahimahullah berkata, “Anas bin Malik dan Jabir bin Zaid wafat bersamaan pada hari Jum’at, tahun 93 Hijriyah. Wallahu a’lam. [IB]