(PANJIMAS.COM) – Ibnu Sina rahimahullah, atau yang di Barat lebih dikenal dengan Avicanna, adalah ilmuwan Muslim yang menguasai berbagai macam bidang keilmuan. Ia mengarang 450 buku aneka disiplin ilmu. Matematika, fisika, tasawuf, filsafat, teologi, bahkan seni.

Karya masterpiecenya membahas ilmu kedokteran dengan judul al-Qanun fi at-Tibb atau The Cannon of Medicine. Dan karya inilah yang memasyhurkan namanya ke seluruh penjuru dunia dari masa ke masa.

Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina rahimahullah. Dilahirkan di suatu daerah di Persia (sekarang menjadi bagian Uzbekistan) pada 370 H/980 M. Ayahnya seorang sarjana terhormat Ismaili asal Balkh Khurasan, menjabat gubernur suatu daerah di salah satu pemukiman Nuh bin Mansyur (sekarang wilayah Afghanistan).

Ibnu Sina kecil merupakan anak yang cerdas luar biasa (child prodigy). Menghafal al-Qur’an di usia 5 tahun, dan sejak kecil sudah mulai masuk ke ranah ilmu kedokteran. Ia juga berbakat sastra, ahli puisi Persia.

Karya masterpiece Ibnu Sina, al-Qanun fi at-Tibb, selama beberapa abad menjadi rujukan utama dan paling otentik di Timur dan Barat. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa, dan dijadikan buku utama di Universitas Montpellier (Perancis) dan Universitas Lourain (Belgia).

al-Qanun fi at-Tibb berisi kaidah-kaidah umum ilmu kedokteran, obat-obatan, dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 M, ia diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Selanjutnya, kitab tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Perancis, juga Jerman.

Ilmu kedokteran ia pelajari serius sejak usia 16 tahun. Tak sekadar teori, Ibnu Sina rahimahullah belajar dengan metode praktek pelayanan pasien. Lalu, dengan analisanya sendiri, ia menemukan metode–metode baru. Melalui pelayanan pasien secara gratis, di usia 18 tahun ia dikenal luas sebagai seorang saintis muda berbakat.

Kala berusia 22 tahun, ayahnya wafat. Ibnu Sina rahimahullah mengembara dengan lika-liku kehidupan yang dramatis. Ia pernah bekerja dengan gaji rendah, pernah pula terjangkit penyakit yang sangat parah.

Sebagai seorang pengelana ilmu ulung, Ibnu Sina rahimahullah sempat mengalami dua periode pemikiran yang fundamental. Periode pertama adalah ketika ia menganut faham filsafat paripatetik. Saat itu, ia dikenal sebagai penerjemah pemikiran Aristoteles.

Periode kedua adalah ketika Ibnu Sina menarik diri dari faham paripatetik dan -seperti dikatakannya sendiri- cenderung kepada pemikiran iluminasi. Merujuk pada hasil telaah para filosof sebelumnya semisal al-Kindi dan al-Farabi, ia berhasil menyusun sistem filsafat Islam yang terkoordinasi dengan rapi. Proyek besar yang dilakukannya adalah menjawab berbagai persoalan filsafat yang tak terjawab sebelumnya.

Dalam menulis, Ibnu Sina rahimahullah cepat fokus dalam membahas suatu tema, dan lekas bisa mengemukakannya kepada pembaca. Ia mahir menuangkan gagasannya dengan pemilihan diksi yang tepat. Kelihaian ini merupakan buah pembiasaan, kesungguhan, dan kedisiplinan yang dibangunnya. Di dunia literasi, karya-karya Ibnu Sina terkenal bukan saja karena kepadatan ilmunya, tetapi juga kualitas pembahasaan dan penulisannya yang sangat terang. Selain menulis dalam bahasa Arab, ia juga menulis dalam bahasa Persia.

Karya-karya Ibnu Sina rahimahullah yang terkenal antara lain, Kitab As-Syifa’ (filsafat paripatetik), Sadidiyya (kedokteran), Al-Musiqa (musik), Danesh Namesh (filsafat), Uyun al-Hikmah (filsafat), Mujiz Kabir wa Shaghir (ilmu logika), Hikmah al-Masyriqiyyin (falsafah Timur), al-Inshaf (tentang keadilan), al-Hudud (berisi istilah-istilah dalam filsafat), al-Isyarat wat Tanbihat (teologi), an-Najah, (menejemen hati), dll.

Masa hidup Ibnu Sina rahimahullah dipadati dengan kerja keras intelektual. Kesehatannya pun tergadaikan. Ia menderita maag kronis yang tak teratasi. Di usia 58 tahun (428 H/1037 M) bapak kedokteran modern ini wafat dan dikuburkan di Hamazan. Wallahu a’lam. [dalan]