(Panjimas.com) – Mari mengenang kembali siapa Uwais al-Qarni radhiyallahu ‘anhu. Adalah lelaki miskin yang berpenyakit kusta, yang mencari penghidupan sebagai penggembala. Dikisahkan bahwa dirinya hidup berdua dengan ibunda tercinta. Saat ia dewasa, ibundanya mulai renta dan menderita lumpuh serta buta. Uwais sangat sayang dan berbakti kepadanya.

Bukti betapa besar bakti Uwais kepada ibunda ditunjukkan dengan pemenuhan permintaan Sang Ibu yang dilakukan dengan cara hampir tak masuk logika: menggendongnya dari Yaman sampai Baitullah untuk beribadah haji.

Uwais al-Qarni yang tak kagum dengan gemerlap dunia sedikit pun, sangat mengagumi sosok Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang hanya ia dengar melalui cerita. Kekaguman mendalam itu sampai menggerakkan kakinya menempuh perjalanan Yaman-Makkah dengan harus meninggalkan ibundanya sendirian di rumah.

Seorang miskin yang tak bermartabat di masyarakat, bahkan sering jadi olok-olokan, tapi menjadi sosok yang sangat dirindukan oleh dua tokoh terdepan kaum Muslim: Umar bin Khatthab dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma. Kedua pemuka itu ingin sekali bertemu Uwais dan harus menunggu beberapa tahun lamanya. Mereka hanya ingin minta doanya sebagaimana pernah diwasiatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Sungguh istimewa… Istimewanya lagi, lelaki tak berharta itu tak mau menerima harta Baitul Maal karena tanpa melalui tetesan keringatnya.

Begitulah gambaran singkat seorang Uwais al-Qarni radhiyallahu ‘anhu seperti sudah kita beberkan pada keempat edisi lalu.

Selanjutnya, Uwais al-Qarni tetap menetap di tanah tumpah darahnya Yaman hingga wafat. Penulis tak mendapati keterangan apakah ia sempat berkeluarga atau tidak, dan kapan tepatnya dirinya wafat. Keterangan yang penulis temukan hanya menyebut bahwa lelaki Yaman itu wafat beberapa tahun setelah perjalanannya ke Makkah bersama kafilah dagang.

Fenomena luar biasa terjadi sesaat setelah ajalnya tiba. Waktu itu peristiwa tak masuk akal disaksikan oleh penduduk sekitar. Seorang Uwais al-Qarni yang tersembunyi dan tak dikenal didatangi banyak sekali petakziyah yang entah dari mana asalnya. Mereka orang-orang asing yang tak dikenal oleh penduduk lokal.

Tidak saja sekadar datang, orang-orang itu berebut ingin memandikan jenazah Uwais. Saat dibawa ke pembaringan, di sana sudah banyak orang bersiap memakaikan kain kafan. Demikian pun saat dishalatkan, banyak sekali jama’ahnya. Jelang pemberangkatan ke makam, mereka berebutan memikul keranda. Sesampai di makam, tampak banyak orang berkumpul di sana dan liang lahat sudah tuntas dibuat.

Peristiwa pengurusan jenazah Uwais al-Qarni benar-benar menggemparkan masyarakat Yaman. Mereka bertanya-tanya, siapa sebenarnya lelaki itu? Sebagian orang mengenalnya hanya sebagai seorang penggembala yang miskin, tapi mengapa banyak sekali petakziyah datang, siapa yang mengabarkan kematiannya? Sangat wajar penduduk sekitar terheran-heran.

Tapi kita tak perlu heran. Yang kita perlukan adalah pelajaran. Kita sudah tahu profil pribadi Uwais al-Qarni radhiyallahu ‘anhu yang memang sangat mencengangkan. Sepintas sederhana, tapi coba kita berkaca. Bagaimana jiwa mulia lelaki miskin itu dibanding kita? Dalam iklim kehidupan yang penuh fitnah syahwat seperti ini, bisakah kita mencapai akal budi sedikit saja di bawahnya?

Bagaimana dengan popularitas, apakah kita sudah zuhud terhadapnya? Bukankah masih ada rasa bangga bila foto kita di restoran terkenal disaksikan banyak orang di media sosial?

Bagaimana dengan bakti kepada orang tua? Apakah bicara dengan nada tinggi ke orang tua saat merasa kesal masih kita anggap biasa? Apalagi dengan ibu. Setelah istri hamil, penulis baru tahu betapa sejak dalam kandungan, seorang anak sudah “menyiksa” ibunya. Pusing, sakit perut, muntah-muntah, lemas karena makanan keluar lagi tak lama usai ditelan. Begitulah derita ibu hamil muda. Belum saat melahirkan harus bertaruh nyawa, belum setelah lahir selama beberapa tahun harus menyentuh kotorannya. Lalu bila si anak sudah tumbuh baligh dan bisa berfikir dewasa, apakah masih tega membuat ibu menderita?

Bagaimana dengan harta? Uwais al-Qarni yang dalam kondisi pas-pasan saja tidak mau menerima harta halal yang bukan hasil tetesan keringatnya. Lalu apakah Anda yang sudah berpenghasilan besar, demi bisa membeli produk mewah bermerek terkenal, tega mencuri uang rakyat jelata yang hidup serba seadanya?

Sungguh, Uwais al-Qarni radhiyallahu ‘anhu adalah guru besar umat manusia. Dari kisahnya, terkandung pesan-pesan moral yang sangat menyentuh relung jiwa orang-orang yang mau menggunakan hati dan akalnya. Pantas saja bila Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menyebutnya “penduduk langit”, dan yang mentakziyahinya adalah para malaikat. Wallahu a’lam. [IB]