JAKARTA (Panjimas.com) – Belum lama ini tokoh budayawan Betawi Abdul Chaer mendapatkan penghargaan dari Bentara Budaya Jakarta, sebagai salah satu pengabdi seni budaya Betawi. Penghargaan tersebut diberikan bertepatan dengan Milad ke-35 tahun Bentara Budaya (26/9).

Ketujuh orang yang telah mendapatkan penghargaan tersebut adalah: Rudolf Puspa (penggerak teater), Abdul Chaer (penelaah sastra Betawi), Ni Luh Menek (tokoh penari), Samadi (pelestari topeng), Pardiman Djoyonegoro (penggiat akapela mataraman), Toni Harsono (penghidup wayang Potehi), dan Cak Kirun (tokoh Ludruk serta ketoprak).

Sosok Abdul Chaer atau yang akrab disapa Babe Chaer, lahir di Karet Kubur, Tenabang, Jakarta. Dia adalah pensiunan Lektor Kepala (gol.IVD) dalam mata kuliah Linguistik di Universitas Negeri Jakarat (dulu IKIP Jakarta).

Sebagai dosen, ia telah menulis 30 buku tentang bahasa Indonesia dan linguistik. Kepeduliannya pada bahasa dan kebudayaan Betawi, telah membuahkan karya tulisnya, diantaranya: “Kamus Dealek Jakarta” (1976), “Ketawa-Ketiwi Betawi” – kumpulan humor Betawi (2007), Kamus Ungkapan dan Peribahasa Betawi (2009), Cekakak-cekikik Jakarta ( 2011), Kebijakan dan Politik dalam Ketawaan (2012), Folklor Betawi (2013), Betawi Tempoe Doeloe (2015). Buku terbarunya adalah “Tenabang Tempo Doeloe” (2017).

Sejumlah penghargaan telah ia raih, seperti penghargaan dari Gubernur DKI Jakarta (2002), Etnikom Award dari Persatuan Radio-radio Swasta Sumatera Selatan, Banten, Jakarta dan Jawa Barat (2002) dan Anugrah Budaya sebagai Budayawan dari Gubernur DKI Jakarta (2011).

Babe Chaer begitu intens mendokumentasikan dan melakukan studi linguistik. Setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Guru Atas (SGA) pada tahun 1962, beliau melanjutkan kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universias Indonesia yang sekarang lebih dikenal sebagai IKIP Jakarta.

Dia memilih Jurusan Bahasa Indonesia. Meraih gelar sarjana pada tahun 1969. Pada tahun 1974, Babe Chaer mengikuti penataran leksikografi, yang diselenggarakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen P&K Jakarta, dengan tenaga pengajar utama Prof Dr. A. Teeuw (Universitas Leiden, Belanda), Prof. Dr. A. Bacher (Universitas Michigan, Amerika Serikat), dan Dr. DJ. Prentice (Universitas Nasional, Australia).

Tahun 1976-1977 studi Pascasarjana di Riiksuniversiteit, Leiden, Negeri Belanda, dalam bidang Linguistik. Babe Chaer juga mengikuti seminar dalam bidang linguistik, baik nasional maupun internasional.

Karya tulisnya selama 40 tahun bergelut dalam linguistik dan kebudayaan terbilang banyak. Semuanya secara lengkap mengungkapkan perkembangan kultural Betawi beserta kebudayaannya, seperti asal usul etnis Berawi, bahasa, pemukiman, mata pencaharian, kepercayaan, permainan, kesenian, hingga tema-tema mitos yang melekat dalam masyarakat.

Pengalamannya dalam kerja perkamusan dimulai dari tahun 1971-1972 sebagai anggota penyusun Kamus Sinonim Bahasa lndonesia (Nusa Indah 1974); anggota penyusun Kamus Ejaan Standar Bahasa lndonesia (Pusat Bahasa, Jakarta 197 3); dan anggota penyusun Kamus Bahasa Indonesia [Pusat Bahasa, belum terbit).

Pada bulan Juni 1977, Babe Chaer pernah ke Oxford, Inggris untuk melihat ”dapur” penerbitan kamus-kamus Oxford English Dictionaary dengan percetakan Clarendonnya, sehingga banyak menambah pengetahuan dan pangalaman dalam bidang perkamusan.

Tulisannya tentang bahasa dan linguistik banyak dimuat dalam Majalah Dewar Bahasa, Kuala Lumpur, Malaysia, majalah Pembinaan Bahasa Indonesia, Jakarta; majalah Bina Bahasa dan Seni IKIP Jakarta, harian Kompas, Jakarta.
Kini, jabatan tetap seiak l966 sampai sekarang adalah tenaga pengajar di IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) dalam mata kuliah bahasa Indonesia dan Linguistik Umum.

“Dengan menghidupkan kesenian dan menggeluti kebudayaan, hidup kita diperkaya,” kata Jakob Oetama selaku pendiri Bentara Budaya, dan pendiri Harian Kompas di moment Milad ke-35 Bentara Budaya.

Dalam sambutannya Jacob Oetama mengatakan, Kesenian dan kebudayaan memberi kesempatan kepada kita secara bersama-sama dan sendiri-sendiri mengambil jarak dan membuat perenungan, refleksi yang kritis terhadap persoalan kehidupan.
Motivasi itulah yang mendorong Bentara Budaya selama 35 yahun ini terus menyelenggarakan program, dan berbagai ruang bagi pementasan, pameran, diskusi dan dialog masyarakat. (des)