(Panjimas.com) – Suatu ketika seorang ulama dicekal penguasa. Ia boleh tinggal di negerinya namun tak boleh mengajar dan berkhutbah. Boleh mengayun langkah tapi ilmunya ditinggal di rumah. Pencekalan ulama adalah pemenjaraan ilmu. Ibarat tungku tak boleh dipakai memasak, mobil tak boleh dikendarai.

Ulama yang dicekal bernama Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Ia ulama besar yang sudah bermaqam Imam. Umat membutuhkannya. Ia gudang ilmu di zaman itu.

“Aku mencari tahu rumah Ahmad bin Hanbal,” kenang seorang yang ingin sekali berguru pada Sang Imam. Semangatnya menuntut ilmu sungguh luar biasa. Dari orang ini akan kita petik inspirasi berharga.

Bukan dunia. Bukan kedudukan, kehormatan di mata manusia, pun harta benda. Lelaki seberang laut Mediterania itu hanya butuh ilmu, penerang jalan agar tak terperosok ke jurang. Ia sadar betul, ilmu yang bersumber dari wahyu adalah bekal keselamatan.

“Seseorang menunjukkan. Aku mengayun langkah menuju rumahnya. Kuketuk pintu, dia membuka,” lelaki itu melanjutkan kisah.

Namanya Baqi bin Makhlad al-Andalusi rahimahullah. Pergi jauh dari Andalusia ke Baghdad demi berguru kepada Imam Ahmad. Lima ribu enam ratusan kilometer terlanjur ditempuh, ternyata bakal gurunya sedang dicekal, tak boleh mengajar.

“Tiada yang lebih kusukai daripada membantu orang seperti Anda. Namun saat ini aku sedang tertimpa fitnah, dan kurasa Anda pun sudah mengetahuinya,” kata Imam Ahmad.

“Ya, aku telah mendengarnya. Tapi ini kedatanganku kali pertama, tak ada orang yang mengenaliku di sini. Jika Anda berkenan, biarkan aku datang tiap hari dengan penyamaran. Aku akan berpura-pura jadi pengemis, akan kuucapkan apa yang biasa mereka ucapkan. Lalu, kumohon Anda keluar memberiku pelajaran walau hanya satu hadits,” Baqi memohon.

“Baiklah, tapi Anda jangan muncul di halaqah-halaqah taklim, juga jangan mendatangi para ahli hadits,” Imam Ahmad merespon.

“Baiklah, Insya Allah. Terima kasih banyak.”

Tak mengulur masa, agenda belajar “Si Pengemis” dimulai esok harinya. Seorang lelaki asing mengayun langkah. Kepalanya berbalut kain kumal, tangannya menggenggam tongkat potongan ranting pohon.

“Pahalaaa… semoga Allah merahmati kalian,” seru lelaki itu. Begitulah seruan khas para pengemis.

Imam Ahmad keluar rumah menyampaikan beberapa hadits. “Si Pengemis” mencatat dan segera menyembunyikan kertas dan tintanya di balik lengan baju, lalu mohon diri. Rutinitas itu berjalan sampai penguasa rezim pencekal Sang Imam menemui ajal. Entah, entah berapa lama.

Kepemimpinan kembali dipegang kubu Ahlussunnah. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah bebas tampil di tengah umat. “Si Pengemis” Baqi bin Makhlad rahimahullah kembali ke wujud asli, leluasa berguru kepada siapa saja tanpa mesti bersembunyi.

Hebat sekali lelaki satu ini. Mengembara sejauh hampir enam ribu kilometer hanya demi ilmu. Aral melintang tak membuatnya kembali pulang. Diambilnya jalan memutar, disusurinya jalan setapak nan sunyi. Demi ilmu, demi bekal keselamatan anak cucu.

Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah baju baru lebih penting daripada buku? Apakah makan di restoran lebih penting dari pengajian?

Rasanya kita sangat perlu berguru pada “Si Pengemis Ilmu” yang kemudian menyusul gurunya menduduki maqam Imam. Imam Baqi bin Makhlad al-Andalusi rahimahullah. Wallahu a’lam. [IB]