(Panjimas.com) – Sebaik-baik manusia adalah yang paling besar sumbangsihnya bagi sesama, begitu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda. Salah satu bentuk sumbangsih yang sangat penting perannya dalam gerak langkah pemajuan peradaban adalah karya pena. Wahyu Allah subhanahu wa ta’ala yang diturunkan kali pertama kepada RasulNya langsung menyentuh ranah itu.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakanmu dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq: 1-5).

Dua kata: “iqra'” (baca) dan “qalam” (pena) dalam wahyu pembuka tersebut adalah kata kunci dunia literasi. Tiada literatur tanpa adanya aktivitas membaca dan menulis. Dengan dua aktivitas itu pula ilmu pengetahuan tersebar ke seluruh penjuru dunia, terwarisi dari generasi ke generasi.

Sangat dalam pesan moral ayat-ayat tersebut. Dalam Tafsir al-Azhar, Buya Hamka menjelaskannya, “Maka kalau kaum Muslim tidak mendapat petunjuk ayat ini dan tidak mereka perhatikan jalan-jalan buat maju, merobek segala selubung pembungkus yang menutup penglihatan mereka selama ini terhadap ilmu pengetahuan; atau merampalkan pintu yang selama ini terkunci sehingga mereka terkurung di bilik gelap, sebab dikunci erat-erat oleh pemuka-pemuka mereka sampai mereka meraba-raba dalam kegelapan bodoh; dan kalau ayat pembukaan wahyu ini tidak menggetarkan hati mereka, maka tidaklah mereka akan bangun lagi selama-lamanya.”

Dalam budaya literasi, banyak sekali sosok salaf yang patut kita teladani. Salah satunya adalah seorang Imam yang hidup di abad ke-14 M, al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah, penyusun Kitab Fathul Bari. Selama hidup, ia menyusun ratusan kitab bernilai tinggi. Untuk menelorkan karya-karya monumental yang tak usang dimakan zaman tentu tak bisa dilakukan secara instan. Butuh proses panjang sekali. Proses pencarian ilmu dan pengkajian mendalam.

Imam bernama panjang Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar rahimahullah sejak belia sudah punya minat besar pada ilmu. Susah payah ia lakukan demi menemukan jawaban-jawaban berbagai pertanyaan yang bermunculan di benak. Ilmu Allah ta’ala tak pernah ada habisnya. Tak cukup mencarinya di Mesir saja. Rihlah panjang ia lakukan: demi ilmu.

Negeri-negeri yang pernah al-Hafiz “keruk” ilmunya antara lain, al-Haramain (Makkah dan Madinah), Damaskus, Baitul Maqdis dan kota-kota lain di Palestina: Nablus, Khalil, Ramlah, juga Ghuzzah; pun di beberapa daerah di Yaman.

Pada umur 23 tahun, al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah mulai menyusun kitab. Pekerjaan “mengikat ilmu” terus ditekuninya hingga mendekati ajal tiba (28 Dzulhijjah 852 H/2 Februari 1449 M). Pada masa itu, kitab-kitab karyanya tersebar luas ke berbagai penjuru. Para pembesar negeri-negeri biasa menjadikannya hadiah untuk orang-orang yang dihormati dan sayangi.

Menurut Imam as-Sakhawi rahimahullah, murid al-Hafiz, karya pena gurunya ada lebih dari 270 kitab. Kebanyakan membahas hadits secara riwayat dan dirayat. Selain Fathul Bari, beberapa karya besarnya antara lain, ad-Durar al-Kaminah, Tahzib at-Tahzib, al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, Bulughul Maram, al-Isti’dad Li Yaumil Mii’aad, dan Nukhbatul Fikr.

Ada dua pesan besar dari kisah al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Ashqalani rahimahullah di atas. Gelora thalabul ‘ilmi dan mengikatnya dengan cara menulis. Dua pekerjaan besar para pejuang peradaban. Sekarang, mari coba tengok rumah kita. Apakah kedua kerja mulia itu sudah ada di sana?

Untuk saudara Muslimku se-Indonesia, mari kita sadari bersama bahwa bangsa kita saat ini berada di urutan sangat bawah dalam budaya literasi. Kita kaum Muslim sebagai warga negara mayoritas bertanggung jawab di hadapan Allah ta’ala atas keadaan ini. Mari berbenah bersama, kita tumbuh kembangkan budaya literasi di kalangan kaum beriman agar tak mudah dipermainkan setan!

Terkhusus untuk teman-teman Forum Lingkar Pena (FLP) yang sedang mengadakan Munas ke-4 di Bandung, penulis mengucapkan selamat berjihad dengan abjad. Mari jaga ketulusan dan keistiqamahan di jalan kebenaran. Tak harus yang terdepan, tapi marilah genggam erat keikhlasan. Selamat berjuang! Wallahu a’lam. [IB]