(Panjimas.com) – Ada tujuh petuah yang dipesankan Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam kepada Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu sebagaimana sering diceramahkan para ustadz di mimbar. Tapi bukan itu yang di maksud oleh judul tulisan ini. Ada petuah lain, petuah yang menelisik hati, yang mengingatkan agar kita tidak takjub pada apa yang banyak orang takjubi hingga lupa diri.

Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu adalah sabihunal awwalun dari kalangan Arab Badui (bangsa pedalaman yang terkenal keterbelakangannya). Hari-harinya sangat dekat dengan Nabi selama jadi pembantu beliau dan tinggal di Masjid Nabawi. Bila kita tengok masa lalunya, akan tampak “wajah” yang  sama sekali berbeda. Abu Dzar alias Jundab bin Junadah bin Sakan al-Ghifari lahir di pedalaman Bani Ghifar, daerah pegunungan dekat jalur kafilah dagang Makkah-Syria, yang kondisi sosialnya sangat memrihatinkan: terbelakang dan kekurangan.

Keadaan sosial Bani Ghifar yang demikian membentuk dekadensi moral akut yang mendorong mereka mencari rezeki dengan jalan haram: merampok kafilah dagang. Di dunia luar, Bani Ghifar terkenal sebagai kaum pengacau keamanan.

Di lingkungan seperti itulah Jundab bin Junadah tumbuh. Setelah besar ia menjadi sewajah dengan kaumnya. Ia sosok lelaki yang ditakuti orang karena terkenal sangat kejam dalam aksi perampokan.

Namun, singkat kisah, Allah subhanahu wa ta’ala memberinya hidayah. Setelah bersyahadat dan belajar Islam di Makkah, Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu pulang dan berdakwah di kampung halamannya. Prestasi dakwahnya gemilang luar biasa. Atas kehendak dan pertolonganNya, potret Bani Ghifar berubah seratus delapan puluh derajat. Yang semula kawanan perampok, jadi kaum beriman penegak kebenaran. Taraf hidupnya membaik karena Allah ta’ala mencurahi keberkahan.

Mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam hijrah ke Yatsrib, sementara kaumnya dirasa sudah mampu mandiri tanpa didampingi, Abu Dzar menyusul Sang Nabi dan mengabdi sebagai pembantu hingga beliau wafat.

Dalam sejarah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pernah memberi petuah tentang hakikat kekayaan kepada si mantan perampok ini.

“Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang banyaknya harta sebagai kekayaan?”

“Benar, wahai Rasulullah,” jawabnya.

“Apakah engkau memandang sedikitnya harta sebagai kemiskinan?”

“Benar, wahai Rasulullah.”

Beliau lantas bersabda, “Sesungguhnya kekayaan itu adalah kayanya hati, dan kemiskinan juga adalah miskinnya hati.” (Hr. Ibnu Hibban).

Satu petuah penting seorang Nabi untuk perampok tobat. Hingga sekarang, petuah agung ini masih abadi dan dibaca para santri, disampaikan para ustadz kepada orang yang mengaji, ditulis dan dimuat di media oleh tim redaksi. Untuk apa? Untuk kita mengerti. Agar kita tak salah mengerti. Bahwa kaya dan miskin tempatnya di hati, bukan pada materi. Pemilik banyak harta pada hakikatnya miskin bila hidupnya jadi budak hartanya. Tapi orang yang hanya punya bahan pangan untuk hari ini pada hakikatnya kaya bila menerima kenyataan itu dengan qana’ah, syukur, sabar, dan istiqamah berjuang memerbaiki keadaan.

Jangan bersedih bila harta sedang tak mudah kita dapati. Mari terus berjuang dengan penuh harapan, karena Allah ta’ala Maha Mencukupi! Wallahu a’lam. [IB]