(Panjimas.com) – Syaikh Imam Muhammad Zahid Al-Kautsari, pada masa tuanya pernah tenggelam yang membuatnya hamper wafat, kalau Allah tidak menyelamatkannya. Dalam kejadian tersebut , ia kehilangan sejumlah manuskrip yang sangat berhargayang selalu ia bawa, baik saat berpergian maupun bermukim, karena manuskrip itu begitu berharga dan karena ia sangat mencintainya. Ia terus menyesalinya seumur hidupnya.

Kejadian selengkapnya seperti ini. Pada tahun 1336 H, ia berada di Kota Qasthamuni. Ia ingin pulang ke Istanbul. Pada saat itu sedang musim dingin. Tidak mungkin melakukan perjalanan melalui darat, karena banyak salju. Maka, ia mengambil jalan laut. Ketika tiba di pelabuhan Araili, ia menyewa perahu kecil untuk pergi ke Asqasyasyahar, pelabuhan kotanya bernama Duzajah, untuk mengunjungi keluarganya disana.

Mendekati perairan Aqtasyasyahar, laut bergejolak dan perahu kecil itu terbalik, tetapi para penumpangannya tetap pegangan pada perahunya. Dua penjaga pantai yang sedang berada di pesisir pun terjun ke air. Keduanya berenang dengan membawa tambang yang panjang. Keduanya mengikat perahu kecil itu dan kembali ke pesisir untuk menariknya. Pada saat perahu kecil itu di Tarik, ombak membesar dan menggulung-gulung, sehingga perahu kecil itu lepas dari kendali mereka menuju ke tengah laut. Maka, syaikh tenggelam di tengah ombak.

Kemudian, laut tenang sesaat, maka mereka menyelamatkan orang-orang tenggelam. Tidak seorang pun yang sebelumnya mengenal syaikh dapat mengenalinya, karena ia dalam keadaan sangat kedinginan dan melawan ombak. Mereka mengiranya termasuk orang-orang yang telah mati. Akan tetapi, seorang laki-laki itu berkata, “Pukullah kakinya, tundukkanlah kepalanya supaya air yang ada di dalam perutnya keluar. Jika ia masih hidup, maka Allah akan menghidupkannya.” Syaikh dalam kondisi demikian dalam waktu yang cukup lama. Tiba-tiba ia kembali bergerak-gerak, dan siuman sedikit. Setelah berhari-hari, ia pun pulih seperti sedia kala.

Pada saat tenggelam, ia sedang membawa sejumlah manuskrip yang sangat berharga. Ada manuskrip abad keenam, juga manuskrip abad ke tujuh. Itu termasuk kitab-kitab langka. Kecintaan yang sangat kepadanya membuatnya selalu membawa sejumlah manuskrip tersebut ke mana pun ia pergi. Di antara manuskrip itu ada kumpulan risalah, seperti kitab tentang Manaqib Abi Hanifah, karya Ibnu Hajar Al-Haitsami, belum tercetak; kitab’ Aqidatuth Thahawiyah, tulisan tangan Ibnul Adim yang terkenal dengan tulisan tangannya yang bagus, dan kumpulan risalah tersebut sering dikaji berulang kali. Juga kitab-kitab berharga dan langka lainnya, semuanya hilang di telan air. Syaikh terus menyesalinya sepanjang hidupnya, semoga Allah merahmatinya.”. [DP]

 

Buku: Dahsyatnya Kesabaran Para Ulama

Penulis: Syaikh Abdul Fattah