(Panjimas.com) – “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antaramu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (al-Hujuraat: 13).

Setiap bangsa punya ciri fisik tersendiri. Bahkan dalam satu suku atau bahkan dalam satu keluarga sekalipun, Allah subhanahu wa ta’ala mencipta perbedaan. Lima anak dari orang tua yang sama, sangat mungkin ada yang berkulit cerah ada yang gelap. ada yang pendek ada yang tinggi. Ada yang gemuk dan ada pula yang kurus.

Dalam pergaulan sehari-hari, sebagian kita kadang memersoalkan keadaan fisik tersebut. Hinaan terhadap kondisi fisik yang menurut pandangan umum tidak menarik kadang terlontar sebagai pelampiasan kekesalan. Atau bahkan sebagai sikap kesombongan, merasa diri lebih berkualitas dari segi penampilan.

Hal ini sebenarnya sepele. Namun apakah boleh disepelekan? Tidak. Karena, sikap tak bermutu seperti itu bisa berakibat fatal, bisa merusak persahabatan dan keharmonisan bermasyarakat. Bahkan bisa memicu permusuhan frontal. Dan apakah peristiwa perendahan fisik hanya terjadi di zaman modern kini? Ternyata tidak. Di zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pernah pula terjadi peristiwa demikian.

Suatu hari sejumlah shahabat bermajelis guna membicarakan sesuatu. Di antara mereka adalah Bilal bin Rabah dan Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhuma. Abu Dzar mengemukakan usulan, “Aku usul agar pasukan diperlakukan begini dan begini.”

Rupanya Bilal punya pandangan lain. Ia menyanggah, “Jangan! Itu gagasan yang salah.”

Sontak Abu Dzar marah. Ia menyergah, “Berani-beraninya kau menyalahkan wahai anak budak berkulit hitam? La ilaha illallah. Bercerminlah kau, lihat siapa dirimu sebenarnya!”

Marahlah Bilal. Ia tak terima ibunya disangkutpautkan dalam penghinaan. Berlalulah ia menuju masjid guna melapor kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

“Wahai Rasulullah, maukah Engkau mendengar apa yang dikatakan Abu Dzar kepadaku?”

“Apa yang dikatakannya?” tanya Rasul.

Bilal menjelaskannya dan seketika berubahlah rona wajah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Beliau marah mendengar sikap tak bermutu Abu Dzar.

Rupanya shahabat asal Bani Ghifar yang terkenal temperamen ini menyusul Bilal.

“Assalamu’alaikum wahai Rasulullah,” sapanya.

“Wahai Abu Dzar, engkau telah menghina sahabatmu dan ibunya. Di dalam dirimu masih ada sifat jahiliyah,” tegur Rasul.

Bagaikan petir sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bagi telingan Abu Dzar. Ia menangis, mendekat, dan merengek.

“Wahai Rasulullah, mintakanlah ampunan kepada Allah untukku…”

Mantan perampok ini terus menangis menyesali sikapnya yang tak pantas. Ia keluar dari masjid lalu menyungkur menempelkan pipinya di pasir bekas tapak kaki Bilal. Ia berkata, “Demi Allah wahai Bilal, aku tak akan bangkit sebelum kakimu menginjak pipiku. Engkaulah orang mulia dan akulah yang hina.”

Melihat itu, Bilal menangis haru. Ia melangkah menghampiri shahabat yang tadi menghinanya.
Diciumnya pipi yang sesungguhnya minta diinjaknya. Ia mengajak shahabatnya bangkit berdiri. Mereka berdua berpelukan di hadapan Nabi. Sungguh, mereka sadar akan pentingnya ukhuwah, sadar untuk meminta maaf bila bersalah dan memberi maaf kepada orang yang tobat.

Sungguh, kejadian ini penting untuk kita jadikan cermin bagi kehidupan sosial kita saat ini. Berhati-hati bersikap, menahan amarah, memaafkan dan memberi maaf. Itulah bentuk-bentuk akhlaq mulia yang harus kita pelihara.

Wallahu a’lam. [IB]