(Panjimas.com) – Pedoman hidup kaum Muslim sepanjang zaman setelah al-Qur’an adalah hadits. Hadits adalah perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, dan pembolehan beliau atas gerak langkah para shahabat. Sampai di zaman kita, hadits bisa lestari lantaran dipelihara secara berkesinambungan, diriwayatkan dari generasi ke generasi. Tingkat orisinalitas hadits dapat diuji dan digolongkan tingkatannya. Ada yang berderajad shahih, hasan, dan dhaif. Bila ada hadits palsu pun, tetap dapat diketahui lewat ilmu hadits, terkhusus ilmu sanad atau jalur riwayat.

Dari masa ke masa, sangat banyak tokoh yang terlibat dalam pelestarian hadits. Mulai generasi shahabat sampai zaman sekarang. Salah satu tokoh ahli hadits generasi tabi’ut tabi’in adalah Syu’bah bin al Hajjaj rahimahullah.
Nama lengkapnya adalah Abu Bustham Syu’bah Ibnul Hajjaj al ‘Utakiy al Azdi rahimahullah. Ia berasal dari Wasith, lalu hijrah ke Bashrah dan menetap di sana.

Syu’bah bin al-Hajjaj rahimahullah adalah imam di masanya. Ia dikenal kuat hafalannya. Ia menerima hadits dari sejumlah tokoh tabi’in seperti Ibnu Sirin, Amr bin Dinar, asy Sya’by dan lainnya rahimahumullah. Dan perawi yang menerima hadits darinya adalah al-A’masy, Ayyub as-Sakhtayani, Muhammad Ibnu Ishaq, ats-Tsauri, Ibnu Mahdi, Waki’, Ibnul Mubarak, Yahya al Qaththan, dan lainnya rahimahumullah.

Syu’bah bin al-Hajjaj rahimahullah dikenal dan diakui kehebatannya oleh para ulama di zamannya dan setelahnya. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Tidak ada di masa Syu’bah orang yang sepertinya dalam bidang hadits dan tidak ada yang lebih baik tentang hadits daripadanya.”

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Andaikata tidak ada Syu’bah, orang Irak tidak banyak mengetahui hadits.”

Sufyan ats-Tsaury rahimahullah berkata, “Syu’bah adalah Amirul Mukminin dalam bidang hadits.”

Dan Shalih Ibnu Muhammad rahimahullah berkata, “Ulama yang mau mengatakan tentang hal rijal hadits adalah Syu’bah.”

Begitulah potret intelektualitas Syu’bah bin al-Hajjaj rahimahullah dalam bidang hadits. Begitu besar. Pun, terbilang panjang kesempatan yang Allah ta’ala berikan padanya untuk mengabdikan diri di bidangnya. Usianya hingga 77 tahun. Ia wafat di Bashrah pada tahun 160 H. Sejak itu ia tiada, tapi, hadits-hadits yang pernah diriwayatkannya tetap dijadikan pegangan berjuta kaum Muslim, bahkan mungkin –disadari atau tidak– juga oleh kaum non Muslim, di berbagai penjuru dunia.

Ini satu inspirasi berharga. Lantas hal apa yang sudah kita bangun untuk ditinggalkan sebagai kemaslahatan umat setelah kita meninggalkan dunia?. Mari persiapkan dari sekarang!

Wallahu a’lam. [IB]