(Panjimas.com) – Pada suatu masa, sebelum Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Muhammad bin Abdullah menjadi RasulNya, bangsa Quraisy punya hari besar yang tiap tahun dirayakan. Suatu ketika, saat perayaan, mereka berkumpul di dekat salah satu berhala yang diagungkan. Mereka berkurban di samping berhala itu, beriktikaf di sana, juga bernazar atasnya.

Dalam riuh suasana perayaan hari besar itu, tiba saja ada empat lelaki menyingkir dari kerumunan. Mereka saling berbisik.

“Kita sepakat untuk jujur dan saling menjaga rahasia.”

“Ya!”

Empat orang itu adalah Waraqah bin Naufal, ‘Ubaidullah bin Jahsy, ‘Utsman bin al-Huwairits, dan Zaid bin ‘Amr bin Nufail.

“Demi Allah, kalian telah mengetahui bahwa kaum kita tidak berpijak pada apa-apa. Mereka telah berlaku salah terhadap agama moyang kita, Ibrahim. Mengapa kita thawaf di sekitar batu yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak mendatangkan mudarat dan manfaat? Wahai kaum, carilah sebuah agama untuk diri kalian, karena, demi Allah, kalian sedang tidak berpijak di atas apa pun!” terang salah satu dari empat lelaki itu.

Mereka pun lantas pergi berpencar. Entah ke arah mana  menuju, yang pasti maksud mereka adalah mencari Hanifiyah, mengikuti bapak mereka, Ibrahim ‘alaihissalam.

Waraqah bin Naufal melirik agama Nasrani. Ia menemui umat Nasrani guna mendapatkan kitab-kitab agama itu untuk dipelajari. ‘Ubaidullah bin Jahsy terus mencari agama yang seharusnya ia peluk. Ia sempat menemukan Islam dan turut berhijrah ke Habasyah. Namun sangat disayangkan, waktu di Habasyah, ia tergiur dengan agama Nasrani. Dipeluknya agama itu sampai mati. Nyaris senasib dengannya, ‘Utsman bin al-Huwairits masuk Nasrani. Ia menjadi pejabat tinggi pada kerajaan Romawi.

Lantas bagaimana dengan Zaid bin ‘Amr bin Nufail? Ia menjadi orang yang bertahan pada Hanifiyah. Ia memegang teguh tauhid, tidak masuk Yahudi maupun Nasrani, juga tidak mengikuti kesyirikan kaumnya.

Zaid berteguh hati menjauhi berhala. Ia juga menentang tradisi mengubur anak perempuan hidup-hidup.

“Aku menyembah Tuhannya Ibrahim,” tegasnya.

Asma’ binti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha pernah berkisah, “Aku pernah melihat Zaid bin ‘Amr bin Nufail, seorang yang sudah lanjut usia, menyandarkan punggungnya pada Kabah dan berseru, ‘Wahai orang-orang Quraisy! Demi Dzat yang jiwa Zaid bin ‘Amr berada di tanganNya, tidak seorang pun dari kalian yang memegang agama Ibrahim selain aku. Ya Allah, seandainya aku mengetahui wajah apakah yang paling Engkau cintai niscaya aku menyembahMu dengannya. Tetapi aku tidak mengetahui.’ Kemudian ia bersujud sekenanya.”

Hingga wafat, Zaid bin ‘Amr bin Nufail teguh menjadikan Hanifiyah sebagai keyakinannya. Ia wafat sebelum Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam menerima wahyu. Kira-kira lima tahun sebelum itu.  Ia punya anak bernama Sa’ad bin Zaid yang kelak menjadi salah satu shahabat Nabi yang menerima kabar gembira dijamin masuk surga.

Wallahu a’lam. [IB]