Mengambil ‘Ibrah Perang Opini yang Menentukan di Zaman Rasulullah

BOGOR (Panjimas.com) – Pendiri Sirah Community Indonesia (SCI) Ustadz Asep Sobari Lc MA, mengungkapkan perang opini telah terjadi sejak zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal itu disampaikan Ustadz Sobari dalam sebuah kajian saat Rapat Kerja (Raker) Jurnalis Islam Bersatu (JITU), di Mega Mendung, Bogor, Jawa Barat, Selasa (23/2/2016).

“Penyebaran dakwah Islam terkait sangat erat dengan pembentukan opini tehadap dakwah dan pembawanya, yaitu Rasululllah,” jelas Ustadz Sobari dalam slide yang dipaparkan.

Ia menambahkan, kepribadian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan julukan Al Amin adalah modal awal dakwah yang sangat penting.

Mengapa demikian? Pada tahap dakwah di Mekkah (periode makiyah), orang-orang kafir Quraisy begitu gencar membangun opini dengan memberi stigma buruk terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Makanya quraisy itu dari awal untuk menghentikan Rasulullah, bagaimana menjauhkan orang agar tidak bertatap muka langsung dengan Rasulullah, maka yang dibentuk adalah stigma,” ujarnya.

Tujuannya, agar orang-orang tidak bertatap muka secara langsung dan berdialog dengan Rasulullah, yang memiliki daya magnetik tinggi.

Meski diberi label buruk seperti, tukang sihir, orang gila dan lain sebagainya, Rasulullah tidak bergeming dan tidak menyibukkan diri dengan melakukan klarifikasi ke sana sini. Opini buruk itu terbantahkan dengan sendirinya dengan akhlak mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah fase Mekah, perang opini pun semakin menghangat ketika perang Badar bermula. Hingga selanjutnya, perang opini memiliki peran penting dalam pertempuran berikutnya seperti perang Uhud, Ahzab, Hamraul Asad, Mu’tah dan lainnya, hingga menggapai kejayaan Islam.

Hal yang perlu diketahui, berbagai peperangan jihad yang dilakukan tersebut, bukan sekedar untuk mengalahkan musuh secara fisik.

“Rasul memandang lawan-lawannya sebagai bagian yang harus ditarik menerima kebenaran, sehingga perang dalam Islam itu bukan untuk menghabisi lawan, tetapi membangun hujjah,” tandasnya.

Sehingga pada intinya, dalam perang opini yang sangat menentukan ada dua hal penting yang perlu dimiliki, yakni kekuatan Narasi dimana Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar Rasulullah dan pribadi Qur’ani yang membentuk karakter Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [AW]