(Panjimas.com) – Semua makhluk hidup butuh makan. Bagi manusia, makanan merupakan kebutuhan vital yang idealnya diasup setiap hari. Artinya, aktivitas makan merupakan rutinitas harian. Dan setiap aktivitas orang Mukmin, terlebih lagi rutinitas harian, hendaknya dilakukan dengan akhlaq terpuji.

Salah satu akhlaq Mukmin dalam hal makan adalah sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan.

“…. Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (al-A’raf: 31).

Berlebihan dalam mengasup makanan merupakan perbuatan tercela. Hal tersebut merupakan ekspresi sikap hedonis yang sangat jelas bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Hedonisme adalah paham yang menjadikan kenikmatan dunia sebagai tujuan, sementara aqidah Islam dengan jelas meyakini kehidupan dunia sebagai ruang dan waktu beribadah yang hasil akhirnya akan dituai kelak di akhirat.

Maka itu nalar mengatakan bahwa bila hidup hanya diagendakan untuk memuaskan nafsu duniawi yang salah satunya adalah mencecap kelezatan makanan, kerugianlah yang didapatkan. Kesempatan hidup menjadi sia-sia karena tak berisi agenda bermutu yang berguna bagi masa depan. Penyia-nyiaan kesempatan hanya mengundang kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala, dan bila Dia telah murka maka kebinasaan akan menimpa.

“Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan jangan melampaui batas yang menyebabkan kemurkaanKu menimpamu. Barangsiapa ditimpa kemurkaanKu, maka sungguh binasalah ia.” (Thaha: 81).

Usia orang beriman hendaknya diisi dengan kemanfaatan. Menurut Islam, aktivitas makan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tubuh agar sehat dan berkualitas, sehingga dapat menunaikan tugas hidup sebagai khalifah. Untuk itu seharusnya orang beriman memerhatikan makanan yang akan diasup, memilih yang benar-benar dibutuhkan dan berdampak baik bagi jiwa, badan, dan lingkungan. Dan itu akan dapat tercapai sempurna bila porsinya wajar, sesuai kebutuhan, tak berlebihan.

Keberlebihan dalam mencecap makanan merupakan bagian dari gaya hidup glamaor. Hedonisme dan keglamoran adalah dua hal yang tak terpisahkan dan merupakan salah satu bentuk kesombongan. Kesombongan adalah akhlaq yang sangat tercela, sangat dibenci oleh Allah dan RasulNya.

“Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan kesombongan.” (Hr. Baihaqi).

Gaya hidup hedonis nan glamor bisa dipastikan mengandung pemborosan. Pemborosan merupakan akhlaq tercela yang pelakunya oleh Allah ta’ala disebut sebagai saudara setan.

“…. dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (al-Isra: 26-27).

as-Sa’di rahimahullah dalam memaknai ayat di atas menjelaskan bahwa pemboros disebut teman setan karena setan tidak mengajak kecuali kepada perbuatan tercela. Ia mengajak manusia berlaku kikir atau sebaliknya, boros. Sementara Allah ta’ala memerintahkan kita agar menempatkan diri secara proporsional.

“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfaqkan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. Di antara keduanya secara wajar.” (al-Furqan: 67).

Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam kembali menegaskan bahwa takaran proporsional adalah pilihan terbaik dalam setiap hal. Begitulah prinsip Islam.

“Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan.” (Hr. Bukhari).

Tentang adab makan, khususnya porsi makan ideal, beliau memberikan gambaran matematisnya.

“…. Sesungguhnya cukup bagi anak Adam untuk makan sekadar beberapa suap makanan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Dan apabila diperlukan maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk udara.” (Hr. Ibnu Majah, an-Nasa’i, dan Tirmidzi).

Porsi asupan ideal menunjang kesehatan dan kinerja jiwa dan raga dalam menunaikan tanggung jawab kehidupan. Dan asupan yang berlebihan membuat kinerja jiwa dan raga melemah karena kesehatannya terganggu.

“Jauhilah olehmu mengisi perut dengan penuh makanan dan minuman, sebab mengisi perut dengan penuh akan membahayakan tubuh dan menyebabkan malas shalat.” (Hr. Bukhari).

Begitulah akhlaq Islam dalam mengasup makanan. Bila kita mampu menetapinya dengan baik, insya Allah keberkahan rezeki dan kebahagiaan hidup akan kita dapatkan. Wallahu a’lam. [IB]