(Panjimas.com) – “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Begitulah bunyi alenia ketiga Pembukaan UUD 1945. Secara implisit, kita dapati dari naskah tersebut bahwa Bangsa Indonesia secara konstitusional mengakui bahwa kemerdekaan Indonesia adalah karunia Allah ta’ala yang diperoleh melalui ikhtiar perjuangan. Para pahlawan berikhtiar dan Allah ta’ala yang memberikan hasilnya.

Adalah akhlaq Mukmin, apabila Allah ta’ala memberi nikmat kepadanya, ia berkewajiban mensyukurinya. Kemerdekaan Indonesia adalah nikmat Allah ta’ala yang wajib disyukuri oleh Bangsa Indonesia, yang beriman khususnya. Lantas bagaimanakah cara mengekspresikan syukur itu? Secara normatif kita semua telah faham, mensyukuri kemerdekaan adalah mengisinya dengan pembangunan. Namun pembangunan yang bagaimanakah? Hal ini sangat penting untuk dikaji secara mendalam.

Tapi bukan di sini tempatnya, di sini kita hanya akan merenung bersama. Kita coba menatap gambaran pembangunan itu melalui cara Bangsa Indonesia memeringati hari kemerdekaan yang sejak beberapa hari lalu sudah bisa kita saksikan. Apakah bentuk peringatan itu sudah mencerminkan pembangunan yang semestinya? Mari kita teliti bersama!

Sejak penulis masih kecil hingga kini dewasa, bentuk peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus secara mendasar masih sama, tak ada perubahan berarti. Dari tahun ke tahun yang diadakan hanyalah memasang hiasan fisik dan menggelar perlombaan dan pertunjukan hiburan.

Bila bentuk peringatan itu adalah miniatur pembangunan, hiasan-hiasan yang dibuat dan dipasang selama ini belum mencerminkan model pembangunan yang seimbang dan berkelanjutan (equilibrium and sustainable). Padahal hakikat pembangunan adalah pemulihan daya dukung lingkungan agar tercipta kehidupan sosial-ekologis yang lestari. Hiasan-hiasan itu masih melibatkan dalam porsi banyak material-material anorganik yang [1]merusak lingkungan dan [2]didatangkan dari luar. Pemanfaatannya yang hanya dalam hitungan hari tak sebanding dengan dampak negatifnya terhadap lingkungan, ekonomi, dan budaya, secara jangka panjang.

Kenyataan demikian tentu saja wajib dikoreksi, dievaluasi. Dan mungkin memang begitulah potret pembangunan sesungguhnya di negeri kita; serupa dengan cara masyarakat memeringati hari kemerdekaan setiap tahunnya.

Sebagai Mukmin, kita harus sadar bahwa bentuk peringatan seperti di atas merupakan tindak penggunaan rezeki karunia Allah ta’ala secara tidak tepat dan tidak bijak. Itu adalah pemborosan luar biasa. Jika hanya dipandang dari segi nominal rupiah mungkin tak seberapa, tapi rentetannya adalah kerusakan lingkungan dan budaya yang tak dapat dipulihkan hanya dalam hitungan hari, bahkan bisa jadi butuh waktu lintas generasi. Ini bencana besar!

“…. dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (al-Israa’: 26-27).

Lantas bagaimanakan cara bijak mengekspresikan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan? Sebaiknya kita fahami dulu esensi syukur itu sendiri. Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah, seorang hamba disebut bersyukur apabila menetapi lima hal berikut:

1. Ketundukan hamba kepada Rabb-nya yang untukNya segala kesyukuran.

2. Kecintaan hamba kepada RabbNya yang dariNya segala nikmat.

3. Pengakuan hati bahwa segala nikmat berasal dari Allah ta’ala dan adalah milikNya.

4. Pujian hamba dengan lisannya terhadap segala nikmat yang ia dapat.

5. Penggunaan nikmat tersebut untuk hal-hal yang Allah ta’ala cinta dan ridhai.

Ekspresi syukur yang benar bukanlah aktivitas remeh-temeh yang menghamburkan harta, menyita waktu, dan mengakibatkan kerusakan fisik dan moral. Ekspresi syukur yang benar adalah aktivitas positif yang mendekatkan hamba kepada Khaliqnya. Sebaiknya kita mengerti bagaimana Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam mengekspresikan rasa syukurnya.

Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, “sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam mengerjakan qiyamullail sampai kaki beliau pecah-pecah. Maka aku bertanya, ‘Mengapa engkau melakukan ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang?’ Beliau menjawab, ‘Tidak (bolehkah) aku suka menjadi hamba yang bersyukur?'” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Bila ekspresi syukur kita benar, Allah ta’ala berjanji akan menambah-nabah nikmatNya lagi. Dan bila kita teledor, mengekspresikan syukur dengan cara yang lebih identik dengan tindakan kufur, maka Dia sudah memberi warning dengan azab yang siap menyantap.

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka pasti azabKu sangat berat.'” (Ibrahim: 7).

Kiranya tak perlu diperpanjang lagi. Jika kita mau merenungi tulisan ini dan membiarkan cakrawala berpikir kita meluas lepas, insya Allah akan mengerti, menemukan sendiri, apa-apa yang seyogianya dilakukan dalam memeringati hari kemerdekaan, dan pembangunan yang bagaimana yang selayaknya dilakukan dalam mengisi kemerdekaan sebagai ekspresi syukur atasnya. Wallahu a’lam. []