(Panjimas.com) – Kesombongan adalah tanda bahwa seseorang tidak kenal dengan dirinya. Orang yang mengenal diri sendiri, pasti bersifat rendah hati. Rendah hati atau tawadhu’ adalah rasa rela dianggap lebih rendah dari yang sebenarnya. Ia merupakan sifat ideal-priporsional: tidak sombong, tidak rendah diri. Begitu kata Imam Raghib al-Isfahani.

Rendah hati adalah salah satu bentuk akhlaq mulia. Siapa memiliki sifat ini, ia berhak memeroleh derajat tinggi. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

“Tidaklah seseorang punya sifat rendah hati karena Allah, kecuali Dia akan meninggikannya.” (Hr. Muslim no. 2588).

Tulisan ini hanya akan menampilkan wejangan-wejangan salafusshalih tentang ketawadhu’an yang tak boleh diremehkan. Mencernanya, insya Allah kita menjadi lebih arif dan bijaksana.

“Tahukah kalian apa itu tawadhu’? Tawadhu’ adalah engkau keluar rumah lalu bertemu seorang Muslim. Lalu engkau merasa dirinya lebih mulia darimu.” (Imam Hasan al-Bashri).

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah yang tak pernah menampakkan posisinya. Dan orang yang paling mulia adalah yang tak pernah sengaja menampakkan kemuliaannya.” (Imam asy-Syafi’i).

“Puncak ketawadhu’an adalah engkau memosisikan diri di bawah orang yang sejatinya lebih rendah darimu soal nikmat Allah, sampai dirimu memberitahunya bahwa dirimu tak semulia dirinya.” (Imam Ibnul Mubarrak).

“Tawadhu’ adalah salah satu jalan menuju kemuliaan.” (Urwah bin al-Warid).

“Orang zuhud tapi tidak tawadhu, bagai pohon tak berbuah.” (Ziyad an-Numari).

Selamat mencerna bahasa hati kaum salaf. Semoga akan tumbuh dan terawat sifat tawadhu di diri kita, aamin. Wallahu a’lam. [IB]