(Panjimas.com) – Anda tahu treadmill? Adalah alat fitnes untuk lari di tempat. Saat memakainya, walau tubuh kita bergerak layaknya orang berlari maraton, tetap saja tak bisa maju semeter pun. Mau berlari kencang maupun pelan, hasilnya sama: tetap berada di posisi semula. Alat ini tak dimiliki semua orang. Mungkin Anda juga tak punya. Bila ingin mencoba, silakan datang ke tempat fitnes terdekat.

Tapi, di samping treadmill yang itu, ada treadmill model lain. Banyak sekali orang di dunia ini memiliki dan menaikinya. Treadmill ini tak kasat mata alias ghaib. Nama lengkapnya “Hedonic Treadmill”. Bila treadmill di tempat fitnes berguna untuk menjaga dan meningkatkan kebugaran, hedonic treadmill sebaliknya. Ia membuat kebugaran pemakainya menurun karena kebahagiaan yang dipunya berhenti di tempat, tak bertambah walau taraf ekonominya meningkat pesat.

Seperti apa bentuknya? Oh, kan barang ghaib, tak berbentuklah. Kita hanya bisa memahaminya saja. Dan untuk memudahkan memahami apa itu hedonic treadmill, lebih baik kita simak contohnya.

Si Apen punya penghasilan per bulan dua juta rupiah. Ia tak bisa menyisihkan sebagian untuk ditabung, semua habis dibelanjakan. Setelah sekian waktu, penghasilannya naik menjadi 5 juta. Tapi tetap saja ia tak bisa menyisihkan sebagian untuk ditabung, semua habis dibelanjakan.

Mengapa ini bisa terjadi? Sebabnya bukan dari luar, tapi dari dalam diri Si Apen. Dan bukan dari badannya, tapi dari jiwanya. Naiknya penghasilan Apen membuat syahwat keduniaannya meningkat. Sehingga berapa pun penghasilannya, tetap akan habis untuk belanja. Oleh karenanya, kebahagiaannya tak ikut maju seperti gaya hidupnya yang semakin glamor. Dengan kata lain, peningkatan keglamoran itu tidak menyebabkan kebahagiaannya meningkat. Kasus seperti dialami Si Apen ini dinamakan hedonic treadmill.

Kalau begitu, pantaskah orang beriman “naik” treadmill ghaib bernama hedonic treadmill ini? Mari kita jawab!

Keimanan menyadarkan manusia bahwa hidup di dunia hanya sementara. Prinsip orang beriman adalah “makan untuk hidup”, bukan “hidup untuk makan”. Makan (baca: pemenuhan kebutuhan materi) hanya sebagai penunjang aktivitas ibadah dalam berbagai bentuknya. Orang beriman sadar bahwa dunia hanyalah cobaan yang segala aktivitas di sana akan dipertanggungjawabkan kelak di kehidupan sesudahnya. Orang beriman meyakini bahwa dunia bukanlah tempat mengumbar syahwat duniawi sepuasnya, untuk hal itu ada tempatnya nanti, di jannahNya.

Bicara hedonic treadmill membuat kita ingat Surat at-Takatsur. Dengan surat itu Allah ta’ala me-warning kita agar waspada dengan paham hedonisme yang dianut para pemuja dunia. Di era modern ini kita mesti berhati-hati karena iklim kehidupan mengarahkan pada isme sesat ini. Wanti-wanti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kiranya perlu kita jadikan nutrisi hati.

“Barangsiapa tujuan hidupnya dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang tujuan hidupnya akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (Hr. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Baihaqi)

Jadi, segeralah turun bagi kita yang sedang “naik” hedonic treadmill! Lebih baik naik treadmill yang kasat mata saja sebagai i’dad fisik yang jelas berguna.

Wallahu a’lam. [IB]