(Panjimas.com) – “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (al-Isra’: 16).

Banjir di musim hujan, kekeringan saat kemarau, musim yang tak menentu, cuaca ekstrim, hujan asam, erosi dan hilangnya kesuburan tanah. Serangan hama tanaman, kandungan racun pada pangan, air tanah yang tidak sehat karena tercemar, udara yang tak lagi bersih dan segar, merebaknya berbagai penyakit akibat udara yang dihirup dan makanan-minuman yang diasup sudah tercemar. Dan sebagainya, dan sebagainya. Itulah sederet wujud nyata kerusakan alam yang sedianya penuh keindahan dan keseimbangan.

Akibat ulah siapakah kerusakan itu? Binatang buas di hutan sana, atau jin-jin yang tak kasat mata? Oh, bukan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala menunjukkan jawabannya dengan ringkas dan jelas: manusia!

“Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia ….” (ar-Ruum: 41).

Dengan ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan kepada kaum beriman bahwa kerusakan sumber daya alam tidak lain hanyalah akibat dari rusaknya sumber daya manusia, khususnya kerusakan ruhani/mental/budaya.

Dalam al-Isra’: 14 di atas, Allah subhanahu wa ta’ala secara eksplisit menyebut golongan tertentu dari umat manusia, yaitu orang-orang yang bertaraf ekonomi tinggi dan menganut gaya hidup mewah. Mahabenar Allah tidak asal menyebut. PenyebutanNya adalah isyarat yang sangat jelas bahwa golongan orang dengan tipe itulah yang memiliki potensi besar dalam menimbulkan kerusakan lingkungan.

Bila kita tengok kenyataan di lapangan, gaya hidup mewah memang sering kali menimbulkan problem ekosistem. Mulai dari proses memeroleh harta benda sampai pada saat penggunaannya, dapat kita saksikan dengan sangat gamblang terbukti menjadi penyebab terbesar kerusakan lingkungan.

Para penganut gaya hidup mewah di mana saja telah melazimkan diri bepergian menggunakan mobil walau hanya sendiri, padahal kalau mau jujur sebenarnya dengan sepeda kayuh saja sudah cukup. Mereka tak memikirkan dampak ekologis dari pilihannya. Kalau saja mobilnya bertenaga listrik dan sistem pembangkit listrik di negerinya sudah “sehat”, tentu tak begitu jadi masalah. Tapi kenyataannya mobil itu berbahan bakar BBM minyak bumi yang pastinya menimbulkan polusi, terlebih lagi masih impor dari luar negeri. Sungguh panjang sebenarnya rentetan dosa gaya hidup seperti itu, namun mereka belum mau mengerti.

Mereka belum mau mengerti. Mungkin sebabnya adalah kebodohan ekologis, atau mungkin sebenarnya sudah tahu secara teori tapi terlanjur kecanduan. Mungkin juga karena pengaruh lingkungan dan budaya.

Para penganut gaya hidup mewah juga melazimkan diri belanja produk-produk pabrikan yang bila itu produk pangan sudah ditambahkan bahan-bahan sintetis yang merusak kesehatan. Soal kemasan, produk pabrikan biasanya menganut “madzhab israfi”, berlebihan. Keberlebihan kemasan mengakibatkan lonjakan volume sampah anorganik secara signifikan, sahingga menjadi masalah besar lingkungan. Belum lagi proses produksi, promosi, dan distribusinya yang juga menimbulkan pencemaran, baik di udara, darat, maupun perairan.

Para produsen produk-produk tidak ramah lingkungan itu kebanyakan juga dari golongan penganut gaya hidup mewah. Demi uang, demi menggenjot angka penjualan, mereka mengadakan kampanye gaya hidup mewah yang berpotensi merusak lingkungan. Dan fatalnya, iklan yang mereka tayangkan dan kemudahan belanja yang mereka tawarkan mampu menghipnosis banyak orang. Pantaslah kalau masyarakat modern ini mengalami kebodohan ekologis stadium lanjut.

Berbagai macam kerusakan lingkungan terjadi akibat gaya hidup amburadul penduduk bumi. Lalu berbagai persoalan hidup muncul sebagai dampak lanjutan. Pangan, kesehatan, kependudukan, hancur terkena efek kerusakan alam. Dan sedihnya, sampai kini persoalan lingkungan belum mendapat perhatian yang mendalam, upaya-upaya menanganinya baru bersifat permukaan. Dan yang paling disayangkan adalah, para pegiat dakwah Islam sendiri pun kebanyakan masih mengalami kebodohan ekologis. Mereka merasa tak berdosa saat melakukan amalan hedonis.

Kebodohan ekologis di kalangan Muslim rupa-rupanya berangkat dari pemahaman akhlaq yang dipersempit. Akhlaq baru dimaknai sebatas hubungan baik antar sesama manusia saja. Bagaimana berinteraksi dengan lingkungan hidup terluput untuk dikaji. Padahal sejatinya, perilaku ekologis (bijak lingkungan) merupakan wujud nyata dari akhlaq manusia terhadap Allah subhanahu wa ta’ala. Berjiwa bijak lingkungan adalah tuntutan iman. Untuk pembahasan ini mungkin akan kami ketengahkan pada edisi depan.

Yang pasti, kita berharap semoga kerusakan-kerusakan alam yang sudah terjadi saat ini akan menyadarkan kita untuk kembali tunduk patuh kepada tatanan hidup yang Allah subhanahu wa ta’ala gariskan.

“…. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Ruum: 41).

Bila kita sudah sadar bahwa gaya hidup mewah seperti buah beracun yang menghancurkan masa depan, lalu berhijrah ke gaya hidup zuhud dan sederhana seperti dicontohkan Rasulullah dan para shahabat, semoga alam ini kembali berwajah asri seperti sediakala, dan anak cucu kita bisa menikmatinya dengan penuh syukur padaNya, aamiin.

Wallahu a’lam. [IB]