(Panjimas.com) – Estetika adalah salah satu cabang filsafat yang membicarakan seluk beluk keindahan: bagaimana terbentuknya, dan bagaimana menikmatinya. Bicara estetika adalah bicara rasa, karena keindahan adalah objek yang tak dapat dihitung dengan angka.

Alam semesta dicipta Allah subhanahu wa ta’ala dengan begitu indahnya. Manusia sebagai makhluk yang dibekali akal fikiran pun mampu menciptakan keindahan dengan jalan mengkreasi sumber daya yang tersedia di alam semesta. Ia juga dikaruniai syaraf sensorik untuk dapat menemukan, merasakan, dan menikmati keindahan: diberi kemampuan memahami estetika.

Seiring berkembangnya teknologi, penciptaan keindahan dilakukan dengan beragam cara berbasis teknologi yang ada. Rumah misalnya, dalam merancangnya para arsitek sangat memerhatikan tinjauan estetika. Berbagai bentuk dan warna dikreasi sedemikian rupa demi mencapai nilai estetika yang diinginkan. Begitu pun kendaraan, mulai sepeda, sepeda motor, mobil, kapal, pesawat terbang. Juga pakaian, dan apa saja yang menyelimuti kehidupan kita. Semua dirancang bangun dangan sangat memerhatikan tinjauan estetika.

Peran keindahan memang tak sevital makanan dan minuman. Namun begitu ia bukan hal remeh-temeh dalam kehidupan. Ia bukan kebutuhan fisik, jiwalah yang membutuhkan. Keindahan yang sebenarnya selalu identik dengan kebaikan.

“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan.” (Hr. Muslim).

Dalam mencipta keindahan pada objek tertentu, para pekerja seni mendayagunakan naluri seni, imajinasi, dan kreativitasnya dengan sekuat tenaga. Tak kalah para pelaku usaha. Demi menarik minat sasaran pasarnya, mereka menggunakan jasa pekerja seni dalam mengkreasi keindahan fisik produknya. Pengusaha kue misalnya, mereka memberikan sentuhan seni sebagus mungkin dalam membentuk dan mengemasnya. Sampai sangat banyak ditemukan bahwa demi memeroleh tampilan yang sesuai keinginan, mereka melupakan tinjauan lain yang sangat penting untuk dijaga, yang menyangkut nasib keindahan alam semesta.

Keindahan alam lahir dari rahim keseimbangan ekosistem, begitu sunatullahnya. Keseimbangan adalah syarat lestarinya keindahan alam. Kapal, bila tidak seimbang akan tergulung dan tenggelam. Pesawat terbang, bila tidak seimbang akan hilang kendali dan terjun bebas, terhempas. Keseimbangan ekosistem harus dijaga demi terwujudnya keindahan alam yang lestari.

Alam semesta dicipta Allah subhanahu wa ta’ala dengan keseimbangan sempurna. Ekosistem dirancang bangun sedemikian rupa agar dapat berjalan secara harmonis dan berkelanjutan. Ada matahari sebagai sumber energi yang cukup hingga kiamat nanti. Ada air yang posisinya selalu bergulir. Ada tumbuhan, herbivora, carnivora, omnivora, juga mikroorganisme, yang semuanya berkelit berkelindan tak bisa dipisahkan. Dari interaksi semua komponen itulah tampil keindahan alam.  Begitulah estetika menurut cara pandang Islam.

“Dan langit telah ditinggikanNya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.” (ar-Rahman: 7-9).

Nah, dalam mencipta karya seni, seniman Muslim tak selayaknya melupakan –yang selanjutnya mengorbankan– keindahan alam. Dalam mengkreasi suatu objek demi mencapai keindahan tampilan yang diinginkan, kaum Muslim hendaknya memerhatikan aspek lingkungan. Adakah pencemaran yang akan timbul dari penciptaan karyanya? Adakah kerusakan alam yang akan terjadi akibat aktivitas seninya?

Itulah yang harus diperhatikan oleh kita. Jangan sampai, demi mencipta keindahan kecil, kita korbankan keindahan alam semesta. Bila proses penciptaan karya seni itu tidak bisa tidak harus menimbulkan kerusakan alam, paling tidak kita punya upaya meminimalisasi dan mengadakan aktivitas perbaikan kondisi alam sebagai penyeimbang perbuatan, sebagai penebus dosa merusak lingkungan. Wallahu a’lam. [IB]