(Panjimas.com) – Bagaimana cara mendidik anak agar bersikap sopan, agar tidak suka jajan, agar tidak malas mandi? Bagaimana cara mencuci perabot dapur agar tidak mengontaminasi makanan, bagaimana cara menghemat energi listrik dan air, bagaimana membuat pakaian dan ruangan harum tanpa merusak paru-paru, bagaimana cara memanaskan air agar aman untuk diminum? Makanan apa saja yang tidak baik bila dikonsumsi bersamaan, bagaimana membuat masakan gurih namun tidak berisiko bagi kesehatan, bagaimana cara mencuci sayuran agar nutrisinya tidak banyak yang hilang?

Pertanyaan-pertanyaan itu hanyalah secuil PR ibu rumah tangga. Tapi coba kita akui sekarang, hanya berapa persen ibu rumah tangga negeri ini yang sanggup menjawabnya dengan tepat?! Bukan saja ibu-ibu rumah tangga yang lulusan SD, yang sarjana S3 saja penulis yakin banyak yang tak bisa menjawab dengan benar semua pertanyaan di atas, apalagi mempraktikkannya di rumah?

Sangatlah jelas, pekerjaan ibu rumah tangga membutuhkan bekal ilmu yang besar, wawasan yang luas tentang semua hal yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa rumah tangga. Mnejemen keuangan, ilmu gizi, ekologi, kesehatan, ibu dan bayi, pendidikan anak, botani, desain interior, menejemen konflik, psikologi, dan masih banyak lagi.

Guna mewujudkan rumah tangga yang beradab, yang menjadi lahan semai peradaban gemilang, ibu rumah tangga dituntut mampu menguasai ilmu-ilmu di atas dan mempraktikkannya dalam keseharian.

Maka pantaslah Islam sangat memuliakan kaum ibu. Bukan saja karena secara fitrah mereka menjadi pelaku susah payah pra dan pascamelahirkan, tetapi juga karena peran besarnya dalam membangun peradaban.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, ‘Kemudian ayahmu!’” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Wahai kaum ibu dan calon ibu, senyum dan bersemangatlah! Peranmu di rumah sangat dirindu masa depan. Wallahu a’lam. [IB]