PANJIMAS.COM – Banyak pemikir yang berpendapat bahwa tawa dan senyum adalah salah satu sebab yang paling kuat yang mendorong manusia agar lebih efektif dan produktif.

Oleh karena itu, mereka memberikan nasihat bahwa agar semua orang, sesuai dengan posisinya dalam kehidupan ini, jika ingin hidup dengan tenang, rileks dan berbahagia agar ia selalu penuh humor, sering tersenyum dan tertawa. Hal ini pada gilirannya akan menciptakan nuansa kejernihan, kebersihan, menghilangkan kesedihan, rasa bosan, dan khawatir terhadap kehidupan ini.

Orang-orang China berkata dalam hikmah yang sering mereka ulang-ulang, “Orang yang tidak tahu bagaimana tersenyum seharusnya tidak membuka toko.” Beberapa pakar mengatakan bahwa tawa adalah gerakan dalam akal yang menghilangkan banyak ketegangan. Maka, tidak aneh jika tawa itu (maksudnya tawa yang tidak berlebihan) adalah balsam bagi ruh, obat bagi jiwa dan ketenangan bagi hati yang sedang lelah, setelah bekerja.

Dan senyum serta tawa itu adalah salah satu seni kehidupan yang tidak banyak orang ingin mempelajarinya, meskipun ia mudah.

Abud Darda berkata, “Saya terkadang menghibur hati saya dengan canda yang mubah untuk membangkitkan semangat mengerjakan kebenaran.”

Ibnul Jauzi berkata, “Para ulama yang mulia selalu senang dengan humor dan tertawa mendenganya. Karena ia menyegarkan jiwa dan menghibur hati setelah lelah berpikir.”

Hikmah mengatakan, Senyumlah kepada orang yang mengutangimu niscaya ia akan memaafkanmu, dan kepada sahabatmu niscaya ia akan membelamu.”

Ketahuilah bahwa jika saya ingin banyak menyebut manfaat tertawa dan menghibur jiwa manusia, niscaya memerlukan waktu dan lembaran yang luas sekali. Namun, cukuplah paparan tadi menjelaskan hal ini.

Dalam kitab al-Aqdul-Fariid dikatakan bahwa Yohana dan Syam’un adalah dua orang murid Almasih. Jika Yohana duduk dalam suatu majelis, ia niscaya tertawa dan membuat orang-orang di sekitarnya ikut tertawa.

Sedangkan Syam’un jika duduk dalam suatu majelis, maka ia menangis dan membuat orang-orang di sekitarnya ikut menangis pula.

Kemudian Syam’un berkata kepada Yohana, “Engkau banyak sekali tertawa sehingga seakan-akan engkau telah selesai beramal.”

Sedangkan Yohana berkata, “Engkau banyak sekali menangis, seakan-akan engkau sudah putus asa terhadap Tuhanmu.”

Maka, Allah mewahyukan kepada Almasih bahwa perilaku yang disenangi oleh Allah adalah perilaku Yohana.

Ada yang berkata bahwa penelitian dan riset-riset ilmiah menemukan bahwa mayoritas penyakit stres dan kebosanan atau merasa sempit itu timbul dari terlalu tenggelamnya seseorang dalam pekerjaan yang serius secara-menerus.

Sehingga, membuat seseorang menjadi selalu tegang, bosan, cepat tersinggung dan pemarah. Dan, resep yang diberikan oleh semua orang bagi kondisi semacam itu adalah agar ia sering tertawa. Karena tertawa kan membuat manusia mampu meneruskan pekerjaan dengan semangat yang tinggi, dinamis, dan enerjik.

Sosok yang sering tersenyum akan lebih mudah untuk sukses dibandingkan yang lainnya. Karena ia lebih dapat menaklukkan hati orang lain.

Ashmu’i berkata, “Dengan bekerja kita mencapai tujuan kita, dan dengan humor kita meraihnya.” Oleh karena itu, jika seorang manusia sedang dalam kondisi kejiwaan yang tinggi, niscaya ia akan lebih mampu berpikir dan bekerja.

Di sini saya mengajak anda untuk melakukan latihan olahraga yang paling baik bagi tempat yang paling mulia di tubuh anda, latihan itu adalah tertawa. Karena ketika tertawa, Anda berarti menggerakkan tiga belas otot di wajah anda.

Sebuah penelitian menemukan bahwa orang-orang yang sering tertawa dan tersenyum itu adalah orang-orang yang paling sedikit mengalami keriput di wajah karena tua.

Orang-orang Arab memuji orang-orang yang senang tertawa, dan menjadikan hal itu sebagai salah satu perilaku yang baik, kemuliaan perangainya, kedermawanan tabiatnya, dan kelembutan hatinya.

“Orang yang senang tertawa, gembira ketika diberikan dan berbahagia ketika diminta.”

Zuhair berkata tentang “usia tua”, sebagai berikut. “Engkau melihatnya tampak berseri, seakan engkau memberikan apa yang ia pinta.”

Kemudian saya mengajak anda untuk bersikap sederhana dalam tertawa ini dan tidak berlebihan. Sehingga tidak perlu cemberut dengan bentuk yang menakutkan, juga tidak selalu tertawa terus-menerus dengan tergelak tanpa sebab.

Namun, sebaiknya hal itu dilakukan dengan tetap menjaga keseriusan, kewibawaan, dan keyakinan.

Saya berkelakar dengan kelakar yang pantas dan jika orang-orang serius, maka saya pun serius. Hasan al-Bashri berkata, “Hati ini bisa hidup dan mati. Jika hati hidup, maka ajaklah ia untuk mengerjakan ibadah yang sunnah di samping yang wajib. Dan jika ia mati, maka ajaklah ia untuk mengerjakan yang wajib.”

‘Atha bin Saib berkata, “Sa’id ibnuz-Zubair pernah menyampaikan kisah kepada kami sehingga membuat kami menangis, dan setelah itu tidak lama berselang ia membuat kami tertawa.”

Cemberutnya wajah, meringis dan mengeluh serta kata-kata yang sejenis, adalah kata-kata yang saya harapkan agar anda hapus dari kamus kehidupan Anda.

Dengarkanlah kisah ini. Suatu ketika para pegawai di sebuah pusat perbelanjaan di Paris meminta agar gaji mereka dinaikkan. Namun, pemilik usaha tersebut menolaknya. Kemudian para pegawai tersebut bereaksi dengan sepakat untuk tida tersenyum kepada para pelanggan. Dan akibatnya adalah menurunnya pemasukan pusat perbelanjaan itu pada pekan pertama  sekitar 60 % dari rata – rata pemasukannya di pekan-pekan sebelumnya.

Ahmad Amin berkata dalam buku Faidh al-Khathir, “orang yang tersenyum tidak hanya lebih berbahagia dengan diri mereka saja, namun mereka juga lebih mampu bekerja, lebih mampu menanggung tanggung jawab, lebih kuat dalam menghadapi kesulitan dan menyelesaikan masalah, serta melakukan hal-hal besar yang memberikan manfaat kepada mereka dan orang banyak.”

Seandainya saya diberikan pilihan antara harta yang banyak atau jabatan yang tinggi, dengan jiwa yang tenang dan selalu tersenyum, niscaya saya memilih yang terakhir itu. Karena apa manfaat harta dengan disertai kecemberutan? Apa manfaat jabatan dengan disertai tertekannya jiwa? Apa manfaat seluruh apa yang ada dalam kehidupan ini jika pemiliknya merasa sempit dan tertekan seakan-akan ia baru saja melayat jenazah orang yang dikasihinya? Apa nikmatnya kecantikan isteri jika ia cemberut dan mengubah rumah tangganya menjadi neraka?

Maka, akan lebih baik sekali jika isteri anda tidak secantik dia namun mampu membuat rumah tangga Anda menjadi laksana surge.

Jiwa yang selalu tersenyum akan melihat kesulitan-kesulitan dengan tenang, untuk kemudian mengalahkan kesulitan itu. la melihat kesulitan itu sambil tersenyum, berikutnya menanganinya dengan tersenyum pula dan selanjutnya ia mengalahkannya dengan tersenyum pula. Sedangkan, jiwa yang cemberut ketika melihat kesulitan ia akan membesar-besarkannya, kemudian semangatnya menjadi lemah dan berikutnya ia lari darinya, dan berlindung di kepompongnya sambil mencaci-maki zaman dan tempat. la selalu beralasan dengan kata-kata “seandainya”, “jika”, dan “kalau.” Padahal zaman yang ia cela itu tidak lain dari hasil temperamen dan pendidikannya.

la ingin berhasil dalam kehidupan tanpa ingin membayar harganya. la melihat di seluruh jalan adanya macan yang mengincarnya. la menunggu hingga langit hujan emas atau bumi memuntahkan kekayaannya. Dan, tidak ada yang membuat jiwa dan wajah cemberut itu yang melebihi keputusasaan.

Maka, jika Anda ingin tersenyum, perangilah keputusasaan itu. Kesempatan masih ada bagi anda dan manusia.

Pintu keberhasilan itu terbuka bagi anda dan orang banyak. Maka, biasakanlah akal anda untuk membuka harapan dan menduga datangnya kebaikan di masa depan.

Sekarang marilah kita nikmati syair yang menarik berikut ini.

Eilia Abu Madhi berkata,

“la berkata, langit sedang mendung dan tidak cerah

Saya katakan, senyumlah, cukuplah mendung itu di langit saja!

la berkata, masa muda telah lewat,

Saya katakan senyumlah penyesalan itu tidak mengembalikan masa muda yang telah lewat

la berkata, senyuman itu tidak membahagiakan siapa pun la datang ke dunia dan pergi dengan terpaksa

Saya katakan senyumlah selama antara Anda dengan kematian ada jarak sehasta, karena setelah itu Anda tidak akan tersenyum.”

Alangkah perlunya kita tersenyum dan berwajah cerah, berdada lapang, berperangai tenang, mempunyai ruh yang damai dan berlaku baik, “Allah memberikan wahyu kepadaku agar hendaknya kalian bertawadhu hingga tidak ada seseorang yang berbuat curang atas orang lain, dan tidak ada seorang pun yang berbangga diri atas orang lain.”

(Dikutip dari buku “Tersenyumlah” Karya Syaikh Dr Aidh Al-Qarni)

[AW]