AMSTERDAM, (Panjimas.com) – Parlemen Belanda pada hari Selasa (29/11) melarang penggunaan cadar di tempat umum. Para pendukung kebijakan pelarangan cadar yang disahkan Parlemen itu berdalih sangat penting untuk menjaga keamanan namun pihak-pihak yang berlawanan dengan kebijakan itu menyatakan bahwa UU itu sangat bersentimen anti-Muslim, seperti dilansir IINA.

Pemungutan suara telah dilakukan di Parlemen, dan itu menjadikan Belanda sebagai negara Eropa terbaru yang melarang perempuan Muslim untuk mengenakan jilbab, cadar maupun burka di muka umum.

UU itu disahkan oleh Majelis Rendah Parlemen tetapi kebijakan itu masih membutuhkan persetujuan Senat.

UU itu melarang jilbab, dan barang-barang lainnya yang menyembunyikan wajah seperti topeng ski dan helm, di tempat-tempat umum, dengan berdalih bahwa melihat wajah pemakainya dianggap penting, untuk menjaga keamanan, tempat umu yang dimaksudkan itu termasuk di gedung-gedung pemerintah, transportasi umum, sekolah dan rumah sakit.

Untuk diketahui hanya sedikit wanita di Belanda memakai pakaian seperti itu, tetapi masalah ini sudah menjadi agenda utama selama bertahun-tahun, dan itu merupakan salah satu tuntutan utama partai oposisi anti-Islam, Partai Kebebasan [Freedom Party], yang saat ini sedang memimpin dalam jajak pendapat menjelang pemilihan umum pada Maret mendatang.

Perancis dan Belgia telah benar-benar melarang penggunaan cadar di wilayah publik dan beberapa negara Eropa lainnya telah melakukan pembatasan-pembatsan di tingkat lokal ataupun regional. Sanksi berupa denda dikenakan senilai 405 euro ($ 430), kepada Muslimah yang melanggarnya dengan mengenakan jilbab, cadar, maupun burqa.

“Setiap orang berhak untuk berpakaian seperti dia inginkan,” kata pemerintah dalam sebuah pernyataan yang mengumumkan hukum pelarangan itu. “Kebebasan itu hanya dibatasi di mana, itu sangat penting bagi orang-orang untuk melihat satu sama lain, misalnya untuk memastikan pelayanan yang baik ataupun perihal keamanan.”

Para penentang UU pelarangan cadar jilbab dan burqa itu menuding Perdana Menteri Mark Rutte berupaya mengakomodasi suara-suara anti-Muslim dalam upaya agar dirinya tidak kalah dari calon PM asal Parta PVV, Geert Wilders.

Belanda sejak lama dipandang sebagai salah satu negara yang paling toleran di Eropa,  ketegangan rasial meningkat di Belanda sejak pergantian abad ini, dimana pada tahun 2004 insiden pembunuhan pembuat film kontroversial Theo van Gogh dilakukan seorang militan, dan itu secara luas dianggap sebagai titik balik toleransi di Belanda.[IZ]