VIRGINIA, (Panjimas.com) – Seorang Gadis Muslim Amerika berusia 17 tahun dipukuli dan diculik setelah Ia meninggalkan sebuah Masjid di Virginia pada hari Ahad (18/06).

Muslimah itu diculik, dipukuli, dan akhirnya dibunuh oleh seorang pria yang kemudian ditangkap polisi karena dicurigai melakukan pembunuhan keji.

Jasad gadis itu kemudian ditemukan di kolam, sebelum dibuang oleh pelaku demikian menurut pihak berwenang.

Serangan tersebut memicu merebaknya kesedihan dan ketakutan mendalam di komunitas Muslim yang tiap malam menunaikan ibadah sholat tarawih selama Ramadhan di Masjid Komunitas Muslim Dulles, sekitar 30 mil di luar Washington, dikutip dari IINA.

Insiden pembunuhan keji itu juga mengganggu konsentrrasi ibadah komunitas muslim Virginia AS, sehubungan dengan sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadan.

Serangan tersebut terjadi pada hari Ahad (18/06) setelah korban dan beberapa teman yang berjalan di luar Masjid mengalami perselisihan dengan seorang pengendara motor di komunitas Sterling, kata Departemen Kepolisian Fairfax County dalam sebuah pernyataan.

Pada satu titik, pengendara motor turun dari kendaraannya dan menyerang gadis itu, kata polisi.

Gadis muslimah itu kemudian dilaporkan hilang oleh teman-temannya yang berlarian saat diserang oleh sekelompok geng motor, dan teman-temannya tidak dapat menemukannya setelah insiden itu, dan pencarian berjam-jam dilakukan oleh pihak berwenang di wilayah Fairfax dan Loudoun.

Sekitar pukul 3 sore, jasad perempuan yang diyakini sebagai korban ditemukan di sebuah kolam di Sterling, kata polisi.

Selama mencari remaja muslim yang hilang itu, pihak berwenang menghentikan seorang pengendara motor yang “menyetir dengan mencurigakan di daerah tersebut” dan menahan pengendaranya, Ia kemudian diidentifikasi sebagai Darwin Martinez Torres, 22 tahun.

Polisi memperoleh surat perintah penangkapan yang menuding Torres bertanggung jawab kematian gadis muslimah itu, kata Departemen Kepolisian Fairfax County.

Seorang juru bicara polisi mengatakan kepada wartawan bahwa serangan tersebut menyusul semacam perselisihan antara pria dan gadis-gadis muslim tersebut, dan pihak berwenang tidak mengesampingkan kebencian sebagai motivasi untuk melakukan penyerangan.

Jumlah insiden bias anti-Muslim di Amerika Serikat melonjak 57 persen pada 2016 menjadi 2.213 kasus, naik dari 1.409 kasus pada tahun 2015, kelompok advokasi Council on American-Islamic Relations (CAIR) mengatakan dalam sebuah laporan bulan lalu.

Sementara CAIR telah melihat kenaikan insiden anti-Muslim sebelum kebangkitan Donald Trump yang mengejutkan dalam pemilihan Presiden tahun lalu dan kemenangannya pilpres November lalu.

CAIR mengatakan bahwa percepatan dalam insiden bias anti-muslim sebagian besar karena fokus Trump pada retorika kelompok militan dan anti-imigran muslim.[IZ]