COX’S BAZAR, (Panjimas.com) –  Seorang perempuan Rohingya berusia lanjut sekitar 120 tahun kini sedang dirawat di sebuah rumah sakit lapangan Turki di Bangladesh.

Perempuan lansia itu bernama Azime Hatun. Ia dilaporkan telah tiba di rumah sakit lapangan di kota Cox’s Bazar, di dekat wilayah perbatasan Bangladesh dengan Myanmar, setelah menjalani perjalanan melelahkan selama enam hari, dilasnir dari Anadolu Ajensi.

Nenek Azime Hatun kini tidak dapat berbicara karena usianya yang sangat tua akan tetapi putrinya Ayshe Hatun setuju untuk berbicara atas namanya.

Ayshe mengatakan dirinya memulai perjalanan dengan ibunya, serta 2 saudara laki-laki dan 2 saudara perempuannya.

Kedua saudara laki-lakinya bergantian membopong ibu mereka di bahu-bahu mereka, akan tetapi saudara laki-lakinya itu kemudian meninggal dunia setelah mencapai wilayah Bangladesh.

Ayshe Hatun, kini berusia 40-an, Ia mengatakan sekarang dirinya yang harus menjaga ibunya sendiri.

Ayshe memuji para dokter di rumah sakit lapangan di Cox Bazar, Ia menambahkan bahwa kondisi ibunya kini membaik setiap harinya setelah mendapatkan perawatan.

“Kami selalu berdoa untuk Turki,” ujarnya.

Untuk mengapresiasi perjuangan perjalanan keluarga pengungsi Rohingya itu, delegasi Parlemen Turki menyempatkan untuk menemui Ayshe dan Azime Hatun.

Husnuye Erdogan, Wakil Ketua Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) untuk Provinsi Konya, telah mengunjungi rumah sakit Turki di Cox Bazar dan bertemu dengan Azime Hatun (120 tahun).

Husnuye mengatakan bahwa dengan membuat para pengungsi Rohingya berbahagia telah membuat rakyat dan pemimpin Turki merasa bangga.

Ayse Dogan, anggota Parlemen Turki lainnya yang berkunjung ke Cox Bazar, mengatakan: “Di bawah kepemimpinan Presiden dan Perdana Menteri Turki, kami di sini hadir untuk membantu Anda [Rohingya].”

Kunjungan delegasi Parlemen Turki ini diorganisir oleh Otoritas Bencana dan Manajemen Darurat Turki, Turkish Disaster and Emergency Management Authority  (AFAD).

Myanmar dan Bangladesh sebelumnya dilaporkan telah menandatangani kesepakatan repatriasi untuk tahun ini, namun pihak berwenang Myanmar menolak mengizinkan badan-badan internasional manapun termasuk PBB untuk mengawasi proses pemulangan pengungsi Rohingya tersebut.

Lebih dari 750.000 pengungsi, kebanyakan anak-anak dan perempuan, telah meninggalkan Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh sejak 25 Agustus 2017, akibat tindakan brutal dan kejam pasukan Myanmar terhadap komunitas Muslim minoritas, demikian menurut Amnesty International (AI).

Etnis Rohingya, digambarkan oleh PBB sebagai etnis yang paling teraniaya dan tertindas di dunia, Mereka telah menghadapi ketakutan tinggi akibat serangan pasukan Myanmar dan para ektrimis Buddha.

Sedikitnya 9.000 Rohingya dibantai di negara bagian Rakhine mulai 25 Agustus hingga 24 September, demikian menurut laporan Doctors Without Borders [MSF].

Dalam laporan yang diterbitkan pada 12 Desember lalu, organisasi kemanusiaan global itu mengatakan bahwa kematian 71,7 persen atau 6.700 Muslim Rohingya disebabkan oleh kekerasan. Diantara para korban jiwa itu, termasuk 730 anak di bawah usia 5 tahun.

Dilaporkan bahwa lebih dari 647.000 penduduk Rohingya terpaksa menyeberang dari Myanmar ke Bangladesh sejak 25 Agustus 2017 ketika Tentara Myanmar melancarkan tindakan brutal dan kejam terhadap Minoritas Muslim itu, sementara itu menurut angka PBB, jumlahnya adalah 656.000 jiwa.

Para pengungsi Rohingya tersebut melarikan diri dari operasi militer brutal Myanmar yang telah melihat pasukan militer dan massa ektrimis Budhdha membunuhi pria, wanita dan anak-anak, bahkan menjarah rumah-rumah dan membakar desa-desa Muslim Rohingya.[IZ]