JAKARTA (Panjimas.com) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali membuat sensasi dan kontroversi pada bulan suci Ramadhan 1436 H kali ini. Namun kontroversi dari sikap Jokowi kali ini benar-benar tidak pantas untuk dicontoh serta diteladani oleh umat Islam.

Pada saat mantan Walikota Solo ini mengajak ratusan anak yatim se-Jabodetabek untuk berbuka puasa bersama di Istana Negara, Jakarta pada Kamis (18/6/2015) lalu, dihadapan anak-anak yatim itu Jokowi terlihat minum sambil berdiri dan memakai tangan kiri.

Jokowi yang minum sambil berdiri dan memakai tangan kiri ini terekam oleh jepretan wartawan JPPN yang pada saat itu sedang meliput acara buka puasa bersama tersebut. Perilaku Jokowi ini kemudian mengundang kritikan dari mayoritas tokoh Islam di Indonesia.

Pasalnya, didalam ajaran Islam sangat jelas sekali diterangkan bagaimana tata cara makan dan minum sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sebagai manusia mulia dan teladan bagi umat Islam dengan tegas melarang umatnya untuk makan dan minum sambil berdiri, serta memakai tangan kiri.

Dari Anas dan Qatadah, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri. Qotadah berkata: ”Bagaimana dengan makan?” Beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi”. (HR. Muslim dan Tirmidzi)

…Janganlah kalian makan dengan tangan kiri karena setan makan dengan tangan kiri…

Makan dan minum bagi umat Islam juga harus dilakukan dengan tangan kanan. Hal ini berdasarkan hadits dari Rasulullah SAW yang disampaikan Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma:

إذا أَكَلَ أحدُكُم فليأكلْ بيمينِهِ . وإذا شرِبَ فليشربْ بيمينِهِ . فإنَّ الشَّيطانَ يأكلُ بشمالِهِ ويشربُ بشمالِهِ

“Jika seseorang dari kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanannya, dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya”. (HR. Muslim No. 2020)

لا تأكلوا بالشِّمالِ ، فإنَّ الشَّيطانَ يأكلُ بالشِّمالِ

“Janganlah kalian makan dengan tangan kiri karena setan makan dengan tangan kiri”. (HR. Muslim No. 2019)

Para tokoh Islam mengkritisi Jokowi karena sebagai seorang pemimpin, Presiden Jokowi seharusnya memberikan teladan dan contoh yang baik. Apalagi jika perilaku itu dilakukan dihadapan anak-anak yang mudah meniru apa yang mereka lihat.

Terlebih lagi, Presiden Jokowi pada waktu yang lalu pernah mengajak rakyat Indonesia untuk meneladani sifat Nabi Muhammad SAW. Hal ini sebagaimana berita yang pernah dimuat oleh Republika dengan judul “Indonesia Ingin Jadi Negara Besar, Jokowi: Teladani Sifat Nabi Muhammad SAW“.

Dalam momen itu, Presiden Jokowi menegaskan bahwa dengan meneladani sifat Nabi Muhammad SAW, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang maju dan sejahtera.

“Kalau kita bisa meneladani beliau dalam gaya hidup sehari-hari, saya yakin Indonesia bisa menjadi negara besar, makmur dan sejahtera,” kata Jokowi dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara, pada Jum’at (2/1/2015) malam.

Ternyata hal itu hanya hiasan lisan belaka dari Presiden Jokowi. Faktanya, meneladani Rasulullah dalam hal-hal yang kecil dan sederhana saja seperti urusan makan dan minum Jokowi tidak bisa, apalagi pada hal-hal yang besar seperti mengatur sebuah negara. [GA/dbs]