SOLO (Panjimas.com) – Usai melakukan aksi demo di halaman DPRD Solo, ratusan Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Solo Raya (APMS) menyalami aparat kepolisian dan menawarkan snack dan minuman.

Aksi menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) nomor 2 tahun 2017 tentang organisasi kemasyarakatan (ormas), itu berjalan tertib dan simpatik.

“Ini bapak-bapak kok kenapa yang luar Solo disuruh pulang, ini kan bisa menggunakan diskresinya, tadi ada Anam disuruh pulang apa tampangnya pemberontak atau tampang mau buat makar?,” ujar salah satu orator, Jumat (11/8/2017).

Beberapa anggota APMS sebagian mendengarkan orasi di luar, bahkan ada yang diseberang jalan Adi Sucipto sebelah utara kantor DPRD.

Rahmat salah satu peserta aksi mengatakan hanya ingin meluruskan ketidakadilan. HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang menjadi tumbal Perppu ormas menurut dia, karena telah membongkar ancaman dari luar yang memiskinkan, dan memecahbelah bangsa.

“Islam itu kebaikan untuk semua, jangan sampai diputarbalikkan, dibuat Islam itu dianggap teroris, radikal. Itu sebenarnya negara barat yang teroris, dia ndak mau kekayaan alam dinikmati orang muslim,” ucap Rahmat usai memberikan salam kepada aparat Polisi yang mengamankan aksinya.

Sementara itu, peserta wanita yang sejak awal menunggu tumpukan dus, berusaha membagikan snack dan minuman bagi peserta aksi dan aparat Polisi setelah acara bubar. [SY]