WASHINGTON, (Panjimas.com) – Ratusan jamaah Muslim menjanjikan dana lebih dari $ 20.000 dolar pada Rabu siang (09/08) demi informasi terkait pelaku serangan bom di sebuah Masjid di Minnesota, AS, pekan lalu.

Sebuah alat peledak rakitan dilemparkan ke kantor Imam di “Dar Al Farooq Islamic Center” di Bloomington, hingga merusak bagian Masjid tersebut, namun serangan bom ini tidak mengakibatkan korban jiwa pada Sabtu Subuh (05/06).

FBI sedang menyelidiki serangan tersebut, sementara Gubernur Minnesota Mark Dayton menyebut pengeboman “Dar Al Farooq Islamic Center” sebagai tindakan terorisme.

“Penghancuran yang dilakukan ke situs suci ini tidak terpikirkan, tak termaafkan. Saya berharap dan berdoa agar pelaku ditangkap dan diadili dengan setimpal secara hukum, ” pungkasnya, Ahad (06/08).

Keputusan Gubernur Dayton yang menyebut serangan terhadap Masjid itu sebagai bentuk “serangan terorisme” telah menarik perhatian dan apresiasi dari komunitas Muslim-Amerika.

Akan tetapi, Presiden Donald Trump dan pihak Gedung Putih sejauh ini tetap diam membisu, tidak sedikit pun menyentuh kasus serangan Masjid tersebut.

Ketika ditanya tentang tidak adanya tanggapan Gedung Putih, Deputi Asisten Trump Sebastian Gorka mengatakan bahwa pihak Gedung Putih sedang menunggu hasil penyelidikan, dan menunjukkan bahwa serangkaian kejahatan kebencian yang dimaksudkan untuk menyalahkan di pihak sayap kanan telah dilakukan oleh kaum kiri di negara tersebut dalam 6 bulan terakhir.

Tidak jelas pihak mana yang dimaksudkan Sebastian Gorka.

“Terdapat peraturan yang bagus: semua laporan awal salah, Anda harus memeriksanya. Anda harus mencari tahu siapa pelakunya,” kata Gorka kepada media-media Amerika.

Trump sebelumnya secara tergesa-gesa segera mengutuk keras serangan teror di masa lalu saat para pelakunya diidentifikasi seorang Muslim, dan seringkali Trump melampaui penyelidikan otoritas lokal dalam menentukan sifat serangan tersebut, Namun diam membisu ketika Muslim AS menjadi sasaran serangan teror dan kejahatan kebencian.

“Insiden tersebut merupakan gejala dari berkembangnya suasana Islamofobia di AS,” kata Direktur Komunikasi CAIR, Ibrahim Hooper, kepada Anadolu Ajensi.

“Karena kapan pun Anda melihat motif yang mungkin ada dalam kasus seperti ini, nampaknya Islamofobia akan menjadi jenis motivasi utama yang akan Anda lihat”, pungkasnya.

Hooper mengatakan pemberian penghargaan atau reward khusus di masa lalu telah berhasil dalam mengumpulkan informasi-informasi yang mengarah pada penangkapan pelaku penyerangan.

“Karena seringkali mereka membual kepada orang dan teman, serta keluarga mereka, bahwa mereka telah melakukan ini dan mereka bangga akan hal itu. Kemudian seseorang akhirnya, karena insentif pemberian (reward), menawarkan informasi kepada polisi dan mereka ditangkap,” imbuh Hooper.

Secara nasional, kantor pusat Council on American Islamic Relations (CAIR) juga mendesak Masjid-Masjid dan Pusat-Pusat Islam di seluruh negeri untuk meningkatkan keamanan.

 

Hendak Sholat Subuh, Masjid di Minnesota AS Dibom

Masjid di negara bagian Minnesota dibom pada Sabtu pagi (06/08), disaat umat Islam berkumpul untuk menunaikan sholat subuh berjamaah.

Kepolisian Bloomington mengatakan bahwa bom tersebut hanya merusak Kantor Imam Masjid di “Dar Al Farooq Islamic Center”.

Para jamaah Subuh segera memadamkan api sebelum petugas pemadam kebakaran tiba. Hingga berita ini diterbitkan, pihak FBI masih menyelidiki motif dan kronologi pengeboman Masjid di Minnesota itu.

“Seorang saksi melihat ada sesuatu yang dilemparkan ke jendela kantor Imam dari sebuah van atau truk sebelum ledakan itu,” kata Asad Zaman, Direktur Masyarakat Muslim Amerika Minnesota (Muslim American Society of Minnesota), pada sebuah konferensi pers.

Direktur Eksekutif Masjid “Dar Al Farooq Islamic Center”, Mohamed Omar menambahkan bahwa kendaraan tersebut, diduga sebuah van, segera melesat pergi.

Masjid yang didominasi warga keturunan Somalia itu, sama halnya seperti banyak Masjid lain di seluruh AS, yang telah menerima berbagai telepon dan email yang bernada ancaman, kata Omar kepada Star Tribune.

“Saat itu jam 5 pagi (09.00GMT),” ujarnya. “Seluruh lingkungan tenang, orang-orang seharusnya masih tidur, begitulah damainya keadaan ini. Saya terkejut saat mengetahui hal ini terjadi”, pungkasnya.[IZ]