JAKARTA (Panjimas.com) – Meski Anies Gubernur DKI Anies Baswedan tak mau ambil pusing atas aksi walk out komposer Ananda Sukarlan di acara peringatan 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius, Sabtu (11/11), namun sikap itu disesalkan Franz Magnis Suseno. Bagi Franz, itu adalah sikap permusuhan terhadap Anies Baswedan.

Peristiwa walk out (WO) yang dilakukan alumni Kanisius yang dimotori Ananda Sukarlan, saat Gubernur DKI Anies Baswedan hadir dan berpidato memenuhi undangan 90 Tahun Kolese Kanisius.

Kata Romo, jika memang tidak suka, sikap seharusnya yang dilakukan adalah tetap memberikan kesempatan untuk Gubernur baru DKI membuktikan diri. Ditambah lagi kedatangan Anies adalah sebagai tamu yang notabene harus dihormati sama seperti tamu lainnya.

“Tamu harus dihormati, tamu datang karena diundang panitia, maka semua yang ikut undangan panitia, harus menghormati tamu pun pula kalau secara pribadi tidak menyetujuinya. Silahkan panitia dikritik. Tetapi menginisiasikan suatu demonstrasi penghinaan terbuka terhadap Gubernur DKI saya anggap penyalahgunaan kesempatan,” ungkapnya.

Franz Magnis Suseno pun menyayangkan sikap Ananda Sukarlan terhadap Anies Baswedan. Padahal menurutnya tidak ada yang salah dengan isi pidato Anies pada saat memberikan sambutan.

“Menurut saya memalukan dan sangat saya sesalkan. Gubernur bicara, sebagian besar hadirin, mengikuti bapak Ananda Sukarln meninggalkan ruangan. Andaikata Gubernur mengatakan sesuatu yang tidak senonoh, jahat, menghina, walkout dapat dibenarkan,” kata Magnis dalam pernyataan tertulis, yang tersebar di media sosial, Selasa (14/11).

Menurutnya, amat wajar apabila penitia mengundang Gubernur DKI untuk datang diacara 100 tahun Kolese Kanisius. Namun tidak dibenarkan apabila kemudian ada sikap dari peserta yang hadir dan justru meninggalkan ruangan pada saat gubernur menyampaikan pidatonya.

“Amat disayangkan bahwa sebagian peserta menggunakan kesempatan seratus tahun Kanisius untuk menunjukkan permusuhan terhadap Gubernur DKI,” ucapnya.

Anies, lanjut Magnis, dipilih secara demokrasi. Sehingga menurutnya tidak bisa dibenarkan apabila Ananda menunjukan permusuhan terhadap pribadi Gubernur dalam acara tersebut.

“Walk out kemarin menunjukkan permusuhan terhadap pribadi Gubernur merupakan suatu penghinaan publik. Kok bisa? Di negara mana pun, di luar pertemuan politik, hal itu jarang terjadi,” terangnya.

Sementara itu, Tokoh Tionghoa Yap Hong Gie, anak dari Yap Thiam Hien, merespon siaran pers dari Perkumpulan Alumni Canisius 86. “Sungguh merendahkan nilai Canisius, bahwa perayaan kebesaran 90 tahun Canisius di”beraki” oleh sikap politik yang berjiwa kerdil dan wawasan sempit, direpresentasikan oleh Sdr. Ananda Sukarlan.

Terlebih memalukan lagi beliau seakan bangga atas sikap dan statement politiknya yang ditumpangi dalam perayaan Canisius, seolah-olah Cansius adalah ormas politik tertentu.

Adalah kewajiban dan tanggung jawab kita semua untuk menjaga agar Canisius tidak disusupi oleh anasir-anasir politik, yang ingin menjadikan lembaga pendidikan yang kita cintai ini menjadi suatu onderbouw dan kegiatan partai politik tertentu. (des)