JAKARTA, (Panjimas.com) – Kisah ditangkapnya sang murtadin yang melakukan aksi memurtadkan orang orang Islam kepada agama Nasrani dimana mana. Bahkan dalam salah satu kesempatan, aksinya mengajak orang yang sudah beragama (Islam) di dalam sebuah taksi online.Kemudian sang supir tersebut diajak untuk masuk kedalam agama Nasrani sempat di videokan dan menjadi viral di media sosial berapa waktu lalu.

Setelah itu aparat kepolisian berhasil menangkap aksi pemurtadan tersebut dengan meringkus pelakunya yang bernama Saifudin Ibrahim alias Abraham Moses di rumahnya di daerah Tanggerang. Pelaku dijerat pasal ujaran kebencian dan penghinaan agama dan UU ITE karena video aksinya itu di upload yang bersangkutan di media sosial (Facebook).

Pada saat berlangsung sebuah acara pertemuan para da’i dan ustad di daerah Pd Gede, Jakarta Timur pada hari Selasa (19/12) Panjimas berkesempatan mewancari anak kandung dari Abraham Moses yang bernama, Saddam Husen yang kini menjadi seorang ustadz dan berdakwah di masyarakat.

Putra kedua dari Abraham Moses itu menyesalkan tindakan Ayahnya yang telah melakukan kesalahan fatal dengan tindakan ujaran penghinaan agama dan ajakan berpindah agama. Sebab, hal itu tidak pantas disampaikan terlebih kepada umat yang memiliki agama, seperti yang dilakukan Abraham.

“Kami selaku anak ingin mendengar beliau, bukan mengkritisi. Saya teringat Abi melakukan hal itu (pemurtadan) karena memiliki alasan tidak bisa menjalankan ajaran Islam secara Kaffah (menyeluruh). Padahal, semua yang ada di dalam Bibel dijalankan oleh umat muslim. Seperti perintah khitan, tidak makan babi dan berapa lain sebagainya,” ujar sapaan akrab Adam.

Karena itu, ia mengingatkan apa yang sudah diyakini oleh ayahnya merupakan sebuah pilihan dan harus siap menerima konsekuensi atas ajaran dalam agama Kristen yang diyakininya itu. Secara keturunan, kata Adam, Ayahnya merupakan harapan kakeknya. Sikapnya yang memilih murtad dan melakukan pemurtadan sangat disesalkan oleh seluruh keluarganya di NTB (Nusa Tenggara Barat) yang merupakan keluarga muslim yang kuat disana.

“Kami telah melakukan sebuah pilihan dan menetapkan hati kami terhadap Islam, serta siap untuk menerima segala konsekuensi,” kata Saddam Husen.

Adam menjelaskan ketika Abraham mengajar di Az-Zaitun. Ada lima mata pelajaran yang wajib diajarkan yaitu Aqidah Islam, Tarikh, Bahasa Arab, Al Quran, dan juga Hadits. Dia sangat menyayangkan hal itu menjadi bahan Abraham Moses dalam menyampaikan misi pemurtadan dengan argumen yang sangat lemah.

“Harapan kami kepada Abi, buka hati, buka pikiran karena umur manusia tidak ada yang tahu. Ketika ada jalan untuk berhijrah dan bertaubat, ambillah,” saran dia.

Dalam kesempatan yang sama. Ketua Komisi Dakwah Khusus dari Majelis Ulama Indonesia (KDK-MUI), Abu Deedat Syihabuddin menyatakan, sepak terjang Abraham dapat menimbulkan ketidak harmonisan dalam kerukunan umat beragama di Indonesia apabila terus dibiarkan.

“Tentu ditangkapnya dia, kami merasa senang karena dapat meminimalisasi gesekan antar umat beragama. Kami berharap kasus ini segera diproses secara hukum, karena kalau tidak, maka akan muncul orang-orang lain yang melakukan hal sama,” ujar Abu Deedat.

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Fadil Imran mengatakan, Abraham diamankan sekitar pukul 22.00 WIB, Selasa malam, 5 Desember 2017, oleh Unit 1 Sudit II dan Tim Tindak Satgas Siber Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.

“Dirinya mengaku memposting di akun FB Saifuddin Ibrahim (milik yang bersangkutan) tentang ujaran kebencian terhadap agama tertentu (SARA),” kata Fadil dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu, (6/12).

Abraham disangkakan dengan pasal 28 ayat 2 Undang-undang No.19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang No.11 tahun 2008 tentang ITE. Sejumlah barang bukti disita dari Abraham, di antaranya 1 buah Iphone 6 Plus warna putih.

“Yang bersangkutan sekarang ditahan di tahanan Polda Metro Jaya sembil menjalani pemeriksaan pihak penyidik dari Bareskrim Polri. [ES]