ISTANBUL, (Panjimas.com) – Duta Besar Bangladesh untuk Turki baru-baru ini mengungkapkan pujiannya atas sikap dan kebijakan Turki dalam menanggapi respon terkait krisis rohingya serta krisis pengungsi di dunia.

Saat diwawancarai Anadolu di Istanbul, Duta Besar Allama Siddiki mengatakan “Setelah krisis [Rohingya] ini dimulai pada bulan Agustus 2017, Presiden Republik Turki Yang Mulia Recep Tayyip Erdogan adalah pemimpin Muslim pertama yang keluar dengan segenap kekuatannya dalam mengadvokasi solusi dari masalah ini”, ujar Dubes Allama Siddiki.

“Kami sangat menghargai isyarat tersebut, reaksi Turki dan masyarakatnya terhadap masalah ini”, pungkasnya,

Duta Besar Bagladesh di Istanbul itu juga memuji Turki karena menjadi sebuah negara, yang menampung jumlah pengungsi terbesar di dunia saat ini.

“Kami juga sangat menghargai bahwa Turki adalah negara penampungan pengungsi terbesar di dunia hari ini,” jelasnya.

“Itu adalah semacam pelajaran yang harus dipelajari semua orang di dunia tentang bagaimana membantu orang-orang yang membutuhkan”, imbuhnya.

Konsulat Jenderal Bangladesh di Istanbul Mohammad Monirul Islam memuji media Turki atas kontribusinya yang bertanggung jawab dan bijaksana terhadap krisis pengungsi di dunia.

“Peran konstruktif dan afirmatif media di Turki ini telah memberi dimensi internasional pada masalah ini,” ungkap Monirul Islam.

Etnis Rohingya, digambarkan oleh PBB sebagai etnis yang paling teraniaya dan tertindas di dunia, Mereka telah menghadapi ketakutan tinggi akibat serangan pasukan Myanmar dan para ektrimis Buddha.

Sedikitnya 9.000 Rohingya dibantai di negara bagian Rakhine mulai 25 Agustus hingga 24 September, demikian menurut laporan Doctors Without Borders [MSF].

Dalam laporan yang diterbitkan pada 12 Desember lalu, organisasi kemanusiaan global itu mengatakan bahwa kematian 71,7 persen atau 6.700 Muslim Rohingya disebabkan oleh kekerasan. Diantara para korban jiwa itu, termasuk 730 anak di bawah usia 5 tahun.

Dilaporkan bahwa lebih dari 647.000 penduduk Rohingya terpaksa menyeberang dari Myanmar ke Bangladesh sejak 25 Agustus 2017 ketika Tentara Myanmar melancarkan tindakan brutal dan kejam terhadap Minoritas Muslim itu,,] sementara itu menurut angka PBB, jumlahnya adalah 656.000 jiwa.

Para pengungsi Rohingya tersebut melarikan diri dari operasi militer brutal Myanmar yang telah melihat pasukan militer dan massa ektrimis Budhdha membunuhi pria, wanita dan anak-anak, bahkan menjarah rumah-rumah dan membakar desa-desa Muslim Rohingya.[IZ]