JAKARTA, (Panjimas.com) – Hampir setahun lebih GNPF-MUI yang kemudian berganti nama menjadi GNPF-Ulama tidak terlalu terdengar lagi kiprahnya. Kini GNPF Ulama mulai berbenah dan memperbaiki manajemen organisasinya yang ada.

Pada hari Senin (12/3) siang kemarin di Bilangan Tebet Jakarta Selatan, GNPF Ulama kembali berkumpul dan merapatkan barisan, kepengurusan baru pun diumumkan. Yang semula amanah Ketua GNPF Ulama diemban oleh Ustadz Bachtiar Nasir (UBN), kini berpindah amanahnya kepada Ustadz Yusuf Muhammad Martak, seorang pengusaha, aktivis organisasi Islam dan pengurus harian di MUI Pusat saat ini.

Posisi Sekretaris Jenderal (Sekjen) yang dahulu diemban oleh Munarman SH, kini posisi tersebut diganti oleh KH Muhammad Al Khaththath (MAK). Awalnya pada Oktober tahun 2016 silam, GNPF hanya terdiri dari Dewan Pembina, Ketua, Wakil Ketua dan Bendahara.

Lalu, tak lama kemudian ditambahkan jabatan Sekjen yang saat itu diamanahkan kepada Ustadz Muhammad Al Khaththath. Formasi ini kemudian dirubah lagi dengan penggantian Sekjen dan ketua bidang. Saat itu Munarman, Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) yang diminta untuk menjadi Sekjen GNPF, sementara Ustaz MAK menjadi salah seorang ketua bidang yang ada.

Imam Besar Umat Islam yang juga adalah Ketua Dewan Pembina GNPF Ulama, Habib Muhammad Rizieq Syihab (HRS) melalui rekaman audio suara dari Mekkah Al Mukarommah menegaskan, perubahan-perubahan yang terjadi di tubuh GNPF ini tidak berarti gerakan ini mengalami perpecahan sebagaimana tersiar di luar sana. GNPF, kata Habib Rizieq, masih tetap solid.

“Yang berbeda sekarang itu adalah adanya sedikit perubahan, dari kepemimpinan Ustadz Bachtiar yang bersifat sentralistik menjadi kolektif kolegial,” tutur Habib Rizieq Syihab.

Sementara itu Ustad Yusuf Muhammad Martak mengatakan bahwa perubahan pucuk pimpinan GNPF ini hanyalah dalam rangka penyegaran dan pemutakhiran belaka. Tak ada yang istimewa. Sekarang, kata Yusuf, kepemimpinan berbentuk presidium.

“Dalam rangka untuk mengefektifkan manajemen organisasi saja. Kepemimpinan GNPF-Ulama  bersifat kolektif kolegial dan secara bergilir melakukan rotasi dan reposisi tanpa ada pengurangan jumlah anggota pimpinan GNPF-Ulama. Jumlah keanggotaan kepemimpinan GNPF Ulama malah akan ditambah,” tandas Ustadz Yusuf kepada media yang hadir di acara itu.

Senada dengan yang ada diatas itu, maka Ustadz Al Khathathath pun berpendapat sama. Menurut dia, perubahan-perubahan struktural GNPF adalah sesuatu yang amat biasa. Tak perlu ada yang diributkan. Bahkan, cerita Ustadz Muhammad Al Khaththath, awal pendirian GNPF pun juga dalam suasana santai saja, dari hasil kumpul-kumpul para tokoh, ulama dan habaib di sebuah tempat di daerah Matraman, Jakarta Timur.[ES]