MA’RIB, (Panjimas.com) – Menteri Dalam Negeri Yaman Salah Sayyadi Ahad (11/03) lalu mendesak warga negara Yaman untuk turun ke jalanan dengan tujuan menyerukan kembalinya presiden mereka yang melarikan diri dari negara itu pada tahun 2015.

Melalui unggahannya di Facebook, Salah Sayyadi mengatakan bahwa Yaman akan terjun ke sebuah malapetaka kecuali jika Presiden Abd Rabbu Mansour Hadi kembali ke negara tersebut dari Arab Saudi.

“Setiap orang harus melakukan yang terbaik untuk menghentikan milisi Iran di negara tersebut dan mengakhiri kudeta,” pungkasnya, dikutip dari AA.

Beberapa aktivis lokal dan media mengatakan bahwa Abd Rabbu Mansour Hadi berada di wilayah Kerajaan Arab Saudi atas kehendaknya.

Laporan lainnya menunjukkan bahwa Hadi telah meninggalkan negara tersebut karena takut dikepung oleh para pemberontak Syiah Houthi di kota pelabuhan Aden.

Yaman yang kini menjadi negara miskin, tetap berada dalam keadaan kacau sejak tahun 2014, ketika milisi Syiah Houthi dan sekutunya menguasai ibukota Sanaa dan bagian-bagian lain negara ini.

Sejak Maret 2015, koalisi internasional yang dipimpin Saudi telah memerangi pemberontak Syiah Houthi yang disokong rezim Iran dan pasukan-pasukan yang setia kepada mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, Arab Saudi dan sekutu-sekutu negara Muslim Sunni meluncurkan kampanye militer besar-besaran yang bertujuan untuk mengembalikan kekuasaan yang diakui secara internasional dibawah Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

Arab Saudi dan para sekutunya melihat milisi Houthi sebagai proxy kekuatan Iran di dunia Arab. Koalisi militer Arab yang dipimpin oleh Saudi di Yaman terdiri dari Koalisi 10 negara yakni Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Yordania, Mesir, Maroko, Sudan, dan Pakistan.

Sejumlah organisasi hak asasi manusia telah menuding Kerajaan Saudi terlibat kejahatan perang sebagai akibat dari kampanye pengebomannya yang dapat dianggap sembarangan dan menyebabkan kerusakan berlebihan pada negara tersebut termasuk jumlah korban tewas yang cukup tinggi.

Menurut pejabat PBB, lebih dari 10.000 warga Yaman telah tewas akibat konflik berkepanjangan ini, sementara itu lebih dari 11 persen dari jumlah penduduk negara itu terpaksa mengungsi, sebagai akibat langsung dari pertempuran yang tak kunjung usai. Untuk diketahui, lebih dari setengah total korban adalah warga sipil. sementara 3 juta lainnya diperkirakan terpaksa mengungsi, di tengah penyebaran malnutrisi dan penyakit. [IZ]

baca: Dinamika Perang Yaman Berubah Drastis, Pasca Pembunuhan Ali Abdullah Saleh