SUKOHARJO, (Panjimas.com) – Semakin merebaknya aliran sesat dan begitu massifnya penyebaran faham-faham yang bertentangan dengan Islam menjadi persoalan serius bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Penanggulangan faham seperti pluralisme, sekulerisme, radikalisme harus dilakukan secara konsisten dan tekun.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Yunahar Ilyas mengatakan faham sekularisme sudah merata di segala bidang kehidupan. Bahkan di pemerintahan muncul pernyataan agama tidak boleh dibawa dalam politik.

“Terkadang kita dengar ini bukan masalah agama ini masalah politik, ini bukan masalah agama ini masalah bisnis, ini masalah seni, ini masalah budaya. Secara tidak sadar apa yang disampaikan itu faham sekuler,” ujarnya saat ditemui Panjimas usai memberikan materi dalam Workshop Penanggulangan Syi’ah, Pluralisme dan Radikalisme PWM Jawa Tengah di Gedung Induk Siti Walidah UMS, Sabtu (10/3/2018).

Sementara itu di sisi lain, penyebaran aliran sesat dan menyimpang juga masif. Penyebaran aliran sesat di tengah-tengah masyarakat cepat ditanggapi, sebab masyarakat cepat bereaksi. Namun Ironisnya, penyebaran aliran sesat atau ideologi di perguruan tinggi kurang mendapat perhatian masyarakat. Bahkan, saat diketahui ternyata sudah memiliki ribuan pengikut.

“Misalnya kasus Al Qiyadah Al Islamiyyah dengan nabi palsu Ahmad Musadeq. Saat diketahui ternyata sudah ribuan mahasiswa yang mengikuti ajaran itu,” paparnya

Menurut Yunahar Ilyas, kondisi tersebut tidak lepas dari tren hijrah di kalangan generasi muda. Semangat bertaubat dan menjadi Muslim yang baik tidak disertai pembinaan. Selain itu juga tidak disertai kecerdasan untuk memperbandingkan ajaran.

“Sekarang ini ada mahasiswa mahasiswa yang mengalami hijrah, ingin taubat, ingin menjadi muslim yang baik. Semangat Islamnya baik tapi salah dapat guru,” jelasnya

Lebih lanjut Ia menuturkan, kondisi ini menunjukan bahwa masyarakat Islam Imdonesia harus selalu mendapat didikan, bimbingan dan penjelasan tentang ideologi ideologi menyimpang, baik dari Islam mau pun ideologi barat. Hal ini menjadi keharusan bagi Majelis Tabligh, Majelis Ta’lim dan lembaga-lembaga dakwah lainnya.

Menurutnya, langkah jitu dalam menanggulangi ideologi menyimpang adalah dengan konsistensi dan ketekunan. Sedangkan untuk metode relatif fleksibel dan disesuaikan dengan kasus serta kondisi yang dihadapi. Sebaliknya, menurut Yunahar penyampaian dari Tabligh Akbar ke Tabligh Akbar tidak membawa dampak signifikan.

Ia mencontohkan, dalam penanggulangan faham Syi’ah hendaknya pembinaan dilakukan secara konsisten. Misalnya dengan membina satu komunitas sebanyak 10 hingga 20 orang dalam satu kampung. Tak hanya meluruskan faham, da’i juga harus memberikan perhatian dan perubahan kehidupan komunitas yang dibina.

“Kalau mubalighnya cuma keliling terus, ceramah disana sini, itu nggak akan berhasil karena sifatnya hanya syiar saja. Kalau cuma bertabligh, ramai ramai, apalagi tuntutan pasar harus lucu, pulang jamaah dapatnya hanya lucu,” jelasnya

Oleh karena itu, ia meminta Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Muhammadiyah menyiapkan mubaligh-mubaligh yang punya komitmen dan konsistensi.”Maka majelis tabligh harus siapkan pembinaan intensif. Harus ada orang yang komit dan punya waktu untuk membina secara konsisten dan tekun,” pungkasnya.[IZ]