Jakarta (Panjimas.com) — Dalam konferensi pers yang berlangsung selama kira-kira satu jam di Hotel Crown Plaza, Jakarta, Ahad (18/3), mubaligh asal Texas, Amerika Serikat, Syekh Yusuf Estes bicara tentang Islamophobia, perkembangan dakwah Islam di Amerika Serikat serta soal toleransi. Ia juga sempat menyinggung tentang kepemimpinan di Pakistan.

Menurut Syekh Yusuf Estes, Islamophobia merupakan momok yang sengaja diciptakan untuk menghalau perkembangan Islam. “Islamophobia diciptakan oleh orang-orang jahat. Mereka ingin menggambarkan seolah Islam menakutkan,” katanya dalam konferensi pers.

“Islamophobia yang kini marak di berbagai negara termasuk Indonesia, harus dilawan dengan mengabarkan keindahan Islam. Perdengarkan Islam yang baik, Islam yang sebenarnya,” katanya.

Dia mencontohkan pengalamannya saat membangun kanal Guide US TV yang merupakan TV Islam pertama di Amerika Serikat dan Kanada. “Awalnya saya tidak berniat membesarkan TV, karena pekerjaan sebenarnya adalah apa yang kita lakukan untuk masyarakat,” kisahnya.

Namun dia mengaku terkejut oleh begitu banyak dukungan yang diberikan oleh masyarakat Amerika untuk Guide US TV. “Banyak orang datang dan mengeluarkan uang (untuk donasi), padahal banyak dari mereka bukan muslim. Beberapa orang menghubungi saya dan mengatakan “saya menyukai apa yang Anda lakukan tapi saya tidak akan menjadi seorang muslim”. Go ahead,” tuturnya.

Dakwah, lanjutnya bukan hanya tentang berapa banyak orang yang mengucapkan syahadat, karena hidayah merupakan hak Allah. Tapi lebih dari itu, dakwah adalah cara untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan keindahan Islam kepada dunia.

Yusuf Estes terlahir dengan nama Joseph Estes lahir pada 1 Januari 1944 di Midwest, Amerika Serikat. Ia lahir dari keluarga Kristen yang taat. Keluarganya secara turun-temurun membangun gereja dan sekolah di AS.

Ia menempuh pendidikan dasar di Houston, Texas. Semasa kecil, ia selalu menghadiri gereja secara teratur. Ia dibaptis pada usia 12 tahun di Pasadena, Texas.

Keingintahuannya yang besar terkait ajaran Kristen membuatnya ingin mengunjungi gereja-gereja lain. Ia datangi gereja Metodis, Episkopal. Nazareth, Agape, Presbyterian dan lainnya.

Tak hanya itu, Estes juga mempelajari agama lain seperti Hindu, Yahudi, dan Buddha. “Saya tidak menaruh perhatian serius pada Islam. Inilah yang banyak ditanyakan oleh teman-temanku,” kenang dia.

Uniknya, ia justru kemudian masuk Islam dan meninggalkan agama lamanya. Estes masuk Islam pada 1991. Ia adalah pendiri dan presiden Guide US TV, saluran TV satelit dan TV free-to-air, yang menyiarkan program tentang Islam. (ass)