JENEWA, (Panjimas.com) – Populasi penduduk yang tinggal di daerah yang sulit dijangkau dan dikepung di Suriah kini menurun. Hal ini diakibatkan oleh “pertempuran mengerikan” di daerah padat penduduk, demikian penjelasan Penasihat Kemanusiaan PBB untuk Suriah, Kamis (03/05).

Saat berbicara pada konferensi pers di Jenewa, Jan Egeland berkata: “Ketika kami melihat kembali satu tahun yang lalu, ada 4,6 juta orang yang tinggal di daerah yang sulit dijangkau dan 625.000 orang di wilayah yang terkepung, dikutip dari AA.

“Hari ini, 2 juta orang tinggal di daerah yang sulit dijangkau, kurang dari separuh, dan 11.000 orang kini tinggal di daerah yang terkepung,” pungkasnya.

Jumlah yang diungkapkan PBB ini menunjukkan penurunan sangat drastis populasi penduduk Suriah yang tinggal di daerah krisis.

“Ini menjadi penyebab pertempuran yang mengerikan di daerah-daerah padat penduduk,” imbuh Jan Egeland.

Sejak awal 2011, Suriah telah menjadi medan pertempuran, ketika rezim Assad menumpas aksi protes pro-demokrasi dengan keganasan tak terduga — aksi protes itu 2011 itu adalah bagian dari rentetan peristiwa pemberontakan “Musim Semi Arab” [Arab Spring].

Sejak saat itu, lebih dari seperempat juta orang telah tewas dan lebih dari 10 juta penduduk Suriah terpaksa mengungsi, menurut laporan PBB.

Sementara itu Lembaga Pusat Penelitian Kebijakan Suriah (Syrian Center for Policy Research, SCPR) menyebutkan bahwa total korban tewas akibat konflik lima tahun di Suriah telah mencapai angka lebih dari 470.000 jiwa. [IZ]