JOMBANG, (Panjimas.com) – Perhatian bangsa Indonesia termasuk umat Islam terhadap kebangkitan komunisme mulai redup. Padahal, upaya sistematis membangkitkan kembali faham terlarang itu cukup terasa.

Oleh sebab itu, Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang bersama Yayasan Masyarakat Peduli Sejarah menyusun langkah-langkah untuk menghalau kebangkitan PKI. Upaya yang dilakukan tidak hanya ‘mengamankan’ para saksi dan bukti-bukti sejarah, namun juga melakukan langkah-langkah edukatif.

Hal ini dilakukan agar sejarah pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap negara tidak dilupakan. Terlebih pemberontakan yang dilakukan PKI dan menelan korban dari kalangan TNI dan umat Islam.

“Sebagian besar masyarakat tidak percaya kepada bangkitnya PKI. Memang tidak mungkin PKI bangkit kalau dengan nama PKI, tapi kan bisa bernama lain,” ujar Pengasuh Ponpes Tebireng, KH. Dr. (H.C.) Ir. H. Salahuddin Wahid. Ahad, (29/4).

Lanjutnya, masyarakat tentu tidak bisa menutup mata dan telinga. Terlebih kewaspadaan TNI akan kebangkitan PKI kembali. Salah satunya, ditandai dengan pemutaran kembali film G-30S/PKI. Meskipun hal ini sempat menimbulkan pro dan kontra.

“Bisa jadi TNI berlebihan, tapi bisa juga tidak. Tapi, mereka punya intelejen untuk mengumpulkan banyak informasi, kami pun punya infomasi. Maka kami mewaspadai,” tuturnya.

BANSER didirikan untuk Melawan PKI

Kyai Sepuh yang akrab disapa Gus Solah itu, mengatakan Pondok Pesantren Tebuireng konsisten melawan PKI dan mencegah kebangkitannya. Terlebih pendahulu pesantren Tebuioreng KH. Yusuf Hasyim dan KH Kholiq Hasyim terlibat dalam pertempuran fisik melawan PKI.

“Kami melanjutkan apa yang dilakukan pendahulu saya, KH. Yusuf Hasyim itu pendiri Banser yang didirikan untuk melawan BTI (Barisan Tani Indonesia) dan Pemuda Rakyat,” ujarnya.

Gus Sholah menuturkan saat itu terjadi aksi sepihak oleh BTI yang didukung pemuda rakyat untuk menjarah tanah milik pesantren. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1963/1964.

“Itu merupakan fakta sejarah yang tidak bisa ditutup-tutupi. Dan kita keberatan kalau G30S disebut tidak ada kaitannya dengan PKI, sebab pasti ada kaitannya dengan PKI. Maka kebangkitan komunis harus kita waspadai,” tegasnya.

Upaya Edukatif

Meskipun demikian, KH. Sholahudin Wahid mengingatkan dalam situasi saat ini umat hendaknya tidak sembarangan menuduh. Sebab, jika asal menuduh, dapat berhadapan dengan hukum. Oleh sebab itu, hendaknya upaya menghalau kebangkitan komunis dilakukan dengan cara lebih preventif.

Ruang-ruang pendidikan dinilai menjadi sarana yang cukup efektif untuk kembali menguatkan kembali ingatan bangsa Indonesia bahwa PKI pernah melakukan pemberontakan. Sehingga, seluruh elemen bangsa dapat mengambil peran untuk menghalau berbagai upaya membangkitkan kembali faham terlarang ini.

“Harus mengingatkan guru-guru sejarah dan guru pesantren, bahwa PKI pernah melakukan pemberontakan tahun 1948 dan 1956, tahun 1945 juga melakukan pemberontakan meskipun skalanya kecil”, imbuhnya.[IZ]