Haruskah Pacaran ?

Judul Buku : Pacarmu Belum Tentu Jodohmu

Penulis : Muhammad Syafi’ie el- Bntanie

Penerbit : Wahyu Qalbu ( PT Wahyumedia)

Tahun Terbit : 2014

Tebal : x + 206 Halaman

ISBN : 979 795 877 9

(Panjimas.com) – Kata pacaran sudah tak asing di telinga kita. Bukan saja orang dewasa, saat ini anak kecil yang masih sekolah dasar juga sudah mengenal pacaran. Gaya pacaran saat ini juga berbeda dengan dulu. Kalau zaman dulu orang pacaran paling jalan berdua atau hanya sekedar ngobrol berdua. Namun saat sekarang, cara pacaran sudah semakin parah sampai ada yang berani melakukan hubungan seks di luar nikah. Hal ini akibat banyaknya diantara kita yang salah dalam memaknai cinta tersebut. Buku “Pacarmu Belum Tentu Jodohmu ini membahas soal pacaran dan memberikan kepada kita solusi yang seharusnya kita tempuh jika terjebak dengan pacaran serta bagaiamana seharusnya kita dalam menjemput jodoh. Buku ini merupakan tulisan dari Muhammas Syafi’ie el- Bantanie. Ia merupakan seorang penulis muda yang produktif. Saat ini sudah ada 40 bukunya yang sudah diterbitkan dan beberapa diantaranya diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan beredar di Malaysia dan Singapura.

Tak bisa dibantahkan lagi pacaran telah banyak memakan korban (hlm 2). Buku ini diawali dengan beberapa kisah tentang tragedi pacaran. Kisah yang membuat kita miris membacanya. Betapa tidak akibat salah dalam memaknai cinta, mereka harus kehilangan masa depannya. Bahkan ada yang sampai keluarganya menanggung malu akibat hamil di luar nikah. Hal ini akibat mereka salah dalam memaknai cinta tersebut dengan pacaran.

Cinta merupakan fitrah manusia. Di dalam islam juga tidak ada larangan dalam jatuh cinta. Akan tetapi islam memberikan aturan dalam memakanai cinta tersebut sehingga kita tetap berada di dalam aturan islam. Namun saat ini banyak remaja bahkan anak kecil yang salah memaknai cinta tersebut dengan pacaran. Bahkan saat sekarang beberapa orang tua memberikan mereka izin pacaran sehingga membuat si anak dengan mudahnya untuk melakukannya.

Seorang pacar bukanlah siapa- siapa. Dia sama dengan orang lainnya, oleh karena itu mengapa harus mengistimewakannya. Baik secara agama maupun hukum, tidak ada status seorang pacar. Dia tetaplah orang asing. Namun kenapa begitu banyak pengorbanan yang dilakukan demi orang yang belum tentu jodoh kita. Mulai dari waktu, perasaan, uang, bahkan harga diri. Tanpa mereka sadari berapa banyak kerugian yang telah mereka alami. Selain itu tak jarang kita jumpai mereka yang rela berbohong dengan orang tua mereka demi bisa bertemu dengan sang kekasih. Alangkah kecewanya orang tua mereka seandainya mereka mengetahui telah di bohongi anaknya sendiri.

Pacaran itu seperti beli mangga ( hlm 41). Setelah di pegang- pegang, di cium, belum tentu dibeli. Begitu juga dengan pacaran, setelah di pegang- pegang, bahkan di cium namun belum tentu jadi menikah. begitu banyak dosa dan kerugian yang telah dilakukan, terutama bagi perempuan. Oleh karena itu, pacaran tersebut memang seharusnya dilarang seperti yang ditegaskan agama islam. Islam melarang pacaran demi menjaga kesucian cinta tersebut, serta menjaga serta memuliakan kehormatan seorang perempuan.

Pacaran bukti nafsu, sedangkan nikah adalah bukti cinta ( hlm 75). Saat seseorang jatuh cinta, hal yang terbaik adalah menikah. Namun banyak alasan seseorang untuk menunda menikah mulai dari belum siap, masih sekolah, belum bekerja, atau belum ada restu orang tua. Sebagai seorang muslim seharusnya kita bisa mengelola perasaan tersebut dengan tidak pacaran. Namun sayangnya remaja sekarang memilih pacaran dengan berbagai alasan. Mulai dari ikut tren saat sekarang sampai untuk penjajakan agar saling mengenal. Padahal islam sudah menjelas cara yang baik mengenal pasangan sebelum menikah dengan ta’aruf.

Memilih sendiri saat belum siap menikah adalah pilihan yang tetap karena kita akan lebih fokus menggunakan waktu, uang, tenaga, dan pikiran dalam meraih prestasi. Selain itu kita juga lebih bisa mempersiapkan diri lebih baik untuk menyambut jodoh yang sudah disediakan Tuhan untuk kita pada waktu yang tepat. Selain itu kita bisa langsung mempersiapkan diri menikah tampa harus melalui pacaran yang akan mendekatkan kita kepada maksiat.

Bagian lain buku ini penulis menuliskan beberapa kisah inspiratif dari orang- orang yang menikah tampa pacaran. Diantaranya, Ustadz Yusuf Mansyur, Ustadz Falix Siauw, dan beberapa kisah lainya. Sebagai penutup penulis menuliskan doa penarik jodoh agar kita mendapatkan jodoh yang baik.

Biodata Peresensi:

Nama: Emalia Nora

Blog: cahayaemalia.blogspot.com