Rahasia Kehebatan Madu yang Terungkap oleh Kedokteran Modern

(Panjimas.com) – Para ahli sejarah menyebutkan bahwa Phytagoras hidup dalam usia lebih dari sembilan puluh tahun. Makanan pokoknya sehari-hari terdiri dari roti dan madu.

Diskusi tentang madu mendapat banyak perhatian dalam artikel-artikel yang dipublikasikan selama beberapa tahun belakangan ini majalah-majalan kedokteran yang terpercaya.

  1. Bakteri Tidak Mampu Melawan Madu

Demikian judul sebuah artikel yang dipublikasikan di Majalah Dis Lancet Infect, bulan Februari 2003 M. Dalam artikel ini. Dr. Dixon menegaskan adanya kekuatan besar di dalam madi yang mampu mengalahkan bakteri, di mana bakteri bakteri itu tidak mampu bertahan di hadapan madu.

Hasil terakhir adalah bahwa madu melawan pembusukan oleh bakteri dan mempercepat pulihnya luka-luka, luka bakar, dan luka borok.

  1. Pengunaan Madu Sebagai Antiluka

Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan dalam Majalan Ann Plast Surg, bulan Februari 2003 M, dilakukan penelitian terhadap 60 pasien berkebangsaan Belanda yang terkena luka dalam, yang bermacam-macam, meliputi luka-luka menahun (21 pasien), luka-luka kompleks (23 pasien), dan luka memar yang parah (16 pasien).

Para peneliti menyatakan bahwa penggunaan madu mudah dilakukan bagi semua pasien.

  1. Madu dan Kesehatan Mulut

Profesor Amoln menegaskan dalam sebuah artikel yang dipublikasikan oleh Majalan Dentgen pada bulan Desember 2001 M, bahwa madu bisa memainkan peran penting dalam pengobatan penyakit-penyakit gusi, sariawan, dan berbagai ganguan mulut lainnya, hal itu disebabkan madu memiliki spesifikasi anti bakteri.

  1. Madu dan Pengobatan Infeksi Selaput Lendir Akibat Radiasi

Dalam sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Majalan Support Care Cancer, pada bulan April 2003 M, telah dilakukan terhadap empat puluh pasien yang mengidap kanker di kepala dan leher dan mereka itu membutuhkan penyinaran (radio terapy).

Para peneliti berkesimpulan bahwa pemberian madu secara lokal pada saat dilakukannya radioterapi merupakan metode terapi yang efektif, serta tidak memberatkan untuk mencegah terjadinya infeksi selaput di lendir.

  1. Antara Madu dengan Infeksi Lambung (Maagh) dan Tukak Lambung

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam Majalah Pharmacolres tahun 2001 M, para peneliti menyatakan bahwa madu bisa membantu pengobatak infeksi lambung.

  1. Madu dan Kulit Kepala

Madu berkhasiat membunuh bakteri, sekaligus berfungsi sebagai anti jamur dan antioksidan, serta memliki kandungan gizi yang tinggi, maka seorang peneliti bernama Dr. Wailial telah melakukan sebuah penelitian untuk mengetahui pengaruh madu dalam mengobati dermatitis (infeksi kulit) karena minyak dan ketombe.

Hasil peneliannya dipublikasikan dalam majalah Eurjmealres pada tahun 2001 M. Ia telah mempelajari 31 pasien yang terkena infeksi kulit karena minyak yang kronis yang mengenai kulit kepala, wajah, dan bagian depan dada.

Para pasien diminta memakai cairan madu dengan konsentrsi 90% (madu yang dicamput air hangat) dua hari sekali di bagian-bagian yang terinfeksi di kepala dan wajah sambil diurut-urut pelan terus-menerus selama 2-3 menit. Madu tersebut dibiarkan selama kurang lebih tiga jam sebelum dicuci dengan air hangat.

Terapi ini dilakukan selama empat pekan, ternyata masing-masing pasien merespon baik sekali terapi ini. Gatal dan ketombe mereka hilang selama satu minggu, sedangkan penyakit-penyakit kulit sembuh dalam jangka waktu dua minggu.

  1. Madu dan Pengobatan Kencing Manis

Madu bisa menurunkan kadar gula di dalam darah para pengidap penyakit diabetes. Madu merupakan nutrisi kaya vitamin B1-B5-C, dimana para pengidap diabetes sangat membutuhkan vitamin-vitamin ini.

Madu mengandung sekitar seratus unsur yang berbeda-beda yang tergolong sangat penting bagi tubuh manusia, khususnya bagi para pengidap diabetes.

 

Buku: Keajaiban Thibbun Nabawi

Penulis: Aiman bin ‘Abdul Fattah