(Panjimas.com) 

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintahNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya).” (an-Nahl: 12),

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (ar-Ra’d: 4),

“Dan mereka berkata, ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.’” (al-Mulk: 10).

Ayat-ayat di atas berbicara tentang peran vital akal dalam kehidupan manusia. Dengan akal (dan hati), pesan-pesan Allah swt dalam wahyu maupun alam dapat dicerna. Manusia menjadi mampu mengenal Allah swt, dirinya, eksistensi dirinya dan makhluk lain di sekitarnya. Kebajikan dan keburukan dapat dibedakan.

Seorang ulama salaf, Ibnu Taimiyyah ra menulis di dalam kitabnya, tentang vitalnya akal bagi diri manusia:

“… (Maknanya yaitu) tidak berakal dan tidak punya tamyiz (daya pemilah)… Bagaimanapun (hal itu) tidak terpuji dari sisi itu, sehingga tidaklah terdapat dalam kitab Allah swt serta dalam Sunah Rasulullah saw pujian dan sanjungan bagi yang tidak berakal serta tidak punya tamyiz dan ilmu. Bahkan Allah swt telah memuji amal, akal, dan pemahaman, bukan hanya dalam satu tempat, serta mencela keadaan yang sebaliknya di beberapa tempat…” (al-Istiqamah: 2/157).

Islam menjadikan akal sebagai satu dari lima hal yang harus dilindungi, yakni, agama, akal, harta, jiwa, dan kehormatan. Bukti kevitalan akal di antaranya, ia dijadikan oleh Allah swt sebagai tempat bergantungnya hukum. Orang yang tidak berakal tidaklah dibebani hukum.

“Pena diangkat dari tiga golongan: orang yang gila yang akalnya tertutup sampai sembuh, orang yang tidur sehingga bangun, dan anak kecil sehingga baligh.” (Hr. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan ad-Daruquthni. al-Albani mengatakan shahih dalam Shahih al-Jami’: 3512).

Oleh karena itu, akal waras akan terbersit pikiran, bahwa akal dan wadahnya (otak) harus dijaga, dirawat, dipelihara, agar tetap dapat berfungsi sebagaimana mestinya, secara optimal, sepanjang usia. Di dalam al-Qur’an terdapat ayat larangan mengonsumsi minuman memabukkan (khamr). Di sana teremuat pesan bahwa akal harus dijaga kondisinya, kesehatannya, keselamatannya.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (al-Maidah: 90).

Rasulullah saw memerjelas dengan,

“Setiap yang memabukkan itu haram.” (Muttafaqun ‘alaihi).

asy-Syinqithi ra berkomentar, “Dalam rangka menjaga akal, maka wajib ditegakkan had bagi peminum khamr.” (al-Islam Dinun Kamil, hlm. 34-35).

Penjagaan akal dan wadahnya (otak) yang dimaklumi sebagai organ amat vital, juga menjadi kebutuhan amat vital pula. Akal adalah sesuatu yang berada dalam jasmani makhluk, maka ia memiliki sifat lemah.

Otak, sebagai “wadah” akal, terletak di dalam rongga tengkorak, yang didindingi oleh tulang-tulang tengkorak yang sangat keras, kecuali di bagian bawah, tempat persambungan dengan sumsum tulang belakang.

Otak merupakan pusat pengendali sistem syaraf pusat. Otak manusia terdiri lebih dari 100 miliar syaraf yang masing-masing terkait dengan 10 ribu syaraf lain. Otak mengatur dan mengoordinir sebagian besar gerakan, perilaku, dan fungsi tubuh homeostasis, seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh, dan suhu tubuh. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti, pengenalan, emosi, ingatan, pembelajaran motorik, dan semua bentuk pembelajaran lain.

Secara fisik, kualitas otak dapat dibangun dengan menerapkan pola hidup berikut:

1. Makan teratur dan seimbang, dan mengonsumsi makanan yang mengandung Vitamin B kompleks,
2. mengonsumsi ikan yang banyak mengandung Omega 3,
3. berolahraga,
4. melakukan kerja fisik,
5. beristirahat cukup,
6. menjaga kepala dari benturan,
7. belajar bahasa asing sedikitnya dua bahasa (meningkatkan kemampuan kognitif otak),
8. serta bermain game puzzle, catur, dll.

Sembari itu, jangan lupa menghindari gaya hidup seperti berikut:

1. Tidak mau sarapan pagi (menyebabkan turunnya kadar gula dalam darah yang berakibat berkurangnya masukan nutrisi untuk otak),
2. kebanyakan makan, terutama makanan yang banyak mengandung glukosa (menyebabkan pengerasan pembuluh darah yang akan menghambat penyerapan protein dan gizi lainnya untuk otak),
3. menghindari makanan siap saji,
4. tidak merokok (merokok berakibat menyusutnya volume otak, yang akhirnya menghilangkan fungsinya dan menghambat perkembangannya),
5. menghindari polusi udara, karena otak adalah bagian tubuh yang paling banyak menyerap udara,
6. kurang tidur,
7. berpikir terlalu keras ketika sedang sakit,
8. kurangnya stimulasi otak (malas berpikir),
9. serta enggan berdiskusi (percakapan intelektual berdampak bagus bagi kinerja otak).

Mari kita jaga akal dan otak kita, agar menjadi hamba Allah swt yang mengenal dan bertaqwa kepadaNya, agar dapat memberi arti kepada sesama! Wallahu a’lam. [IB]