(Panjimas.com) – Muslim Indonesia kini bisa dibilang tak asing lagi dengan siwak. Adalah batang kayu sebesar jari sepanjang 15-20 cm berwarna krem yang dijual di toko-toko herbal, yang fungsinya untuk menggosok gigi. Tapi mungkin hanya sebatas itu yang kita tahu. Bagian pohon apakah ia, berasal dari mana, sejak kapan digunakan, mengapa dipilih sebagai alat pembersih gigi, banyak dari kita belum mengetahuinya.

Batang kayu kecil yang kita kenal dengan nama siwak adalah akar atau ranting pohon arak (Salvadora persica). Pohon arak termasuk pohon berukuran kecil (semak) yang tumbuh di Jazirah Arab dan sebagian benua Afrika. Batang siwak beraroma mirip selederi dan terasa agak pedas segar bila digigit. Setelah dikelupas kulit kayunya dan batang kayunya digigit-gigit, akan membentuk seperti kuas, berserat-serat lembut. Serat inilah yang difungsikan sebagai sikat gigi.

Penggunaan siwak sebagai alat pembersih gigi sudah berlangsung sejak sangat lama. Pada 7000 tahun silam bangsa Babilonia sudah mengenal dan menggunakannya. Bangsa Yahudi dan Mesir tercatat menjadi penggunanya pada zaman Romawi dan Yunani Kuno. Sementara dalam tradisi Islam, penggunaan siwak terbilang sangat populer dari dulu hingga sekarang.

Penggunaan siwak dalam tradisi Islam terbukti tetap lestari hingga zaman modern yang telah memerkenalkan cara baru membersihkan gigi, yakni dengan sikat dan pasta gigi. Bahkan seiring berkembangnya teknologi transportasi, penggunaan siwak semakin meluas hingga di negara-negara yang bukan penghasil pohon arak, termasuk Indonesia. Uniknya, hal ini cenderung didorong oleh semangat spiritualitas kaum Muslim. Kaum Muslim di berbagai penjuru dunia meyakini bahwa penggunaan siwak merupakan anjuran sosok suri tauladan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Berdasarkah dalil-dalil yang berhasil dihimpun, ulama menetapkan hukum penggunaan siwak sebagai ibadah sunah. Berikut ini beberapa hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam yang berbicara tentangnya.

“Siwak merupakan kebersihan bagi mulut dan keridhaan bagi Rabb.” (Hr. Ahmad),

“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku, maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudhu.” (Hr. Bukhari dan Muslim),

“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku, maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat.” (Hr. Bukhari dan Muslim),

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku melihat Rasulullah menatap siwak, maka aku pun tahu bahwa beliau menyukainya. Lalu aku berkata, ‘Aku ambilkan siwak tersebut untuk engkau?’ Maka Rasulullah mengisyaratkan dengan kepalanya tanda setuju.” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Prinsip dan ajaran Islam selalu terbukti sejalan dengan sains. Studi ilmiah yang dilakukan sejak abad ke-19 mengatakan bahwa pohon arak (Salvadora persica) memiliki fungsi anti-urolithiatik. Serat pohon ini memiliki berbagai macam kandungan yang bermanfaat bagi kesehatan gigi dan mulut, seperti: Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluoride, Silica, Sulfur, Vitamin C, Trimethyl amine, Salvadorine, Tannins, dan beberapa mineral lain. Mereka berfungsi membersihkan, memutihkan, dan menyehatkan gigi dan gusi. Dan yang pasti itu semuanya merupakan zat alami, bukan hasil rekayasa teknologi modern.

Lebih detailnya, Trimethyl amine dan Vitamin C berfungsi membantu penyembuhan dan perbaikan jaringan gusi, Klorida berperan sebagai penghilang noda pada gigi, Silica sebagai penggosok, Sulfur dikenal dengan rasa hangat dan baunya yang khas, dan Fluoride berguna sebagai pencegah karies dengan cara memerkuat lapisan email dan menghambatnya terlarut asam yang dihasilkan oleh bakteri.

Karena siwak seutuhnya merupakan bahan alami yang tidak mengandung racun, ia tidak bersifat destruktif bagi tubuh. Menggunakan siwak tidak menimbulkan kerusakan tubuh seperti bila menggunakan bahan pembersih sintetis. Di samping itu, pengaruhnya terhadap lingkungan jelas jauh lebih baik daripada sikat dan pasta gigi buatan pabrik. Sampah siwak yang bersifat organik akan terurai di alam menjadi penyubur tanah. Berbeda dengan sikat dan pasta gigi keluaran pabrik yang terbuat dari plastik dan bahan sintetis lainnya, sampahnya menjadi persoalan besar bagi kehidupan di bumi. Belum lagi proses produksinya yang tentu saja menimbulkan pencemaran lingkungan.

Alhamdulillah, kini sudah ada upaya penanaman pohon arak di Indonesia. Bila pohon asal Jazirah ini berhasil dikembangkan di negara ini, insya Allah akan menjadi sumbangsih bagi kemajuan kesehatan, ekonomi, ekologi, sekaligus budaya, bagi bangsa Indonesia. Dengan kata lain, Allah subhanahu wa ta’ala akan menambah barakahNya untuk bangsa ini, sebagaimana firmanNya,

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi ….” (al-A’raf: 96).

Wallahu a’lam. [IB]