(Panjimas.com) – Seperti disampaikan pada edisi lalu, di bumi ini tumbuh berbagai varietas/jenis buah kurma. Salah satunya dan yang paling terkenal adalah Ajwa. Kurma Ajwa berbentuk bulat panjang berwarna kehitaman kala sudah matang. Rasanya manis dan legit, kandungan nutrisinya selangit. Ia menjadi oleh-oleh haji favorit.

Kurma Ajwa merupakan jenis kurma kesukaan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Pantaslah bila kurma asal Madinah ini juga lazim disebut kurma nabi. Suatu hari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu mendengar beliau mengungkap khasiat buah manis ini.

“Barang siapa makan tujuh buah Kurma Ajwa di pagi hari, maka racun dan sihir tidak akan membahayakannya pada hari itu.” (Hr. Bukhari).

Tak cuma gangguan fisik, pengaruh sihir pun dapat ditangkal dengan buah gurun ini. Hal ini harus diyakini karena informasinya dari seorang nabi. Segala perkataan dan tindakan nabi adalah bimbingan Illahi. Menurut praktisi ruqyah syar’iyah, memang ada sejumlah hasil bumi yang tidak disukai oleh jin. Salah satunya adalah Kurma Ajwa.

Kandungan Kurma Ajwa pada dasarnya sama dengan kurma varietas lainnya. Namun di balik nama besar buah yang juga lazim disebut Kurma Nabi ini, terdapat cerita tersendiri. Nama Ajwa adalah pemberian Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam. Pohonnya tumbuh di sebuah kebun yang mengesankan. Mengesankan karena ia merupakan kebun wakaf seorang shahabat.

Adalah Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, seorang berkebangsaan Persia mantan penganut Majusi yang merupakan inisiator dan kreator parit perlindungan dalam perang Khandaq. Suatu hari teknokrat medan tempur ini mewakafkan kebun kurmanya untuk kepentingan perjuangan Islam. Sebagai tanda pengingat agar kaum Muslim mengambil ibrahnya, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam menamai buah kurma hasil kebun itu dengan nama anak Salman, Ajwa. Beliau suka mengonsumsi kurma ini. Selain dalam keseharian, beliau biasa menjadikannya sebagai menu ifthar (buka puasa).

“Jika salah seorang di antara kalian berbuka puasa, maka makanlah buah kurma. Karena ia mengandung keberkahan. Jika tidak mendapatkan kurma, maka dengan minum air putih, karena ia adalah simbol kebersihan.” (HR. Abu Dawud).

Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam juga mengajak umatnya belajar dari sejarah. Beliau mengungkap faedah buah kurma bagi ibu hamil dan menyusui.

“Berikan buah kurma kepada istri-istrimu yang sedang hamil, karena jika wanita hamil makan kurma, niscaya bayi yang lahir kelak akan menjadi anak yang penyabar, bersopan santun, serta cerdas. Sesungguhnya makanan Maryam saat melahirkan Isa adalah kurma. Sekiranya Allah menjadikan suatu buah yang lebih baik daripada buah kurma, maka Allah telah memberikan buah itu kepada Maryam.” (Hr. Bukhari).

Kurma juga bermanfaat membantu memudahkan proses persalinan. Waktu Maryam melahirkan Isa ‘alaihissalam sendirian tanpa dibantu bidan, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahnya melalui Jibril ‘alaihissalam untuk mengunduh buah kurma di atasnya dengan cara menggoyang pangkal pohon yang dipakainya bersandar, untuk dimakan.

“Maka dia (Maryam) mengandung, lalu dia mengasingkaan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Lalu rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia (Maryam) berkata, ‘Wahai, betapa baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi orang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.’ Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, ‘Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (Maryam: 22-25).

Manfaat kurma bagi ibu hamil dan menyusui dapat dianalisis dalam sains. Di antara kandungan buah kurma adalah zat besi dan kalsium. Kedua mineral tersebut sangat dibutuhkan dalam pembentukan sumsum dan tulang janin, serta meningkatkan produksi air susu ibu yang berkualitas yang merupakan makanan ideal pertama dan utama bagi bayi. Kurma juga baik bagi perkembangan otak. Bagi ibu, kurma menjadi sumber energi yang menghalau rasa lemas. Ia pun memenuhi kebutuhan nutrisi yang diperlukan tubuh.

Kurma yang sedemikian bernas faedahnya, seyogianya dikembangkan dengan baik di era modern ini. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa membimbing para petani Kurma Ajwa, pun kurma-kurma varietas lainnya, untuk mengembangkannya dengan sistem pertanian alami dan berkelanjutan (natural and sustainable agriculture) agar kualitas dan produktivitasnya berkembang dan lestari, generasi-generasi mendatang tetap bisa menikmati. Semoga Dia juga melapangkan rejeki kita yang berdomisili jauh dari Jazirah, sehingga mampu menghidangkan kurma ajwa untuk istri tercinta, untuk keluarga, aamiin. Wallahu a’lam. [IB]