(Panjimas.com) – Membahas perihal kebersihan badan, makanan, dan pakaian, kali ini kita akan coba merenungi masalah kebersihan lingkungan. Di negeri ini, sejak penulis masih kanak-kanak, anak SD sudah mengerti teori di mana seharusnya sampah diletakkan; sudah hafal semboyan “Kebersihan pangkal kesehatan”. Tapi apa yang terjadi saat ini? Apa yang kita saksikan di sekitar tiap hari?

Sampah berserakan di mana-mana. Nyaris bisa dikatakan bahwa penduduk negeri ini hanya bisa melihat lingkungan bersih ketika berada di luar negeri. Di negeri sendiri, lingkungan bersih hanya bisa disaksikan dalam gambar hayal, atau foto sebuah kota di luar negeri.

Di negeri ini, sejak penulis masih kanak-kanak, anak SD sudah mengerti teori di mana seharusnya sampah diletakkan; sudah hafal semboyan “Kebersihan pangkal kesehatan”. Tapi apa yang kita saksikan setiap hari? Sampah berserakan di mana-mana. Dan yang membuat penulis tak habis pikir, mengapa pemandangan itu tak hanya bisa dijumpai di tepi jalan dan pojok perempatan tempat nongkrong anak jalanan? Mengapa di lingkungan perguruan tinggi ternama, sekolah favorit, Sekolah Islam Terpadu, bahkan pondok pesantren, juga selalu tampak sampah berserakan? Sungguh, penulis sangat terheran-heran.

Masjid, kita semua mafhum bahwa ia adalah tempat kaum Mukmin bersujud, berkomunikasi intim dengan Rabbnya. Masjid, ia bangunan pertama yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dirikan setelah hijrah, yang kemudian dijadikannya pusat pemberadaban umat. Tapi mari kita tengok kondisi lingkungan masjid-masjid kita sekarang. Sudahkah mereka terbebas dari serakan sampah? Coba lihat halamannya, longok pot bunganya, intip kamar mandiny! Bukan soal bila daun kering yang gugur dari ranting. Tapi yang terserak itu plastik bungkus camilan, botol minuman, puntung rokok, dan sebagainya. Umat yang tidak menghormati tempat ibadahnya sendiri adalah realitas Muslim negeri ini!

Kebersihan lingkungan dan kesehatan memiliki keterkaitan mutlak, tak bisa dipisahkan dengan logika apa pun juga. Kesehatan umat terpelihara bila kebersihan lingkungan terpelihara. Semboyan yang diajarkan di sekolah itu benar adanya.

Mari berubah, kita ciptakan lingkungan yang bersih dari sampah. Sampah dalam berbagai bentuknya: padat, cair, maupun gas. Membakar sampah plastik bukan cara membersihkan lingkungan, karena hanya mangubahnya dari padat menjadi gas. Asap bakaran plastik dan sampah anorganik lainnya bersifat mengganggu kesehatan, terutama sistem pernafasan.

Lalu harus bagaimana? Nah, di sinilah kita sadar bahwa persoalan sampah bukanlah pekerjaan ringan yang boleh dikesampingkan. Ia persoalan besar yang akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah ta’ala sebagai Dzat pemelihara lingkungan.

Allah ta’ala adalah Sang Maha Pemelihara lingkungan. Dalam aktualisasinya, Dia menyerahkan mandat pemeliharaan itu kepada manusia.

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi ….” (al-Baqarah: 30).

Agar bisa melaksanakan tugas dengan baik, Allah ta’ala membekali manusia dengan potensi unggul yang tak dimiliki makhluk lain.

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak maukhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (al-Isra’: 70).

Allah ta’ala telah sedemikiannya mengistimewakan manusia. Sebagai Mukmin, kita harus tahu dari dan mensyukurinya dengan cara melaksanakan tugas dan tanggung jawab pemeliharaan lingkungan dengan sebaik-baiknya. Kita pun harus faham bahwa mengesampingkan kebersihan lingkungan adalah dosa. Dan seyogianya, kaum Mukmin menjadi yang terdepan dalam mewujudkan kebersihan lingkungan! Wallahu a’lam. [IB]