(Panjimas.com) – Zaman Nabi belum ada kendaraan bermotor berseliweran seperti sekarang. Waktu itu udaranya bersih tak terdampak polutan. Walau padang pasir, walau debu-debu terbang. Wajar kalau Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabat sehat-sehat dan kuat-kuat. Akal mereka juga jernih cemerlang. Masih belia, sudah banyak yang unjuk kebolehan. Maju dalam ilmu din, maju dalam kemiliteran dan kewirausahaan.

Kini, di negeri Nabi sudah banyak kendaraan bermotor berseliweran. Juga di sini, di negeri kita yang dulu penuh pepohonan. Di daerah urban, kemacetan jadi “agenda” harian. Meski kendaraan bermotor sekarang didesain rendah emisi, tapi jumlah unit yang meningkat pesat mengakumulasi polusi menjadi tak kecil lagi. Udara tercemar, suhu meninggi.

Perubahan itu didukung tradisi masyarakat modern yang kurang –kalau tak boleh dibilang tidak– berterima kasih kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menempatkan mereka di negeri tropis yang banyak tanaman dan pepohonan. Tradisi membabat hehijauan diganti bangunan yang katanya demi kemajuan.

Kalau kemajuan diidentikkan dengan suasana urban yang minim pohon dan maksim beton, apakah maknanya masyarakat sehat berarti kemunduran dan membludaknya pasien rumah sakit berarti kemajuan? Berkurang drastisnya tanaman dan pepohonan membuat udara bersih berkurang, air bersih berkurang, bahan pangan “bersih” juga berkurang. Alhasil, mutu kesehatan manusia dan hewan berkurang. Ditambah lagi, kurangnya tanaman dan pepohonan juga mengikis kesehatan secara psikologis.

Di sini kita akan berfokus membahas perihal udara saja. Udara bersih sangat dibutuhkan makhluk hidup yang tinggal di alam dunia: tumbuhan, hewan, dan manusia. Maka itu, Islam mengajarkan agar kita menjaga kualitasnya; tak boleh mencemarinya.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Ruum: 41).

Manfaat udara bersih, khususnya untuk kesehatan umat manusia, ada banyak. Di antaranya membuat kita bisa bernafas secara berkualitas. Idealnya, kita hanya butuh menghirup oksigen untuk bernafas. Di dalam tubuh, oksigen berperan sebagai bahan bakar pengolahan zat gizi yang kemudian akan dihidangkan ke seluruh organ tubuh melalui peredaran darah. Bila udara tercemar, gas-gas lain yang tak dibutuhkan dan bahkan merugikan, akan ikut terhirup dan menimbulkan gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan akibat udara tercemar beraneka macam, dari yang ringan sampai yang mematikan.

Udara yang bersih juga berperan meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan pemulihan energi. Dan secara psikologis, situasi yang segar dengan pemandangan alam penuh tanaman dan pepohonan subur, dengan udara yang rendah polusi, akan mengodisikan jiwa menjadi tenang dan stres berkurang.

Itulah fakta-fakta manfaat udara bersih bagi kesehatan. Karena itu, sebaiknya kita segera sadar untuk mengembalikan bumi menjadi hijau kembali. Di sektor transportasi ada kabar baik, generasi muda Muslim kita banyak yang sedang melakukan riset dan pengembangan kendaraan bertenaga listrik. Semoga semua berhasil baik dan udara kota yang bersih segar tak tercemar akan segera terwujud nyata, seperti di zaman Nabi. Dengan demikian, semoga generasi kini dan nanti akan semakin berkualitas saja seperti para shahabat radhiyallahu ‘anhum. Wallahu a’lam. [IB]