(Panjimas.com) – Shalat Shubuh berjama’ah di masjid berpahala seperti shalat semalam suntuk. Pernahkah kita melakukan shalat semalam suntuk? Tidak tidur, terus bergerak meritualkan rukun-rukunnya, dari Isya’ hingga Shubuh tiba? Tak terbayang bagaimana rasanya.

Tapi Allah subhanahu wa ta’ala sangat mengerti kondisi hamba-hambaNya. Dia menyediakan alternatif lain untuk mendapatkan pahala yang sama: shalat Shubuh berjama’ah.

“Barangsiapa melaksanakan shalat Isya’ berjamaah, maka ia seperti Qiyamullail separuh malam. Dan barangsiapa melaksanakan shalat Shubuh berjama’ah, maka ia seperti Qiyamullail semalam suntuk.” (Hr. Muslim).

Ada pesan spiritual yang amat dalam tersirat di hadits ini. Penunjukan fadhilah menandakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sangat menekankan amalan itu kepada hamba-hamba yang beriman kepadaNya. Amalan yang sangat ditekankan pasti sangat penting dan sarat hikmah serta manfaat, baik bagi si pelaku maupun bagi harmonisasi kehidupan secara luas. Manfaat individu pelakunya pun berpotensi akan memancarkan manfaat dalam bentuk lain kepada sekitar.

Pasti hikmah dan manfaat shalat Shubuh berjama’ah menyentuh berbagai aspek kehidupan. Salah satunya aspek kesehatan. Bangun tidur sebelum atau di waktu shubuh, lalu keluar rumah menuju masjid untuk shalat, berpengaruh sangat baik bagi kesehatan badan dan pikiran. Sains menunjukkan bahwa dalam dua puluh empat jam, udara yang paling bagus kualitasnya adalah ketika masuk waktu fajar yang juga merupakan masuknya waktu shalat Shubuh. Dari situ, kualitas udara berangsur turun hingga terbitlah matahari. Setelah matahari terbit, kualitas udara berada di bawahnya lagi. Singkatnya, sepanjang waktu shubuh itulah kualitas udara berada di puncaknya. Ia sangat baik untuk dihirup. Dan penghirupan udara dalam jumlah banyak terjadi ketika si penghirup sedang beraktivitas, bukan sedang tidur.

Ambil wudlu, ganti baju, buka pintu dan mengayun langkah sampai masjid, dilanjut shalat sunah dan fardhu menjadi aktivitas yang mendorong Si Muslim menghirup udara terbaik dalam jumlah banyak. Apalagi bila jarak rumah dengan masjid cukup jauh dan ditempuh dengan jalan kaki atau sepeda kayuh, tentu gerak nafas jadi lebih serius dan lebih banyak udara yang terhirup.

Tapi sayang, dunia modern kini telah mengikis keindahan Shubuh. Udara terbaik tercemari asap knalpot.  Menuju masjid dengan sepeda motor tidak dilarang, hanya saja pahalanya kurang. Karena langkah kaki yang membuat derajat meninggi dan dosa diampunani berkurang jumlahnya.

“Jika seseorang berwudlu dan menyempurnakan wudlunya, lalu keluar dari rumahnya menuju masjid untuk shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkah pun dari langkahnya kecuali dengan tiap langkah itu akan ditinggikan satu derajatnya, dan akan dihapuskan satu dosanya.” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Tradisi jalan kaki dan bersepeda perlu kita galakkan kembali. Adanya kendaraan bermotor bukan berarti pensiunnya sepeda kayuh dan langkah kaki. Menghadapi modernisasi, seyogianya kita gunakan prinsip: teknologi untuk memudahkan, bukan untuk memanjakan. Kemudahan itu nikmat sedangkan kemanjaan itu bencana yang mengancam hari depan. Mari giatkan shalat Shubuh berjama’ah dan syukuri kaki untuk melangkah! Wallahu a’lam. [IB]